Andrew Elliot merasa minder berat, karena walaupun sudah lebih dari 25 tahun 
lulus dari universitas bergengsi Harvard, tetapi kenyataannya tetap saja belum 
bisa memiliki apapun juga yang bisa ia banggakan. Hal inilah yang membuat dia 
jadi takut setengah mati untuk menghadiri pesta reuni teman-teman sekelasnya.

Betapa tidak, matan teman sekamarnya saja sudah menjadi calon menteri luar 
negeri, yang satunya jadi dekan, bahkan seorang lagi yang dahulunya dicemohkan 
dan diremehkan telah mencapai puncak prestari sebagai pemain pianis yang 
kesohor. Hal inilah yang membuat ia merasa gagal total dan minder berat untuk 
menghadiri acara pesta reuni tersebut. Bahkan kalau ia jujur, ia merasa iri 
melihat kesuksesan dari teman-teman sekelasnya.

Hal tersebut di atas inilah yang diceritakan dalam Novel—The Class—hasil karya 
dari Erich Segal. Walaupun demikian di akhir cerita, akhirnya ia mengetahui 
bahwa apa yang ia lihat di luarnya tidaklah sebaik dan seindah seperti yang 
diduga oleh kebanyakan orang. Ternyata mereka juga memiliki riwayat yang tragis 
maupun kegagalan-kegagalan lainnya yang tidak terlihat oleh orang luar. 
Masalahnya yang kita lihat hanya mobil mewah maupun gedungnya saja yang 
mentereng maupun karier jabatannya.

Misalnya dalam kehidupan sang pemain pianis; kehidupannya tidaklah semanis 
seperti kariernya. Ia kecanduan obat-obatan, bahkan akhirnya salah satu 
tangannya mengalami disfungsi motoris sehingga tidak bisa ia kendalikan lagi. 
Sedangkan temannya yang menjadi politikus di gedung putih tidak mampu 
mempertahankan perkawinannya sehingga akhirnya ia bunuh diri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa secara langsung atau tidak langsung, kita sendiri 
sering mengajukan pertanyaan: Kenapa ia lebih sukses di dalam kehidupannya 
daripada saya? Bahkan seringkali pula kita disindir agar mau melihat keatas 
"Lihat tuh tetangga kita; mereka sudah punya mobil BMW, sedang Loe masih tetap 
azah naik angkot! Apakah kagak malu!"

Di samping itu hampir setiap jam kita di jejali dengan film-film sinetron 
dimana 
kehidupan glamour dan mewah sudah merupakan thema utama dari film-film 
tersebut. 
Kesuksesan manusia sekarang ini hanya diukur melalui harta atau jabatan yang 
mereka miliki. Di mana Loe kere dan tidak memiliki jabatan berarti Loe ini Mr 
Nobody!

Memang sudah merupakan fakta nyata, bahwa pada saat kita terpuruk, secara 
langsung atau tidak langsung akan timbul pertanyaan: "Kenapa hidup Gw jadi 
begini? Dimana letak kesalahan Gw? Kenapa Tuhan lebih memberkati orang kapir 
dan 
para koruptor daripada Gw? Sehingga boro-boro bisa beli Nasi Goreng udah bisa 
makan siang Nasi GOCENG (lima ribu) ajah udah bagus! 

Beda dengan Prabowo Subianto di mana konon nilai harga kudanya saja sudah 
mencapai tiga miliar per ekor. Ia memiliki 84 ekor kuda silahkan hitung 
sendiri, 
baru nilai harga kudanya saja sudah berapa? (sumber Kompas) Sedang Gw terkadang 
untuk biaya angkot tiga ribu saja kagak punya.

Pertama perlu diketahui walaupun kita bisa mengetahui, bahwa harta kekayaan 
dari 
Prabowo itu Rp 1,7 triliun, hal ini tetap tidak akan bisa merubah nasib kita. 
Uang Prabowo bukanlah uang saya, nasib dia bukanlah nasib saya. Maka dari itu 
saya selalu berusaha untuk mensyukuri dengan apa yang saya miliki dan dapatkan. 


Berkat dan anugerah yang paling indah yang saya dapatkan setiap hari ialah 
dimana saya masih diberi kesempatan untuk dapat menikmati matahari dipagi hari. 
Berapa juta orang di dunia ini yang setiap harinya berdoa dan mengharapkan agar 
mereka masih bisa diberikan kesempatan untuk hidup satu hari lebih lama lagi, 
karena mereka berada dalam keadaan sekarat! Percayalah berkat ini ada jauh 
lebih 
indah dan tidak bisa dinilai dengan uang maupun jabatan sehebat dan setinggi 
apapun juga
 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke