Pak Budisan ini memang pinter milih topik, saya jadi
terharu dan membuat saya ingin sumbang cerita tentang
ibu kebanggaan saya.

begini ceritanya....
Ibu saya adalah single parent dengan 4 orang anak yang
ditinggal kabur bapak saya sejak 25 tahun lalu, sejak
itu pula ibu saya yang kebetulan sejak muda sudah
pandai menjahit menjalani pekerjaan sebagai penjahit
rumahan, supir antar jemput anak tk/sd, dan berjualan
makanan. setiap hari jam 4 pagi sudah bangun beres2
rumah dan nyiapin sarapan dan baju sekolah anak2, jam
5.30 dia sudah berangkat antar jemput anak sekolah
dengan daihatsu hijet biru kreditan yang awet sampe
sekarang, jam 8 dia pulang untuk masak dan menjahit,
jam sepuluh sampe jam 2 dia pergi lagi untuk menjemput
anak sekolah, istirahat sebentar kemudian jam 3
mencuci mobil dan mencuci baju terus menjahit lagi
sambil nungguin anak2 belajar kadang2 menjahit sampe
jam 2 malam, begitu terus setiap hari kerja, nanti
hari libur jualan gudeg sama beras kencur di monas.
that's what she do for almost 25 years...
Alhamdulillah, atas kuasa Allah dengan limpahan
rezekinya sekarang ibu sudah punya rumah sendiri, anak
4 orang sudah sarjana semua, sudah kerja semua ,sudah
kawin semua plus 6 cucu2 yang sehat dan lucu, dan
hebatnya ibu saya sudah naik haji. What an
achievement, untuk ibu saya pribadi maupun untuk
keluarganya. Tapi ibu saya tetap rendah hati dengan
mengatakan semua itu bisa dicapai dengan kerjasama
anak2nya dan sumbangan gen untuk anak2 dari bapaknya,
dan kita diwajibkan memperlakukan bapak sesuai
kodratya tanpa memandang perbuatannya.Banyak cerita
tentang ibu yang hebat dan saya yakin ibu saya
termasuk salah satunya.
Senang sekali saya bisa menceritakan ibu kebanggaan
saya kepada teman-teman milis, semoga kita sudah
mengucapkan selamat hari ibu kepada ibu masing2 atau
mendoakan kalau ibunya sudah mangkat, itu
hadiah/penghargaan yang minimal buat ibu kita, dan
tidak lupa mengajarkan anak-anak kita untuk menyayangi
dan membahagiakan ibunya.

best rgds,
moudy

--- Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Rekan-rekan Milis yang budiman,
>    
>   Berikut ini tulisan saya tentang Hari Ibu.
>    
>   Buat mereka yang belum mendapatkan edisi terbaru
> Menyiasati Rekonsiliasi, silakan cari dan donlot di
> alamat sebagai berikut 
>
http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/files/
>  
>    
>   Semoga bermanfaat.
>    
>   Salam,
>   Budisan
>    
>    
>    
>             MENCARI SOSOK IBU DI HARI IBU
>    
>    
>   Anak saya yang baru akan menginjak usia dewasa
> pada tanggal 22 Desember 2006 lalu bertanya kepada
> saya, mengapa kalau Hari Ibu ada tetapi Hari Bapak
> tidak ada?   Mendengar pertanyaan anak saya
> tersebut, saya tersenyum.  Dalam hati saya teringat
> ketika pertanyaan yang sama juga pernah ada di benak
> saya  ketika usia saya kurang lebih sama dengan
> usianya. Lalu, untuk sekedar memuaskan keingintahuan
> anak saya tersebut, saya memberikan penjelasan
> sekenanya yang kira-kira dapat masuk ke dalam logika
> anak saya.  
>    
>   Waktu itu saya jelaskan kepada anak saya bahwa
> Hari Ibu sengaja dibuat/diadakan dan
> diperingati/dirayakan supaya kita sebagai warga
> Indonesia selalu ingat (jangan melupakan) jasa dan
> pengorbanan seorang Ibu yang sangat besar, terutama
> dalam melahirkan, mengasuh dan membesarkan
> anak-anaknya.  Satu hal yang perlu kita sadari,
> keberhasilan generasi muda untuk tampil menjadi
> pemimpin bangsa banyak tergantung pada sejauhmana
> keberhasilan Ibu dalam membesarkan, mengasuh dan
> mendidik anak-anaknya.  Mengingat peran Ibu yang
> demikian penting tersebut, setiap tanggal 22
> Desember kita semua diingatkan untuk menghormatinya,
> mengindahkan pesan dan ucapannya, dan memberikan
> kado penghargaan kepadanya.
