Teman-teman Milis yang budiman,
   
  Sekali lagi, saya minta teman-teman untuk mengkoreksi (bukan memuji) TTS yang 
telah saya isi berikut ini.  Saya minta maaf karena topik TTS ini sudah tidak 
aktual lagi.  Ibarat makanan ia mungkin sudah sangat basi.  Meskipun demikian, 
saya berharap semoga setelah menikmati TTS ini diantara teman-teman tidak ada 
yang keracunan atau menjadi sakit karenanya. Sebaliknya, saya berharap semangat 
pengurbanan kita akan semakin bertambah.  Apalagi setelah kita tahu mulai 
Januari ini ada perbaikan gaji pegawai negeri.
   
  Selamat tahun baru. Selamat bekerja dan berkarya dengan semangat pengurbanan 
yang baru.   
   
  Semoga TTS berikut ini bermanfaat untuk Anda, saya dan juga Mereka.
   
  Salam,
  budisan
   
  TTS berikut bisa didonlot di alamat 
http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/files/ :
   
  Mencari Sosok Ibu di Hari Ibu (edisi revisi)
     Andaikan Semua Bulan Ramadhan   
  
--------------------------------------------------------------------------------------------------
   
  BUKAN MENYEMBELIH MANUSIA ATAUPUN BINATANG   
   
  Pada pagi hari tanggal 31 Desember 2006 lalu, sama seperti tahun-tahun  
sebelumnya, umat Islam merayakan Idul Adha dengan melaksanakan shalat berjamaah 
dan kemudian melakukan ritual penyembelihan hewan kurban, yang sebagian 
dagingnya dibagikan kepada mereka yang meminta (mu’tar) dan yang menerima 
tetapi tidak meminta (qanaah).  Sore harinya, seorang anak saya yang telah 
berstatus mahasiswa bertanya kepada saya “Mengapa setiap tahun kita harus 
menyembelih sekian banyak hewan kurban hanya untuk membuktikan bahwa kita taat 
kepada perintah Allah SWT?  Bahkan penyembelihan hewan kurban juga seringkali 
dinyatakan sebagai amal ibadah yang perlu dipertontonkan kepada orang lain.  
Mudah-mudahan saja tidak termasuk dipertontonkan kepada anak-anak yang di 
sekolah diajari gurunya untuk menyayangi binatang. Melihat kenyataan tersebut, 
saya khawatir istilah ‘berkurban’ dalam Islam akan dipersepsikan orang sebagai 
‘menyembelih atau membunuh binatang’ daripada ‘memberikan pengurbanan
 (rizki, tenaga dan pikiran) kita kepada kaum dhuafa dan mereka yang 
membutuhkannya’.”  
   
  Mendengar gugatan anak saya yang bersemangat tersebut saya hanya tersenyum. 
Protes anak saya tersebut mengingatkan saya pada perdebatan antar umat Islam 
tentang ibadah simbolik dan ibadah substantif. Yang dimaksud ibadah simbolik 
adalah  gerakan ritual, cara, jumlah, waktu, dan tempat yang harus dilakukan 
dalam setiap ibadah.  Sedangkan ibadah substantif pada hakekatnya merupakan 
tujuan yang ingin dicapai di balik gerakan ritual tersebut.  Sebagai contoh, 
ibadah simbolik shalat adalah melakukan gerakan badan disertai ucapan 
sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam ketika melakukan shalat. 
Sedangkan substansinya adalah mendekatkan diri kepada Allah supaya kita 
terhindar dari perbuatan mungkar. Ibadah simbolik puasa adalah menahan lapar 
dan dahaga mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, sedangkan 
substansinya adalah melatih diri untuk meningkatkan derajat takwa kita.  
Demikian pula,  ibadah simbolik kurban adalah menyembelih hewan kurban, tetapi
 substansinya adalah membunuh nafsu kebinatangan kita (untuk 
memiliki/menguasai) dengan cara memupuk jiwa pengurbanan kita (untuk memberi).
   
  Sikap menggugat anak saya tersebut di atas barangkali mewakili sikap sebagian 
anak muda lainnya yang tidak rela masyarakat kita hanya memuja simbol dan 
mengabaikan substansi yang tersembunyi dibalik simbol tersebut. Mereka 
kelihatannya juga belum cukup puas dengan penjelasan bahwa menyembelih hewan 
kurban adalah merupakan perintah Allah yang wajib kita ditunaikan. Mereka lebih 
suka menafsirkan perintah Allah tersebut sebagai menyembelih nafsu binatang 
yang ada pada jiwa manusia.  Mereka melihat masalah sosial seperti korupsi dan 
kemiskinan yang melilit negeri ini bukan karena  manusia tidak taat untuk 
menyembelih hewan-hewan kurban, melainkan karena manusia tidak mau mengurbankan 
egonya untuk memperkaya diri sendiri dan tidak mau memberikan sebagian 
kekayaannya untuk kepentingan ekonomi para kaum dhuafa di negeri ini.
   
  Tentu saja pada prinsipnya saya juga mengamini sebagian besar yang telah 
mereka sampaikan.  Bahkan, sejauh yang saya amati melalui beberapa tulisan dan 
sejumlah khutbah yang disampaikan dalam rangka memperingati Idul Adha, sebagian 
besar ulama kita juga menyampaikan kepedulian yang kurang lebih sama dengan 
kepedulian yang telah mereka kemukakan. Pada umumnya, para ulama juga 
menginginkan agar ibadah kurban tidak identik dengan penyembelihan makhluk 
hidup atau hewan-hewan kurban secara massal.  Semestinya, menurut mereka, 
penekanan ibadah kurban adalah pada pengurbanan diri secara ikhlas, untuk 
kepentingan diri sendiri (dalam rangka memelihara hubungan dekatnya dengan 
Allah) dan juga untuk kepentingan orang lain (dalam rangka memelihara hubungan/ 
kepedulian sosialnya dengan sesama manusia).
   
  Namun, ada beberapa hal yang mendorong saya berpendapat bahwa keinginan 
tersebut tidak mudah untuk diwujudkan.  Pertama, karena banyak di antara kita 
sendiri yang menghendaki supaya ritual penyembelihan hewan kurban secara 
massal, sebagaimana yang selama ini dilakukan, tetap dipertahankan.  Banyak di 
antara kita yang merasa belum dekat dengan Allah apabila kita tidak melakukan 
ritual penyembelihan hewan kurban.  Kedua, setiap upaya untuk mengubah ritual 
pengurbanan (penyembelihan) hewan menjadi ritual pengurbanan lainnya (misalnya 
pengurbanan uang, barang atau jasa) akan berhadapan dengan resistensi dari 
sebagian umat Islam yang menghendaki ditegakkannya kemurnian ajaran Islam. 
Mereka yang mencoba menafsirkan kembali ayat-ayat Alquran yang terkait dengan 
penyembelihan hewan kurban harus siap menerima predikat sebagai penyebar ajaran 
sesat.  Ketiga, berbagai himbauan para ulama supaya dalam rangka melaksanakan 
ibadah kurban masyarakat tidak hanya sibuk menyembelih
 hewan-hewan kurban, membagi-bagikan dagingnya dan kemudian mengadakan pesta 
sate nampaknya juga tidak akan mampu banyak mengubah  pemahaman dan keyakinan 
sebagian masyarakat bahwa ibadah kurban identik dengan penyembelihan 
hewan-hewan kurban.  
   
  Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah pandangan sebagian masyarakat 
yang percaya bahwa ibadah kurban identik dengan penyembelihan hewan kurban 
secara massal?
   
  Hal pertama yang perlu kita sadari adalah bahwa itu memang bukanlah  
pekerjaan yang mudah.  Kedua, seyogianya yang kita lakukan bukanlah menghapus 
ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan mengurangi fokus kegiatan 
masyarakat yang berlebihan pada ritual penyembelihan hewan kurban dengan cara 
menciptakan kegiatan-kegiatan pengurbanan baru yang lebih mendekatkan kita pada 
tujuan dibalik kegiatan ritual tersebut. 
   
  Saya sependapat dengan para ulama yang menyeru supaya masyarakat tidak 
terpaku hanya melaksanakan ibadah simbolik kurban dan mengabaikan substansi 
yang tersembunyi dibalik ibadah simbolik. Artinya, ritual penyembelihan hewan 
kurban sebagai ibadah simbolik tidak harus dihapus karena ia pun bermanfaat 
sebagai sarana pembelajaran berkurban bagi mereka dan juga anak-anak yang belum 
mampu memahami, apalagi melaksanakan, apa yang disebut oleh para ulama sebagai 
“pengurbanan diri secara ikhlas, untuk kepentingan diri sendiri dan juga untuk 
kepentingan orang lain”.  Tentu saja yang saya maksud dengan pembelajaran 
berkurban bukanlah mengajari anak-anak untuk menyembelih hewan kurban, tetapi 
mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam membagikan daging-daging kurban, 
terutama kepada para kaum dhuafa. Selain itu, kegiatan-kegiatan lain yang 
bersifat pengurbanan seperti memberikan bantuan (uang, barang, tenaga, emosi 
ataupun pikiran) kepada keluarga miskin dan panti asuhan saya kira
 sudah semestinya untuk kita pertimbangkan sebagai tradisi baru yang perlu 
dirintis dalam rangka merayakan Idul Kurban.
   
  Ketiga, kita perlu mengubah pola pikir berkurban masyarakat dari pola pikir 
tradisional ke arah pola pikir yang lebih rasional.  Minimal ada dua hal yang 
mendorong motivasi masyarakat tradisional untuk berkurban, yakni supaya di 
akhirat nanti mereka bisa masuk surga dan supaya Allah tidak marah sehingga 
menghukum umat manusia dengan bencana. 
   
  Dalam kaitannya dengan motivasi pertama bagi masyarakat tradisional untuk 
berkurban, menurut mereka, ibadah kurban merupakan kendaraan yang bisa 
digunakan untuk mengantar mereka menuju pintu surga. Masalahnya, ibadah kurban 
semacam ini dalam praktek lebih mengedepankan kepentingan individual daripada 
kepentingan sosial. Ibadah kurban yang mereka lakukan dalam konteks untuk 
merebut surga menjadi miliknya, dan sama sekali tidak dalam konteks untuk 
mengubah dunia menjadi surga bagi semua umat manusia.  Untuk mengikis sifat 
egonya yang berlebihan, dan sekaligus juga mengalihkan fokus perhatiannya pada 
penyembelihan hewan kurban,  menurut saya mereka perlu diingatkan bahwa masih 
banyak jenis ibadah lain di luar ibadah kurban yang menjanjikan peluang lebih 
besar kepada mereka untuk menjadi penghuni surga.  Contohnya, sebagaimana 
sering dikhutbahkan oleh para ulama, adalah mendidik anak-anak kita menjadi 
anak yang saleh sehingga di kemudian hari mereka selalu mendoakan yang
 terbaik (surga) bagi orangtuanya. Contoh lainnya, memberikan sedekah untuk 
pembangunan sarana ibadah atau sarana umum lainnya yang memberikan manfaat 
jangka panjang bagi para penggunanya.  Satu hal yang ingin saya tekankan di 
sini, walaupun nilai uang sedekah yang kita berikan lebih kecil daripada nilai 
uang seekor sapi yang dikurbankan, namun pahala yang akan kita terima dan juga 
manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat bukan tidak mungkin akan jauh lebih 
besar. 
   
  Motivasi lain masyarakat tradisional untuk berkurban adalah supaya Allah 
tidak marah dan menghukum umat manusia dengan bencana. Cara-cara primitif 
berkurban yang mengurbankan hewan atau bahkan manusia, supaya Alam atau Allah 
tidak marah, telah kita ketahui melalui berbagai buku sejarah.  Dalam sejarah, 
kita tahu bahwa ritual manusia sebagai kurban (ingat kisah gadis perawan yang 
dikurbankan supaya air di sungai Nil tidak menyusut) telah banyak menuai protes 
karena pada prinsipnya nyawa manusia terlalu berharga untuk dikurbankan demi 
keselamatan manusia lainnya.  Lalu, ritual kurban manusia pun digantikan dengan 
ritual kurban hewan, mulai sapi hingga kambing dan ayam.  Bahkan telor ayam, 
roti dan pisang pun seringkali kita lihat diletakkan di suatu sudut rumah, 
sebagai kurban atau sesaji untuk keselamatan manusia-manusia penghuni rumah.
   
  Berbeda dengan masyarakat tradisional, masyarakat modern yang rasional 
cenderung melihat bencana yang menimpa manusia disebabkan oleh ketidakmampuan 
manusia itu sendiri.  Oleh karena itu, upaya untuk mencegah atau meminimalisir 
dampak buruk bencana bukan dengan cara melakukan ritual kurban hewan supaya 
Allah tidak marah, melainkan dengan cara bekerja keras dan melakukan cara-cara 
inovatif dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.  Dengan 
kata lain, pola pikir berkurban secara rasional menuntut manusia untuk selalu 
mengurbankan tenaga dan pikirannya dalam upaya mencegah dan mengatasi bencana, 
yang menimpa dirinya dan juga manusia lainnya.  
   
  Sekali lagi, saya sangat mendukung perubahan pola pikir berkurban dari pola 
pikir yang tradisional ke arah pola pikir yang rasional.  Walaupun sejujurnya 
harus saya akui bahwa ketika kita sama sekali tidak berdaya menghadapi suatu 
bencana alam yang maha dahsyat seperti bencana tsunami di Aceh, saya melihat 
bencana tersebut sebagai tanda kebesaran Allah dan sekaligus juga tanda 
keterbatasan kemampuan kita sebagai manusia. Meskipun demikian, saya tidak 
ingin berhenti untuk selalu menyeru terutama kepada masyarakat tradisional 
untuk mengadopsi pola pikir berkurban yang lebih rasional. Tidak perlu 
mengadopsinya secara drastis.  Seperti yang sering diucapkan oleh Aa Gym, 
berkurbanlah mulai dari yang kecil-kecil. Misalnya “telor ayam”, “ayam”, lalu 
“kambing”.  
       
  Sekali lagi, mengubah pandangan dan kepercayaan suatu masyarakat tidaklah 
mudah. Diperlukan kesabaran dan juga kewaspadaan yang terus menerus agar ibadah 
kurban tidak direduksi sekadar menjadi kendaraan pribadi menuju surga.  Lebih 
celaka lagi kalau ia digunakan untuk menutupi aib-diri atau mencari popularitas 
yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan. Bila itu terjadi, barangkali kita 
perlu menyimak kembali puisi Sutardji Calzoum Bachri berikut ini.
   
  PARA MUNAFIK ISMAIL
   
  para ismail yang munafik
  bergegas menyodorkan leher
  - sembelihlah kami!
   
  Ibrahim yang hanif bilang
  - tak, kalian tak boleh mati!
  agar menjadi pertanda biar umat waspada
   
   
  budisan
  hp 08156256550
  [EMAIL PROTECTED]
  jl Riung Jembar No. 18 Bandung

 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke