Mengapa kita butuh bahasa? Jawabannya bisa bermacam-macam. Teman saya, seorang anggota Paduan Suara Hummeo Echoes Jakarta (HEJ), yg juga sbg anggota MGR, pernah berujar : "tanpa bahasa yg dimengerti, kita akan sulit meresapi, menjiwai lagu yg akan dinyanyikan". Sementara sobat saya dari Jemaat Kramat Pulo, yg kebetulan mantan bintang Sinetron, punya jawaban lain. Dia menegaskan, tanpa bahasa yg dia mengerti, sukar baginya untuk menghafal & menjiwai dialog yg disodorkan sutradara sinetron kpdnya. Apapun jawaban itu, barangkali sejauh ini, kita bisa menyimpulkan bahwa fungsi bahasa "hanya" sebagai alat komunikasi. Pada hal tidak cuma itu. Jika kita menapak tilas sejarah pertumbuhannya, pada awalnya bahasa difungsikan hanya semata-mata sebagai alat ekspresi diri. Tak kurang, tak lebih. Demikian kata seorang ahli bahasa di dalam sebuah bukunya. Kita sadar, kemampuan berbahasa seseorang erat pertaliannya dengan berpikirnya. Saya percaya betul, bahasa mencerminkan pikiran seseorang. Makin terampil berpikir, makin bening jalan pikirannya, makin jelas pula ia menulis dan berbahasa. Kita sudah sama-sama tahu bahwa bahasa sangat penting dalam proses komunikasi, tetapi kita mungkin belum sama-sama menyadari tingkat kepentingannya. Kebanyakan kita cenderung mengabaikan penggunaan bahasa yg baik dan benar karena belum terbiasa mempelajari & melatihnya di dalam kehidupan sehari. Apabila ide sudah dituliskan, kita sudah merasa puas & ketika orang lain (pendengar/pembaca) tidak memahaminya, kita cenderung menyalahkan pembaca tsb. Apabila gagasan telah kita ceramahkan, kita juga merasa puas & ketika pendengar tidak memahami, kita cenderung menyalahkan pendengar. Kita sering gagal menilai penggunaan bahasa kita sendiri. Ketika kita mengungkapkan pikiran sebagai X, ternyata yg sampai kepada pembaca adalah X1. Salah ucap & salah tangkap, itulah yg sering menimbulkan perbalahan. Ketika berbicara, kita cenderung menyesuaikan ucapan dengan lawan bicara kita. Cara kita berbicara kepada anak-anak berbeda dengan cara kita berbicara kepada orang dewasa. Cara kita bercerita kepada anak-anak Adventurer berbeda dengan cara kita bercerita kepada Masterguide, begitu juga kepada mahasiswa atau kepada kolega kita. Kita menggunakan bahasa dengan cara yg berbeda pula ketika berada di dalam situasi resmi & situasi santai. Bahkan untuk kondisi tertentu, ketika berbicara dengan orang yg belum dikenal, adakalanya kita merubah cara kita berbicara dan berbahasa demi untuk terjalinnya keharmonisan dalam percakapan. Namun apa jadinya, jika bahasa disampaikan bukan pada wilayahnya. Misalnya seperti yg lazim kita jumpai dan dengar di pesta-pesta Rohani SDA, baik yg berskala satelit, wilayah maupun akbar. Hampir sebagian kecil yg menggunakan bahasa Indonesia saat menyampaikan firman Tuhan dalam bentuk nyanyian. Seringnya, digunakan bahasa Inggris. Bahasa yg asing bagi anggota KPA, bahasa yg mereka tidak mengerti. Anak-anak eiger-beever dan Adventurer pun sudah dicekokin dengan lagu-berbahasa Inggris, China, India, bahasa yg mereka tidak mengerti. Tujuan berbicara juga mempengaruhi bentuk-bentuk bahasa yg kita gunakan. Kita menggunakan bentuk-bentuk bahasa yg berbeda untuk memohon, memerintah, menerangkan sesuatu, mengekspresikan gejolak jiwa, & seterusnya. Semua itu menunjukkan bahwa berbahasa tidak hanya ditentukan oleh bahasa itu sendiri, tetapi juga oleh hal-hal lain yg di luar bahasa. Jadi, nyatalah bahwa bahasa merupakan alat, bukan tujuan. Bahasa hanya pembawa makna, bukan makna itu