Perlu jadi contoh penting bagi Indonesia.
 
 
 
 
 
 
 
kompas cetak
bisa juga diakses di:  
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/12/00592269/adios.kapitalisme
 
 
 
 
 
 
"Adios" Kapitalisme
Kamis, 12 Februari 2009 | 00:59 WIB 
 
Oleh Robert Bala
 
 
Bolivia kembali menjadi perhatian dunia. Kemenangan referendum 25 Januari 2009 
itu mencengangkan.
 
Meski ada penolakan di beberapa provinsi, seperti di Media Luna dan Santa Cruz, 
hal itu tidak berarti karena ditutup gaung setuju yang mencapai 65 persen.
 
Bukan hanya itu. Kemenangan juga identik dengan masyarakat miskin di pedesaan. 
Meski di ibu kota negara, La Paz, keberhasilan mencapai 74 persen, bila 
dihitung keseluruhan, daerah perkotaan hanya mencapai 52 persen. Di pedesaan 
justru mencapai 82 persen. Makna apa yang bisa dikais di baliknya?
 
Terperangkap
Keberhasilan referendum di negara berpenduduk 10 juta orang itu bukan sebuah 
kebetulan. Sebuah proses panjang telah dilewati negeri yang mayoritas rakyatnya 
keturunan Indian suku Aymara, Quechua, dan Guaraní. Sejak kemerdekaan tahun 
1825, proses otoderminasi terus digulirkan dan coba dijalankan dan nyaris 
membawa hasil.
Pada tahun 1952, pemerintah melakukan reforma agraria dan nasionalisasi 
perusahaan pertambangan. Hasilnya mengecewakan. Para tuan tanah (latifundos) 
terlalu kuat untuk ditaklukkan. Nasionalisasi juga kandas. Upaya ”menyenangkan” 
sindikat dengan meluaskan izin penambangan berakibat pada sandaran ekonomi pada 
ekspor semata. Negara terlilit superinflasi, mencapai 2.400 persen saat harga 
tambang dunia anjlok.
Keadaan itu mendorong Presiden Victor Paz Estenssoro (1985-1992) dan Presiden 
Gonzalo Sánchez de Lozada Bustamente (1993-1997) untuk berjuang. Privatisasi 
perusahaan negara menjadi pilihan. Semboyan Ronald Reagan, ”negara bukan bagian 
dari solusi, tetapi bagian dari masalah”, mendorong dijualnya perusahaan minyak 
Yacimientos Petrolíferos Fiscales Bolivianos kepada swasta.
 
Kekuatan diri
Semula, privatisasi itu kelihatan manis. Lebih lagi saat Bank Dunia dan Bank 
Inter-Americano de Desarrollo amat ”murah hati” membantu. Inflasi ditekan 
hingga 10 persen. Namun, Bolivia yang kaya sumber energi, hidrokarbon, dan 
energi listrik justru merasakan keanehan. Kapitalisme justru melahirkan 
kemiskinan, bukan kesejahteraan.
Kenyataan itu disadari Evo Morales. Perlahan tetapi pasti, ia membangun Gerakan 
Sosialisme (Movimiento al Socialismo). Bagi Morales, rakyat adalah pemilik 
hidupnya. Ia perlu sadar untuk membangun otonomi, bukannya menyerahkan nasib 
kepada orang, apalagi negara lain. Tanah sebagai salah satu sumber hidup 
dialokasikan untuk semua. Kepemilikan dibatasi maksimal 5.000 hektar. Ini 
disambut sí (ya) oleh 78,4 persen rakyat.
Tidak hanya itu. Kapitalisme buas yang mengakui doktrin laissez-faire ditolak 
secara aklamatif. Rakyat disadarkan, kebebasan tanpa batas adalah bagai 
menggali kubur untuk diri sendiri. Apalagi hal itu dijalankan dalam iklim 
spekulatif. Model ekonomi yang bersifat ”di atas kertas”, virtual, dan 
imaterial seperti ini, oleh Tom Wolfe dalam Hoguera de las Vanidades, 1987, 
ditakdirkan akan hancur. Rakyat diajak membangun kekuatan diri.
 
”Partisisapi”
Bolivia dapat menjadi acuan. Pertama, keberanian berpihak kepada rakyat. Evo 
Morales adalah contohnya. Ia tidak menyandarkan nasib bangsa pada 
ketidakpastian ekonomi global (seperti harga minyak) untuk kemudian bersikap 
populis-oportunis. Ia tidak terperangkap janji manis privatisasi sebagai 
solusi. Ia tahu, privatisasi bermanfaat untuk mengumpulkan keuntungan, tetapi 
saat colapse (seperti Lehman Brothers) akan ”membagi” petaka kepada rakyat. 
Karena itu, pilihannya hanya ketegasan untuk menyatakan ”adios” (selamat jalan) 
pada taktik kapitalistik yang menjerat dan curang, jalan stik yang menjerat dan 
curang.
 
Politik kita masih setengah hati. Kita masih berada pada tataran senang atau 
tidak senang, benar atau salah. Perasaan tersinggung karena dikritik atau 
difitnah amat dominan. Upaya pembelaan diri dirasa begitu penting. Padahal, 
mereka yang bijak tahu, takaran dari segalanya adalah kebaikan umum. Rakyat 
tanpa dikampanyekan pun tahu, kesejahteraan yang telah dialami akan diapresiasi 
dalam pemilu.
 
Kedua, referendum Bolivia adalah bukti kesadaran yang membebaskan. Rakyat 
Indian tahu, menyerahkan nasib pada ”negosiasi” di parlemen adalah keniscayaan. 
Di sana logika ”partisisapi” yang tampak. Upaya meraih keuntungan (pribadi) 
amat jelas. Debat terjadi saat pembagian jarahan timpang. Tetapi, saat 
”disepakati”, semua berjejer, bagai sapi ikut ke luar kandang setelah yang lain 
keluar.
 
Perubahan di negeri ini hanya terwujud ketika wakil rakyat lebih konsekuen 
kepada konstituen. Bekerja untuk rakyat tidak sekadar semboyan, tetapi juga 
falsafah hidup yang diyakini.
 
Sementara itu, rakyat yang sudah memilih tidak akan pasif. Ia mengawal dan 
meminta pertanggungjawaban terhadap janji kesejahteraan yang diucapkan.
 
 
 
Robert Bala Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad 
Complutense de Madrid, Spanyol
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


      

Kirim email ke