Harta Warisan
 
 
 
Dua bersaudara dari keluarga yang berkecukupan. Setelah kematian kedua
orang tuanya, mereka kini harus membagi harta warisan yang ditinggalkan.
Namun setelah harta tersebut dibagikan, kedua bersaudara ini tidak
pernah hidup rukun dan damai. Sang kakak menuding bahwa adiknya mewarisi
lebih banyak dari yang dimilikinya. Sang adik juga menuding hal yang
sama terhadap kakaknya, bahwa sang kakak memiliki harta warisan lebih
banyak dari yang diwarisinya. Keduanya saling menuding bahwa pembagian
harta tersebut tidaklah adil dan seimbang. 
 
Mereka sudah melewati berbagai proses hukum, namun tetap saja persoalan
mereka tak dapat diatasi secara memuaskan. Semua nasihat tak pernah
berhasil. Semua keputusan seakan tawar. Keduanya tak dapat menerima
semua nasihat dan keputusan yang diberikan. 
 
Setelah mencari dan mencari akhirnya mereka menemukan seorang guru yang
bijak. Kedua bersaudara tersebut datang ke hadapannya dengan harapan
bahwa duri yang selama ini menusuk daging dan menghancurkan hubungan
persaudaraan mereka dapat dikeluarkan. 
 
Sang bijak bertanya kepada sang kakak; "Anda yakin bahwa harta yang
dimiliki adikmu melebihi warisan yang engkau terima?" Sang kakak dengan
penuh yakin menjawab; "Sungguh demikian!" Sang bijak lalu berpaling
kepada sang adik dan mengulangi pertanyaan yang sama; "Anda yakin bahwa
kakakmu mewarisi harta peninggalan orang tua lebih dari pada yang anda
peroleh?" Dengan keyakinan yang sama sang adik menjawab; "Ya
demikianlah!" 
 
Sang bijak lalu memberikan sebuah perintah kepada keduanya; "Kumpulkan
semua harta yang telah diterima masing-masing dan serahkan itu kepada
yang lain." Sang kakak menyerahkan semua harta warisan yang diperolehnya
kepada adiknya, demikian pula sang adik menyerahkan harta warisan yang
diperolehnya kepada sang kakak. Dan sejak itu tak ada lagi pertentangan
karena harta warisan di antara mereka berdua. 
----------- 
Kita senantiasa mengira bahwa nasib orang lain selalu lebih baik dari
diri sendiri, bahwa orang lain lebih diberkati Tuhan dari pada diri kita
sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan mencintai setiap insan dengan cinta yang
sama. Kita mungkin hanya mampu melihat berkat yang kelihatan yang
dimiliki orang lain, namun lupa untuk melihat berkat-berkat berlimpah
yang diberikan Tuhan atas diri kita namun sulit dilihat oleh kasat mata.
Lihatlah dirimu dari sudut pandangan yang lain, maka anda akan dipenuhi
keharuan dan rasa syukur yang mendalam. Tuhan mencintaimu!

Kirim email ke