sendiri. Selain api & air, Tuhan juga memakai bahasa sebagai senjata pemusnah. Menara Babel hancur oleh bahasa. Namun, Tuhan juga memakai bahasa sebagai senjata untuk menarik jiwa. Dia mempersenjatai kedua belas murid-Nya dgn memberi kepandaian berbahasa A, berbahasa B dan berbahasa C, agar murid-murid-Nya dapat menginjil dihadapan suku A, suku B dan suku C. Iblis melihat senjata Tuhan itu mujarab. Lalu iblis pun pakai senjata yg sama yakni bahasa tsb untuk menjauhkan manusia dari Tuhan, minimal memperlambat pengabaran injil ke seluruh DKI. Iblis merusak sistem yg pernah dirancang Tuhan, sang khalik itu. Sehingga manusia dibikin merasa tak bersalah jika menginjil (bernyanyi-red) dgn bahasa A kpd suku B dan C. Merasa sdh tepat jika menginjil dgn bahasa B kepada suku C dan A. Padahal, dengan kondisi seperti itu, penjiwaan tdk akan tercapai bahkan firman Tuhan pun tak sampai kpd sang objek. Firman itu “leong” begitu saja. Yang tersisa hanya hiburan semata. Namun upaya Iblis tak semuanya dimenangkan, pasalnya juru kotbah selalu memakai bahasa A kpd suku A, bahasa B kpd suku B dan seterusnya. Namun upaya Iblispun tak semuanya dikalahkan, pasalnya masih ada saja Paduan Suara yg menggunakan bahasa A kpd suku B, bahasa B kpd suku C dst. Paduan suara menggunakan Bahasa A kepada Bangsa B, bahasa B kepada bangsa C dst. Alhasil firman Tuhan yg disampaikan oleh Nyanyian tadi tdk terserap dgn baik bahkan tdk terserap setetes pun. Justru oleh yg tak mengerti, mereka hanya menganggap nyanyian itu sebagai hiburan musik tanpa syair/lirik. Maka sia-sialah usaha Paduan Suara tersebut ketika menginjil. Namun, dengan kondisi tadi, pernahkah kelompok Paduan suara SDA yg ada di DKI merasa bersalah? Begitulah metode yg dilakukan oleh Iblis untuk memperlambat pekabaran Injil.. Pernahlah Edo Kondologit bernyanyi “eee Yamko Rambe Yamko”, di depan puluhan juragan PAPAS, dalam suatu acara penggalangan dana untuk membangun Kampus Tercinta mereka, PTSN, Siantar, di Ball room Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Tak seorang pun yg paham pesan dari lirik tembang Papua tersebut. Mereka tidak mengerti bahasa Papua. Tapi itu bukanlah hal yg penting buat alumnus Batak mayoritas itu, sebab, para Siantar men itu hanya butuh hiburan dan suara yg merdu dari nyanyian si Penyanyi Papua tsb. Untuk lagu rohani yg difungsikan untuk pelayanan, hal yg sama tidaklah boleh terjadi, sebab lagu rohani bukanlah alat entertaint semata. Lagu rohani adalah alat pelayanan, alat memuji Tuhan & mengabarkan injil. Selain "menghiburkan", dia juga harus mengabarkan. Selain musiknya harus pas, liriknya pun harus dapat dimengerti oleh pendengar. Bicara tentang penginjilan tak terlepas dari persoalan komunikasi. Komunikasi dpt terjadi apabila kesamaan rasa (taste) terjadi. Artinya penginjilan harus dpt dimengerti secara bersama. Tidak adanya lagu berbahasa Indonesia, dan ketidak cocokkan lagu Indonesia, bukanlah suatu alasan untuk menyanyikan lagu Pujian berbahasa Asing di hadapan audiens Indonesia, menjadi layak. Kalau kita bernyanyi untuk memuji & memuliakan Tuhan saja, bahasa apa sajapun dpt kita pakai, sebab Dia pasti mengerti. Tapi bilamana lagu Rohani tsb kita tujukan juga kpd manusia, maka hak-hak manusia sebagai pendengar pun tak luput dari perhatian kita. Hal lazim yg tak bisa kita lupakan adalah bahasa.. Kita harus menggunakan bahasa yg dimengerti semua orang, semua pendengar. Kecuali engkau ingin membuat Tuhanmu merasa "rugi". Sumber : Kumpulan Tulisan Kocu Ratuhapishttp://harrisbudi.blogspot.com

