Terima kasih mbak Rama, karena sudah mengirimkan Renungan dalam bahasa 
Indonesia.
Saya yakin 100 persen dari anggota milis ini, mengerti.
GBU.




________________________________
From: Rama Silitonga <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Wednesday, December 24, 2008 1:40:30 PM
Subject: [PemudaAdvent] Berkat Yang Tersamar


BerkatYang Tersamar
 
 
 
Sering kali pada saat kejadian yang tidak menyenangkan
menimpa, kita bertanya-tanya mengapa TUHAN membiarkan hal itu terjadi? Terlebih
bila selama ini kita merasa telah menjadi anak Allah yang baik. Mengapa hal-hal
buruk masih terjadi pada kita? Adaperistiwa-peristiwa dalam hidup kita yang 
sulit dimengerti pada saat kita
mengalaminya. 
Kita hanya dapat berpasrah padaNYA, percaya bahwa DIA tidak
akan memberikan yang buruk kepada kita (bdk Yer 29:11). 
 
Ilustrasi di bawah ini mungkin dapat membantu kita memahami
bahwa sebenarnya di balik "kemalangan" itu ada berkat yang tersamar,
yang belum kita sadari pada saat itu. 
 
Adasebuah
kisah tentang seorang raja yang mempunyai seorang teman baik. Temannya ini
punya kebiasaan berkomentar, "Ini bagus!" atas semua situasi dalam
hidupnya, positif maupun negatif. Suatu hari Sang Raja dan temannya pergi
berburu. Temannya mempersiapkan dan mengisikan peluru untuk senapan Sang Raja.
Kelihatannya Sang Teman melakukan kesalahan dalam mempersiapkan senjata
tersebut, karena setelah raja menerima senapan itu dari temannya, senapan itu
meletus dan mengenai jempolnya. Seperti biasa Sang Teman berkomentar, "
Ini bagus!", yang oleh raja dijawab, "Tidak, ini tidak bagus!"
dan raja tersebut menjebloskan temannya ke penjara. 
 
Kurang lebih setahun kemudian, Sang Raja pergi berburu ke
daerah yang berbahaya. Ia ditangkap oleh sekelompok orang kanibal, kemudian
dibawa ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya dan menumpuk kayu bakar,
bersiap untuk membakarnya. Ketika mereka mendekat untuk menyalakan kayu
tersebut, mereka melihat bahwa Sang Raja tidak mempunyai jempol. Karena percaya
pada tahayul, mereka tidak pernah makan orang yang tidak utuh. Jadi mereka
membebaskan raja itu. Dalam perjalanan pulang, raja tersebut ingat akan
kejadian yang menyebabkan dia kehilangan jempolnya dan merasa menyesal atas
perlakuannya terhadap teman baiknya. Raja langsung pergi ke penjara untuk
berbicara dengan temannya. "Kamu benar, " katanya, "baguslah
bahwa aku kehilangan jempolku." Dan ia menceritakan kejadian yang baru
dialaminya kepada temannya itu. "Saya menyesal telah menjebloskan kamu ke
penjara begitu lama. Saya telah berlaku jahat kepadamu."
"Tidak," kata temannya,"Ini bagus!". "Apa maksudmu,
'Ini bagus!'? Bagaimana bisa bagus, aku telah mengirim kamu ke penjara selama
satu tahun." Temannya itu menjawab, "Kalau kamu tidak memenjarakan
aku, aku tadi pasti bersamamu." 
 
 
------------ ----- 
Kehilangan jempol ataupun kebebasan karena di penjara
bukanlah hal yang menyenangkan. Namun karena 2 peristiwa itulah, Sang Raja dan
temannya tidak menemui ajalnya dalam peristiwa tahun berikutnya. Demikian pula
dalam hidup kita, ada peristiwa yang menyebabkan kita kehilangan materi, mata
pencaharian bahkan orang yang kita kasihi. Tentu saja itu membuat kita sedih,
kesal, marah, bahkan menggugat TUHAN karenanya. Beberapa di antara kita 
mengalami pergumulan batin yang panjang karena
penolakan kita atas kejadian yang tidak menyenangkan ini. Ada yang menolak
begitu keras, sehingga menjauh dari TUHAN. 
Namun jika kita dapat mengikuti sikap
teman raja di atas, yang secara positif menerima setiap peristiwa baik maupun
buruk dalam hidup kita, niscaya suatu hari nanti kita akan menyadari adanya 
berkat-berkat
yang tersamar dalam setiap peristiwa yang kita alami. 
 
Jadi, seperti kata Anthony de Mello,
marilah belajar untuk berkata "YA" terhadap setiap peristiwa dalam
hidup kita. "YA" berarti menerima tanpa syarat segala sesuatu yang
direncanakan TUHAN dalam hidup ini. Pada saatnya nanti, kita akan dapat
"melihat" berkat-berkat yang tersamar dalam berbagai peristiwa di
kehidupan kita; karena TUHAN bekerja dengan caraNYA yang misterius, yang tidak
terselami oleh keterbatasan akal kita    


      

Kirim email ke