Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36)

Murah hati selalu berkenaan dengan sikap memberi; entah memberi waktu, tenaga, 
materi, atau juga memberi diri. Namun, tidak semua pemberian bertolak dari 
kemurahan hati. Sebab bisa saja orang memberi dengan maksud tertentu, alias ada 
pamrihnya. 


Bahasa Yunani murah hati adalah eleemon (bahasa Ibrani: khessed). Kata ini 
mengandung tiga pengertian: (1) Simpati, kesediaan untuk menangung kesusahan 
dan 
kesedihan orang lain; (2) Empati, kesediaan untuk menempatkan diri pada 
“posisi” 
orang lain; ikut merasakan dan mengalami apa yang orang lain rasakan dan alami; 
(3) Pengampunan, kesediaan untuk memaafkan orang lain yang menyakiti, lalu 
memulai kembali relasi baru tanpa dibayangi kebencian. 


Pada zaman modern sekarang ini, nilai-nilai kemurahan hati semakin terkikis. 
Simpati menjadi sesuatu yang langka. Orang bisa sambil tertawa-tawa 
membicarakan 
musibah yang menimpa orang lain, atau bahkan tega menambah kesulitan kepada 
orang lain yang hidupnya sudah susah. Empati juga semakin sukar ditemui. Orang 
gampang melontarkan celaan, fitnahan, gosip, ejekan terhadap orang lain, tanpa 
memikirkan bagaimana kalau mereka atau keluarga mereka yang mengalaminya. 


Begitu pula pengampunan, semakin mahal. Yang subur justru balas dendam; mata 
ganti mata, gigi ganti gigi, pukulan dibalas pukulan, bom dibalas bom. Malah 
semakin runyam. Kemurahan hati adalah cerminan sifat Allah Bapa. Dan tugas kita 
adalah terus menumbuhkan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
Untuk 
itu kita bisa memulainya dari lingkungan kita yang paling dekat. (Ayub Y)

 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke