Fyi
 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 




----- Pesan Diteruskan ----
Dari: victor silaen <[email protected]>
Kepada: [email protected]; [email protected]
Terkirim: Rab, 11 Agustus, 2010 08:00:22
Judul: [parapemikir] Top Hits Minggu ini: SIAPA YANG BERANI MENYANGKAL 
INDONESIA 
GUDANG TERORIS?

  
SIAPA YANG BERANI MENYANGKAL INDONESIA GUDANG TERORIS?


Dimuat pada Harian Jurnal Nasional, 10 Agustus 2010
 
Stok Teroris yang Tak Pernah Habis 
Oleh Victor Silaen
 
     Setelah kedua gembong teroris tewas di tangan Densus 88, yakni Noordin M. 
Top (17/09/2009) dan Dulmatin (9/03/2010), pada 23 Juni lalu Abdullah Sonata, 
penyuplai senjata logistik untuk jaringan teroris, berhasil dibekuk di Klaten. 
Sebelumnya, pertengahan Mei lalu, beberapa tersangka teroris juga berhasil 
dilumpuhkan di Cawang, Cikampek, dan Sukoharjo. Berikutnya, 18 Juli, tersangka 
teroris yang bernama Mu’arifin berhasil ditangkap di Sragen.     

    Pertanyaannya, mengapa stok teroris di negeri religius ini sepertinya tak 
pernah habis? Ada banyak kemungkinan jawabannya, mulai dari masih adanya 
dukungan dari kalangan tertentu di masyarakat, masih banyaknya orang yang 
mengidap frustrasi sosial dan sekaligus bercita-cita mendirikan sebuah negara 
baru berlandaskan agama menurut tafsir piciknya, dan lainnya. Salah satu 
penyebab suburnya terorisme yang juga kerap disebut-sebut adalah faktor 
kemiskinan. Tapi di Indonesia, benarkah faktor tersebut efektif dalam mendorong 
lahirnya teroris?      
 
    Kita pernah dikejutkan ketika mengetahui bahwa Dulmatin dikawal oleh Abu 
Haikal, mantan anggota Polres Depok yang disersi sejak Februari 2009. Begitu 
hebatkah Dulmatin dan kelompoknya sehingga mampu membuat seorang polisi 
tertarik 
untuk bergabung dengan mereka? Kalau Haikal ikut Dulmatin karena motif uang, 
mungkin sulit diterima kebenarannya. Artinya, kemiskinan bukanlah faktor 
pendorong ia mau bergabung dengan teroris kelas kakap itu. Kalau begitu, apa 
penyebab pria bernama asli Bakti Rasna itu rela menukar profesi dari polisi 
menjadi teroris? Sangat mungkin inilah jawabannya: karena menjadi teroris 
merupakan panggilan yang mulia karena dikemas dengan pesan-pesan agama.
 
     Itulah faktor ideologi, yang ketika telah mengendap dan meresap di dalam 
jiwa begitu digdayanya menumbuhkan energi dan membakar semangat dalam rangka 
berjuang mencapai sebuah tujuan. Ideologi, yang juga identik dengan keyakinan, 
lazimnya bersifat lebih emosional daripada rasional. Maka, tujuan yang 
perumusannya digali atau bersumber dari ideologi tersebut tak perlu repot-repot 
dikaji benar salahnya atau relevan tidaknya dalam konteks tempat dan waktu. 
Karena, menurut para pendukungnya, tujuan itu pasti benar dan selalu relevan. 
Itu sebabnya sampai kapan pun ia akan diperjuangkan dan niscaya memunculkan 
kader-kader pejuang baru begitu pejuang senior gugur di medan tempur.
 
     Tujuan itu, tak lain dan tak bukan, adalah menegakkan kebenaran agama di 
tengah kehidupan bernegara yang mereka anggap telah semakin sekuler. Lebih 
tegas 
lagi: mereka ingin mendirikan negara agama (teokrasi). Dalam konteks Indonesia, 
tujuan itu jelas ngawur, karena finalitas negara ini sebagai negara hukum 
berdasarkan Pancasila. Itulah yang mestinya menjadi pesan serius bagi aparat 
kepolisian: jangan ragu-ragu menindak gerakan-gerakan di masyarakat yang 
bertujuan mendirikan negara teokrasi. 

 
     Kalau menegakkan kebenaran agama, bagaimana? Tentu boleh dan itu justru 
baik. Tapi pertanyaannya, kebenaran agama versi siapa? Sebab, setiap agama itu 
multitafsir sehingga selalu punya lebih dari satu versi. Di sinilah kita diajar 
untuk tidak mudah ”mengafirkan” orang-orang lain yang tidak sefaham dengan 
kita. 
Karena itu, upaya menegakkan kebenaran agama harus selalu diimbangi kesediaan 
bertoleransi dengan pihak-pihak yang berbeda dengan kita. Lagi pula, harus 
diingat, Indonesia adalah negara hukum, sehingga kebenaran agama jangan 
sekali-kali dibenturkan dengan kebenaran hukum.
     Mendirikan negara agama atau menegakkan kebenaran agama dalam tafsir 
sempit 
yang naif, itulah ciri dari terorisme agama. Terorisme memang berjenis-jenis, 
tapi yang menjadi tren dewasa ini adalah terorisme agama. Inilah gerakan 
segelintir orang yang bertujuan menebar ketakutan dan kepanikan luas dengan 
menjadikan agama sebagai basis ideologi yang memberikan pembenaran sekaligus 
dukungan moral. 

 
    Tapi, mengapa agama sanggup melakukan aksi-aksi destruktif, yang membuatnya 
tampil sebagai “agama kekerasan” (violence religion)? Apa sebabnya perintah 
suci 
ilahi tentang  destruksi diterima begitu saja oleh para teroris yang mengklaim 
dirinya kaum beriman itu?
     Setiap agama memiliki elemen-elemen keras (hard elements) dan 
elemen-elemen 
lunak (soft elements) di dalam dirinya. Karena itulah, dalam setiap agama, 
selalu saja ada kelompok yang memahami agamanya secara kaku dan terlalu 
bersemangat, sehingga memunculkan sikap-sikap fundamentalistik dan radikal yang 
cenderung pro-kekerasan. Karena itulah kelompok agama yang bersangkutan sanggup 
melakukan aksi-aksi teror terhadap orang-orang yang tidak sehaluan dengan 
mereka.
 
     Harus diakui, agama mampu mengobarkan semangat yang amat besar bagi 
praktik-praktik terorisme, meskipun tanda-tanda terorisme agama itu sendiri 
bisa 
serupa dengan ciri-ciri terorisme yang dimotivasi oleh tujuan-tujuan politik 
dan 
ekonomi. Namun, yang menarik di seputar terorisme agama adalah bahwa ia secara 
eksklusif bersifat simbolik dan cara-caranya amat dramatis. Pergelaran 
kekerasan 
dibarengi dengan klaim justifikasi moral dan absolutisme yang amat kuat, bahwa 
mereka sedang menegakkan kebenaran ilahi -- menurut versi sendiri atau tafsir 
sempit mereka. Jadi, jangan heran kalau mereka kebanyakan adalah orang-orang 
yang dikenal saleh. Melakukan kejahatan bukanlah tabiat, “dunia penuh 
kekerasan” 
pun bukan habitat. Aksi teror, bagi mereka, hanyalah keterpaksaan yang harus 
ditempuh demi terwujudnya tatanan dunia seperti yang diimpikan. 

 
     Atas dasar itulah maka jatuhnya para korban dikarenakan aksi-aksi teror 
mereka sebenarnya bukanlah didorong oleh keinginan untuk membunuh. Melainkan, 
demi menyampaikan pesan-pesan kepada penguasa yang hendak dilumpuhkan bahwa 
mereka eksis dan sedang memperjuangkan sesuatu. Sedangkan kepada masyarakat 
luas, mereka juga hendak mengumumkan bahwa para pembaharu dan pejuang ilahi 
sudah muncul. Dunia yang penuh dosa ini akan diubah menjadi dunia baru yang 
dipenuhi kedamaian dan keadilan. Maka, agar tak berlama-lama lagi, aksi-aksi 
nirkekerasan harus ditingggalkan demi memperoleh solusi yang lebih kuat 
(Juergensmeyer, 2000). 

 
     Begitulah, justifikasi atas kekerasan dalam gagasan-gagasan yang bernuansa 
agama membuat para aktifisnya sanggup melakukan aksi-aksi bom bunuh diri dengan 
keyakinan bahwa mereka sedang berjuang di jalan-Nya. Mereka menganggap diri 
sebagai pembela akidah agama leluhur, yang dianggap sedang terancam dan terhina 
oleh aspek-aspek kehidupan modern yang sangat sekularistik.
 
     Bagi Indonesia, sebuah pertanyaan penting harus dijawab: bersediakah kita 
untuk tidak memberikan toleransi sedikit pun terhadap wacana-wacana maupun 
aspirasi-aspirasi agama yang mendukung kekerasan dan para pelakunya? Tak bisa 
tidak, kritisisme beragama haruslah dikembangkan terus-menerus demi 
mengusangkan 
kekerasan sebagai modus perjuangan meraih cita-cita. 

 
* Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan. 
 



Kirim email ke