Sama2..   Salam Kenal :-)
 
 
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Elmor Wagiu
Sent: Friday, December 05, 2008 9:14 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [PemudaAdvent] FW: Cincin Emas dan Kearifan
 

wah maap2,hehehe
maap ya sist Rama,hehehe
oia jangan panggil bapak juga
soalnya saya masih muda belia,hehehe

--- On Fri, 12/5/08, Rika Purba <[email protected]> wrote:
From: Rika Purba <[email protected]>
Subject: Re: [PemudaAdvent] FW: Cincin Emas dan Kearifan
To: [email protected]
Date: Friday, December 5, 2008, 5:30 PM


Rama itu wanita loh pak Elmor :)
 
rgds,
Rika
 
============ ========= ========= ========= ========= ========= =========
======
Success is a mindset. It is not a journey, nor a destination. It is
already within you." (Jennie S.Bev) 
 ============ ========= ========= ========= ========= ========= =======


--- On Fri, 12/5/08, Elmor Wagiu <l_more...@yahoo. com> wrote:
From: Elmor Wagiu <l_more...@yahoo. com>
Subject: Re: [PemudaAdvent] FW: Cincin Emas dan Kearifan
To: pemuda_advent@ yahoogroups. com
Date: Friday, December 5, 2008, 3:16 AM

thanx bro Rama buat artikelnya
jangan kita menilai orang dari luarnya saja (don't judge the book from
the cover)
belum tentu orang yg keliatan dari luarnya baik, benar2 baik dan belum
tentu juga orang yang keliatan dari luarnya jahat sudah pasti jahat
juga.

--- On Fri, 12/5/08, Rama Silitonga <rama.silitonga@ pertamina. com>
wrote:
From: Rama Silitonga <rama.silitonga@ pertamina. com>
Subject: [PemudaAdvent] FW: Cincin Emas dan Kearifan
To: Ramasilitonga@ gmail.com
Date: Friday, December 5, 2008, 2:37 PM
 
-----Original Message-----
From: Lidya Budi Astuti 
Sent: Friday, December 05, 2008 9:35 AM
To: lydiayosefa@ yahoo.com
Subject: Cincin Emas dan Kearifan 
 
Cincin Emas dan Kearifan 
 
Suatu pagi Zhi Zhou mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak
mengerti mengapa guru berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana.
Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amatlah penting, 
bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain." 
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu 
jarinya, lalu berkata, "Zhi Zhou, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi
lebih 
dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke 
pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping
emas?" 
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu 
keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." 
"Cobalah dulu anak muda, Siapa tahu kamu berhasil." 
Zhi Zhou pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada 
pedagang sayur, penjual daging dan ikan. Ternyata, tak seorang pun
berani 
membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping 
perak. Tentu saja, Zhi Zhou tak berani menjualnya dengan harga satu
keping 
perak. 
  
Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun 
berani menawar lebih dari satu keping perak." 
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu 
ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik 
toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja
bagaimana 
ia memberikan penilaian." 
  
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada 
Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru,
ternyata 
para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. 
Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh keping emas. 
Rupanya nilai cincin ini sepuluh kali lebih tinggi daripada yang 
ditawarkan kepada para pedagang di pasar." 
  
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas 
pertanyaanmu tadi. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya
"para 
pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun 
tidak bagi "pedagang emas". 
  
"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan 
dinilai jika kita mampu melihat hingga ke kedalaman jiwa. Diperlukan 
kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita tak bisa 
menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat 
sekilas. 
 
 
 

Kirim email ke