Dalam khotbah di bukit, ucapan bahagia ketujuh yang disebutkan Yesus, 
“Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak 
Allah” (Matius 5:9). Di sini Yesus tidak mengatakan bagaimana menjadi anak-anak 
Allah, tetapi yang Yesus katakan adalah anak-anak Allah pastilah pembawa damai. 
Orang-orang yang sudah lahir baru pastilah 'pembawa damai.' 


Seorang anak akan mewarisi sifat dari bapanya. Dalam Yohanes 1:12 disebutkan, 
kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama-Nya. Allah mengutus 
Yesus ke dunia untuk memperdamaikan manusia yang berdosa dengan diri-Nya. Yesus 
datang ke dunia dengan misi membawa damai, membawa pengharapan bagi dunia yang 
hancur ini. Demikian pula seharusnya kita sebagai anak-anak Allah.
 
Di tengah-tengah dunia yang mau menang sendiri, tidak mau mengalah, terus 
bertengkar, maka kehadiran anak-anak Allah sebagai pembawa damai sangat 
dibutuhkan. Kadang kita begitu emosi, begitu cepat bereaksi ketika harga diri 
kita terusik. Kita begitu gampang marah dan tidak mau menerima penjelasan 
ketika 
terjadi kesalahpahaman.  Jika kita mengalah, maka sebenarnya kita bukanlah 
sungguh-sungguh mengalah, tetapi kita menghindari konflik dan mungkin ketika 
ada 
kesempatan kita pun mengupayakan balas dendam.
 
Dalam buku "Studies in the Sermon on the Mount," Martin Llyod-Jones menjelaskan 
bahwa ‘pembawa damai’ adalah orang yang tidak mudah terseret dalam pertikaian 
dan keributan. Yang kedua, dia juga adalah orang yang aktif mengadakan 
pendamaian. Dia tidak ingin hidup dalam permusuhan, pertikaian dan ingin segera 
menyelesaikan segala persoalan yang ada sehingga tidak timbul kekecewaan yang 
berujung ke akar pahit. Dia tidak akan berpura-pura mengucapkan salam ketika 
dia 
bersitegang, ketika ada orang yang memusuhi dia. Jika dia berbuat demikian 
tanpa 
ketulusan, itu hanyalah kemunafikan belaka. Tetapi seorang pembawa damai akan 
sungguh-sungguh mengusahakan penyelesaian pertikaian dan ketika mengucapkan 
salam itu sungguh lahir dari hati yang ingin mengusahakan perdamaian. 

 
Dan terakhir, dia rindu agar orang lain mengalami pendamaian dengan Kristus. 
Mengapa dunia penuh dengan ketegangan dan pertengkaran? Itu karena mereka masih 
hidup dalam kegelapan, hati mereka belum diubahkan oleh Kristus. Dan sebagai 
anak-anak Allah, kita  rindu mereka yang masih hidup dalam permusuhan dengan 
Allah bisa beroleh pendamaian dalam Kristus. Dan biarlah setiap diri kita boleh 
menjadi instrumen agar orang lain mengalami pendamaian dengan Kristus seperti 
yang sudah kita terima.
 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke