Parmin Bukan Simbolon adalah seorang eksekutif muda. Sebelum pukul 06.00 pagi, dia sudah bergegas ke kantor dengan sedan 2000 cc nya, setelah sempat menyeruput susu coklat dan mengunyah sepotong roti panggang sajian istrinya. Sebelum berangkat, Parmin sempat mencium anak balitanya yg masih tertidur lelap. Kemudian mencium pipi istrinya yg belum dibedak dan masih beraroma jigong pula. Dari kediamannya di perumahan Bekasi, dia harus bergegas ke kantornya di kawasan bisnis Sudirman, karena takut kena macet apa lagi 3 in 1. Eksekutif, pikirnya, berpantang terlambat masuk kantor. Sambil menyetir mobil, ia sempatkan menelan sebutir multivitamin. Saat kena macet atau lampu merah, ia pergunakan untuk menelepon rekan bisnisnya, entah sekedar say hello untuk menghangatkan urusan bisnis biar tetap sedap seperti roti pagi yg hangat. Akhirnya sampailah ia di kantor sebelum jam 3 in 1 berlaku. Kantor pulang pukul 17.00. Tapi, Parmin baru keluar kantor pukul 19.30. Disamping menghindari kemacetan, juga untuk membereskan pekerjaan itu hari dan sekali-sekali membuka email lalu masuk ke milis SDA, manatahu ada yg dapat direcokin. Keluar dari kantor, Parmin tidak langsung meluncur ke rumah, tapi harus ke kafe untuk loby bisnis. Praktis, sampai di rumah pukul 23.00. Saat itu istri dan anak-anaknya sudah tidur. Ia membuka pintu sendiri. Sang istri dibangunkan dengan disun pipi dan jidatnya. Sang istri menyambut dengan setengah tidur. Ia tidak langsung tidur . Ia harus membaca berita koran pagi, yg belum tuntas, ditambah koran sore. Kemudian masuk ruang kerja dan membuka laptop untuk menyusun rencana kerja besok sembari sekali duakali membuka email dan facebook. Terakhir, menjelang tidur, dia membaca follow the Bibel dan belajar sekolah sabat. Lewat tengah malam baru naik ke ranjang & menempel bokong istrinya, yg sering langsung tidur pulas. Hanya sesekali ia membisikkan istrinya untuk main seks. Sang istri tidak mau menolak betapapun kantuknya. Ia sadar melayani ajakan suami adalah kewajiban. Menolak itu dosa. Akhirnya, sang istri melakukan semata-mata demi kewajiban. Bukan enjoy, bahkan bukan cinta. Sang istri tanpa sadar bersikap cold-cold only alias dingin-dingin saja. Ia tidak menyesal karena tidak mencapai orgasme. Parmin sendiri lama-lama tidak peduli apakah istrinya mencapai orgasme atau tidak. Puas atau tidak. Yang penting dirinya keluar, beres. Tidur pun nyenyak. Hanya beda dua blok dari kediaman Parmin, terdapat rumah Ucok Bukan Panggabean yg juga adalah seorang eksekutif muda. Karena harus melakukan ritual penunggu pagi, dia berangkat sebelum pukul 07.00 pagi dengan APV 2000 ccnya, setelah memasukkan susu hangat di termos dan roti sajian istrinya ke dalam mobil. Namun sebelum berangkat, Ucok sempat mencium pipi istrinya yg sedang menggendong buah hati mereka. Di tengah perjalanan, persis dipersimpangan dimana karyawan kantor ramai menunggu bus umum, pria yg sering berbusana Batik ini menghentikan mobilnya. Waktu ini dia pakai untuk mencari orang yg mau menumpang di dalam mobilnya demi untuk menyelamatkannya dari 3 in 1. Tak sulit baginya. Dua orang karyawan yg searah tujuan, naik di mobilnya dan langsung mereka meluncur ke kantor di kawasan bisnis Sudirman. Di tengah perjalanan yg macet, sembari menghancurkan suasana hening, Ucok menyalakan kaset lagu rohani yang di“feat“ dgn kotbah rohani. Untuk mengkrabkan suasana, ia mengajak ngobrol mereka tentang apa saja dan berujung dgn pembahasan tentang makanan dan hari Sabat. Meskipun perbincangan terputus karena telah tiba di kantor masing-masing, namun sebelumnya, Ucok sempat mengikat mereka dengan cara janjian pulang bareng. Perjalanan pulang inilah kelak digunakan bang Ucok utk menyambung percakapan yg sempat terputus tadi sembari menginjil. Jam kantor pulang pun tiba. Pertemuan lanjutan sesuai janji pun terjadi. Dalam perjalanan pulang itu, Ucok melakukan skenario yg sama seperti saat berangkat ke kantor tadi. Bedanya kali ini, dia sengaja memberikan makanan ringan seperti roti-roti, dan kerupuk, untuk mencegah kantuk kedua penumpangnya tersebut. Demikianlah itu dilakukan pria bergelar MBA yg tak pandai komputer ini disetiap hari-hari kerjanya. Tiba di rumah pukul 19.00, ia disambut istri dan balitanya yg harum bedak baby. Hidangan santap malam pun sudah tersedia di meja. Sebelum tidur, ia sempatkan bermain-main bersama buah hatinya. Sedangkan Istrinya sudah menunggu di ranjang dgn seragam dasternya. Hari Sabatpun tiba. Parmin dan Ucok bergereja di Jemaat yg sama. Layaknya ke kantor, mereka juga datang ke gereja tepat waktu. Parmin datang bersama anak dan istrinya, sedang Ucok datang bersama anak dan istrinya ditambah dua orang tamu yg kerap numpang di mobilnya tatkala pergi dan pulang kantor di setiap harinya.............. Sumber : Cerita Fiksion Mancanegara.