>    
>   &#8220;Lalu, mengapa Hari Bapak tidak
diperingati?&#8221;,
> tanya anak saya.  Setelah berhenti sejenak untuk
> berpikir, lalu saya jelaskan sekenanya bahwa Hari
> Bapak tidak perlu diperingati karena memang tidak
> ada alasan atau kepentingan yang mendesak untuk
> memperingatinya. Maksud saya, kalau Hari Ibu itu
> diperingati karena ada kecenderungan masyarakat
> (termasuk sebagian para Ibu dan paling tidak pada
> saat itu) untuk melupakan peran Ibu yang sangat
> penting tersebut.  Sedangkan peran Bapak nampaknya
> (paling tidak sampai saat sekarang ini) sama sekali
> tidak ada yang mempermasalahkannya, sehingga tidak
> perlu dibuat Hari Bapak untuk memperingatinya.
> Mendengar penjelasan saya tersebut, anak saya pun
> manggut-manggut.  
>    
>   Saya tidak tahu apakah anak saya dapat menerima
> sepenuhnya penjelasan saya.  Tetapi yang pasti
> adalah saya telah berbohong kepadanya karena saya
> sendiri sebenarnya ragu apakah benar penjelasan yang
> telah saya sampaikan kepadanya.
>    
>   Saya memang pernah membaca bahwa pada tahun 1959
> Presiden Soekarno menetapkan Hari Ibu sebagai hari
> nasional.  Tanggal 22 Desember dipilih karena hari
> itu bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres
> Perempuan pertama pada tahun 1928 di Yogyakarta. 
> Namun saya tidak tahu persis, dan saya juga tidak
> terlalu peduli, apa saja yang dibicarakan dalam
> pertemuan kaum perempuan pada saat itu.   Satu hal
> yang saat ini saya peduli adalah sosok Ibu macam apa
> sebenarnya yang kita butuhkan pada era sekarang ini?
>    
>   Ada tiga sosok Ibu yang akan saya tampilkan dalam
> tulisan ini, dan ketiganya mempunyai peran penting
> dalam proses pembangunan bangsa yang tidak bisa kita
> abaikan begitu saja.  Yang pertama adalah sosok Ibu
> Rumah Tangga yang saya percaya jumlahnya merupakan
> mayoritas di Indonesia.  Ibu Rumah Tangga sering
> digambarkan sebagai sosok Ibu yang mempunyai
> perhatian penuh pada anak-anak dan juga Sang Suami. 
> Ia mengabdikan hidupnya secara total kepada mereka. 
> Namun, ada pula sebagian dari kita yang
> mengkritiknya sebagai manusia yang terlalu
&#8220;nrimo&#8221;. 
> Sama sekali tak terlintas dalam benaknya untuk
> beremansipasi, termasuk merambah ke dunia kerja yang
> selama ini biasa dilakukan oleh kaum lelaki. 
> Hidupnya bagai burung di dalam sangkar.  Ia sudah
> merasa dimuliakan apabila hidupnya dijamin aman,
> atau apalagi kalau sangkarnya terbuat dari emas.
>    
>   Sosok Ibu yang kedua adalah yang biasa kita kenal
> sebagai Wanita Karir, yakni wanita yang sehari-hari
> lebih sering menyibukkan diri dalam kegiatan
> profesi, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.
> Wanita Karir pada umumnya mempunyai latar belakang
> pendidikan yang relatif lebih terpelajar
> dibandingkan dengan wanita yang cukup puas dengan
> predikat sebagai Ibu Rumah Tangga.  Ia juga dikenal
> sebaga wanita yang selalu berusaha untuk mematahkan
> mitos dunia kerja lelaki.  Namun, Wanita Karir juga
> tidak jarang menerima kritik sebagai manusia yang
> telah melawan kodratnya.  Demi ambisi pribadi ia
> rela membiarkan suami dan anak-anaknya dilayani dan
> dijaga oleh Pembantu Rumah Tangga. Dan barangkali
> yang paling membuat orang geram, demi karir dan
> jabatan yang akan diperolehnya ia rela memberikan
> kehormatan atau tubuhnya kepada Boss dan atasannya.
>    
>   Sosok Ibu berikutnya adalah Perempuan Aktivis.
> Meskipun ia telah bersuami dan bahkan mempunyai
> banyak anak, tetapi ia lebih suka menyebut dirinya
> sebagai perempuan.  Sosok Ibu Perempuan Aktivis ini
> sangat idealis dan kritis.  Ia selalu memposisikan
> dirinya dekat dengan rakyat melalui kegiatannya yang
> bertajuk pemberdayaan masyarakat. Sebagian besar
> waktu hidupnya memang dipersembahkan untuk
> memperbaiki nasib kaum perempuan yang tertindas dan
> teraniaya. Namun, sama halnya dengan Ibu Rumah
> Tangga dan Wanita Karir, Perempuan Aktivis pun tak
> luput dari sorotan kritik yang bisa membuat wajah
> mereka memerah menahan marah.  
>    
>   Sama dengan Wanita Karir, Perempuan Aktivis juga
> dikritik karena terlalu banyak melakukan kegiatan di
> luar rumah sehingga seringkali menelantarkan
> keharmonisan hubungan keluarga (suami, isteri dan
> anak-anak mereka) dalam rumah tangganya sendiri. 
> Selain itu, tidak jarang kegiatan demonstrasi yang
> konon mereka lakukan untuk memperjuangkan nasib kaum
> perempuan tersebut sebenarnya tidak lebih dari
> sekadar melaksanakan mandat atau pesan sponsor dari
> organisasi non-pemerintah internasional yang telah
> mengucurkan dananya kepada organisasi LSM tempat
> mereka bekerja. Teriakan perangnya yang ditujukan
> kepada pemerintah juga sebenarnya tidak lebih dari
> sekadar sinyal agar pemerintah meresponnya dengan
> memberikan bantuan proyek pemberdayaan masyarakat
> dimana ia menjadi bagian di dalamnya.  Atau siapa
> tahu, kegarangannya menyerang pemerintah akan
> berbuah sehingga ia ditawari posisi terhormat
> sebagai wakil rakyat. 
>    
>   Sebagai catatan, karakter ketiga sosok Ibu
> tersebut di atas memang sengaja saya tampilkan, baik
> dari sisi positip maupun dari sisi negatipnya.  Sisi
> terang maupun sisi gelapnya.  Maksud saya adalah
> sekadar untuk mengingatkan kita bahwa dalam
> kenyataan, manapun sosok Ibu yang kita pilih sebagai
> panutan, mereka semua adalah sosok manusia yang
> masing-masing memiliki kelebihan dan juga
> kekurangan.  Selain itu, dalam kenyataan pula,
> seringkali kita tidak bisa memilah/membedakan secara
> tegas ketiga sosok Ibu tersebut dengan menggunakan
> pisau/kacamata analisa.  Sebagai contoh, yang
> dimaksud sosok Wanita Karir atau juga Perempuan
> Aktivis bukanlah mereka yang sama sekali tidak
> pernah melakukan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga
> (memasak, mencuci pakaian, membersihkan lantai
> rumah, dan seterusnya).  Demikian pula halnya dengan
> sosok Ibu Rumah Tangga, ia bukanlah seorang Ibu yang
> sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas diluar
> rumah, misalnya dalam kegiatan organisasi PKK atau
>  organisasi keagamaan.  Dengan demikian, kaca mata
> analisa sosok Ibu dalam hal ini hanya dapat
> digunakan untuk melihat sejauhmana ia lebih banyak
> memfokuskan perhatian pada pekerjaannya sebagai Ibu
> Rumah Tangga, Wanita Karir atau Perempuan Aktivis. 
>    
>   Kembali pada pertanyaan saya sebelumnya tentang
> sosok Ibu macam apa sebenarnya yang kita butuhkan
> pada era sekarang ini?    Dengan tegas saya ingin
> menyatakan bahwa di era sekarang ini kita
> membutuhkan ketiga sosok Ibu yang telah kita
> bicarakan.   Perbedaan pendapat di antara kelompok
> masyarakat selama ini tentang sosok Ibu yang menurut
> mereka layak dijadikan sebagai panutan lebih sering
> didasarkan pada stereotipe yang selama ini dianut
> oleh banyak orang bahwa pengakuan terhadap peran
> penting sosok Ibu yang satu berarti sama dengan
> penolakan terhadap peran penting sosok Ibu yang
> lain.  Hal lain yang pantas disesalkan, pendapat
> tentang sosok Ibu yang layak dijadikan sebagai
> panutan seringkali didasarkan pada ajaran atau
> kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun,
> dan bukan didasarkan pada sejauhmana etos kerja yang
> telah diperlihatkan dan pengabdian yang telah
> diberikan olehnya kepada keluarga dan juga
> masyarakat.
>   Mengapa ketiga sosok Ibu tersebut kita butuhkan
> pada era sekarang ini?  Sebenarnya jawabannya mirip
> dengan jawaban terhadap pertanyaan &#8220;Mengapa
sektor
> pertanian dan sektor industri kita perlukan?&#8221;,
yakni
> karena 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke