Pak budisan , gimana kalau dilakukan POLIGAMI  POLITIK saja antara pemegang 
kekuasaan dan mantan   pemegang kekuasaan serta komponen  bangsa yang potensial 
 menjalankan roda kehidupan bangsa menuju kesejahteraan rakyat sehingga rakyat 
tidak bingung dan bertambah bingung yang akhirnya menjadi bilung memikirkan 
pangan, sandang ,papan , pendidikan , kesehatan yang semakin melambung 


----- Pesan Asli ----
Dari: Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 24 Januari, 2007 10:09:58
Topik: [Perbendaharaan List] Dari Komunikasi Sampai ke Dewan Revolusi

Dear Milis,

Silakan komentari TTS saya berikut ini.
Semoga bermanfaat.

Salam,
budisan


DARI KOMUNIKASI SAMPAI KE DEWAN REVOLUSI


Menarik sekali menonton sebuah drama politik yang belum lama ini ramai 
dibicarakan orang. Bermula dari macetnya saluran komunikasi politik sejumlah 
tokoh bangsa dengan Presiden Yudhoyono, isu kemudian berkembang menjadi “cabut 
mandat” ketika 19 Desember 2006 lalu Try Sutrisno dan sejumlah tokoh Gerakan 
Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR) lainnya yang getol mengkritik kepemimpinan 
Presiden Yudhoyono mendatangi DPR untuk menyampaikan pesan peringatan kepada 
pemerintah tentang memburuknya situasi di semua bidang kehidupan di negeri ini. 
Aroma “makar” semakin menyebar ketika Hariman Siregar, sejumlah jenderal 
purnawirawan dan para aktivis pendukung reformasi (termasuk penasehat presiden, 
Sjahrir) turun ke jalan bergabung dalam barisan “Pawai Rakyat Cabut Mandat”. 

Adegan drama politik mencapai puncak yang menegangkan ketika Presiden Yudhoyono 
mencium adanya gerakan Dewan Revolusi yang diketuai oleh Jenderal (Purn.) 
Tyasno Sudarto dan bertujuan menjatuhkan pemerintah. Walaupun masih menyisakan 
ketegangan, drama politik akhirnya ditutup dengan perasaan ‘plong’ setelah ada 
klarifikasi dari Tyasno Sudarto bahwa yang ia ketuai adalah Gerakan Revolusi 
Nurani, dan istilah Dewan Revolusi sebenarnya masih merupakan wacana. Zulkifli, 
fasilitator dalam dialog Kongres Rakyat Indonesia 7 Januari 2006 lalu yang 
melahirkan ide Dewan Revolusi, menambahkan bahwa istilah yang lebih tepat 
sebenarnya bukanlah “Dewan Revolusi”, melainkan “Dewan Penyelamat Revolusi 
1945”.


Ketidakpuasan Mantan Atasan yang Berbeda Haluan

Ada beberapa hal yang layak kita simak dari sejumlah adegan yang ditampilkan 
dalam drama politik tersebut di atas. Pertama, ketidakpuasan dari sebagian 
mantan atasan Presiden Yudhoyono yang berbeda haluan. Saya katakan berbeda 
haluan dalam konteks pengertian bahwa Try Sutrisno dan sejumlah mantan pejabat 
negara lainnya, berbeda pendapat dengan Presiden Yudhoyono, menghendaki agar 
UUD 1945 tetap dipertahankan (tidak diubah/diamandemen) dan pemilihan presiden 
dilaksanakan dengan cara perwakilan. Sebagai mantan atasan semestinya saran dan 
pendapat mereka diperhatikan, dan akan lebih memuaskan mereka apabila ia juga 
dilaksanakan. Namun jangankan diperhatikan, minta ijin untuk bertemu dengan 
Presiden Yudhoyono saja ditolak oleh lingkaran dalam istana dengan berbagai 
macam alasan. Masalahnya, penolakan terhadap ijin bertemu dengan presiden 
tersebut sudah terjadi berkali-kali. Apakah mantan pejabat terhormat sekelas 
Try Sutrisno harus juga tunduk pada prosedur protokoler
istana dan diperlakukan sama dengan warga biasa lainnya? 

Di sisi lain, orang-orang di lingkaran dalam istana nampaknya juga 
berkepentingan agar Presiden Yudhoyono tidak dipengaruhi atau ditekan oleh para 
mantan atasannya yang berbeda haluan. Selain itu, menurut mereka, kalau hanya 
ingin menyampaikan saran atau gagasan untuk menyelesaikan permasalahan 
memburuknya situasi di semua bidang kehidupan saat ini, bukankah itu bisa 
disampaikan secara tertulis dalam bentuk makalah atau buku? Biar masyarakat 
juga ikut menilai apakah gagasan tersebut memang layak untuk dilaksanakan dan 
apakah mereka juga akan menyetujuinya. Silakan sampaikan kritik, argumen dan 
solusi secara terbuka melalui berbagai media. Semoga, bagi masyarakat, itu akan 
merupakan proses pendidikan politik yang sangat berharga.

Ketidakpuasan terhadap Permainan Senayan 

Kedua, ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap mereka yang ada di dalam 
gerbong politik Senayan yang dinilai telah menyandera lokomotif ekonomi 
Pemerintah yang sedang diupayakan untuk berjalan. Hariman Siregar dan sejumlah 
tokoh LSM lainnya pasti sangat concern (baca: mengkritisi) terhadap permainan 
“tawar-menawar” senayan. Sebagai penasehat presiden, Sjahrir pasti tahu banyak 
tentang sulitnya menjalankan roda ekonomi dengan beban yang sengaja dibuat oleh 
sebagian politisi senayan. Tawar-menawar produk hukum dan kebijakan sudah lama 
menjadi tradisi di senayan. Celakanya, pemerintah seringkali merasa tidak 
berdaya dan terpaksa terlibat dalam permainan di senayan. Kalau orang-orang 
cerdas dan idealis dalam senayan dan pemerintahan (yang notabene jumlahnya 
sangat banyak) saja selama ini tidak mampu mengubah tradisi tawar-menawar 
produk hukum dan kebijakan di senayan, lalu apa sekarang semestinya yang harus 
kita lakukan?

Hariman, Sjahrir dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya memilih melakukan 
tekanan kepada pemerintah dan juga senayan melalui aksi parlemen jalanan. 
Tujuannya adalah agar pemerintah dan juga senayan berfungsi sebagai lokomotif 
pembangunan. Isu “cabut mandat” hanyalah kiasan yang bertujuan untuk menekan 
(baca: menakut-nakuti) pemerintah. Mereka bilang, kalau semua orang senayan dan 
sebagian pejabat pemerintah telah memenuhi ruang di dalam gerbong penumpang dan 
hanya sebagian kecil dari mereka yang bersedia mengendalikan lokomotif 
pembangunan, lalu bagaimana dengan nasib sebagian besar rakyat kita?

Satu hal yang perlu kita cermati, kalaupun Hariman dan para pendukung aksi 
cabut mandat lainnya saat ini telah mencabut mandat yang dulu pernah mereka 
berikan kepada Presiden Yudhoyono, saya kira mereka pun kini masih bingung 
kepada siapa mandat yang telah mereka cabut tersebut nanti akan diberikan. 
Untung Hariman dengan tegas telah menyatakan (meralat?) bahwa aksi cabut mandat 
SBY-Kalla-nya sama sekali tidak dimaksudkan untuk impeachment. Dengan demikian, 
para politisi di senayan tidak lagi harus pusing memikirkan siapa calon 
penggantinya dan merancang bagaimana skenario politiknya. Sementara kita yang 
menonton hanya bisa terheran-heran, memikirkan ulah Hariman. 

Revolusi di Alam Demokrasi

Ketiga, suatu fenomena yang barangkali kedengarannya agak aneh bahwa suara 
revolusi ternyata masih terdengar bunyinya di tengah hiruk pikuk wacana 
demokrasi yang hingga kini masih mencari bentuk yang pas untuk kebutuhan bangsa 
kita. “Revolusi belum selesai”, kata Zulkifli. Alasannya, karena hingga kini 
belum ada perubahan yang radikal dari sistem kolonial ke sistem republik. Lalu, 
revolusi macam apa yang harus kita lakukan supaya perubahan mendasar tersebut 
dapat segera kita wujudkan? Revolusi Industri di Eropa Barat? Revolusi Perancis 
yang identik dengan pemenggalan kepala raja dan para pendukungnya? Revolusi 
Nurani-nya Tyas Sudarto? Atau barangkali Revolusi 1945 yang merupakan nostalgia 
bagi para pejuang kemerdekaan kita? 

Dalam pengertian politik, kata “revolusi” identik dengan pengambil-alihan 
kekuasaan secara paksa atau kudeta. Dalam masa peralihan kekuasaan dari Suharto 
ke Habibie, “kudeta” berdarah ala G30S-1965 diharamkan tetapi “kudeta” parlemen 
jalanan diperbolehkan. Sementara dalam masa transisi dari Gus Dur ke Megawati, 
“kudeta” justru dilakukan oleh para wakil rakyat di senayan. Setelah itu, kita 
lalu berseru: “Kudeta No! Demokrasi Yes”.

Revolusi dalam pengertian kudeta jelas merupakan musuh besar demokrasi. Namun, 
ada sejumlah revolusi yang cukup ramah dan dapat diterima di alam demokrasi. 
Revolusi teknologi informasi, revolusi biru (nutrisi) ciptaan Saputra, dan 
revolusi hukum atau revolusi konstitusi adalah beberapa diantaranya. Pertanyaan 
saya, revolusi manakah yang sebenarnya kita inginkan? 

Yang jelas, sebagaimana telah saya sebut dimuka, Try Sutrisno dan sejumlah 
mantan pejabat negara lainnya memang tidak menyetujui adanya revolusi 
konstitusi. Kecuali barangkali kalau yang dimaksud dengan revolusi konstitusi 
tersebut adalah menghapus kembali amandemen UUD 1945. Lalu pertanyaan kita, 
sejauhmana sebenarnya hubungan antara perubahan konstitusi dan kinerja 
pemerintah yang memburuk di segala bidang saat ini? 

Try Sutrisno dan sejumlah tokoh kita lainnya mengatakan bahwa selain tatanan 
kenegaraan yang tidak benar, kepemimpinan nasional kita juga sangat lemah. 
Menurut saya, ada dua pilihan yang bisa kita lakukan. Memperkuat kepemimpinan 
nasional yang ada sekarang ini, atau menggantinya dengan kepemimpinan nasional 
yang baru. 

Masalah pilihan pertama adalah bagaimana cara memperkuat kepemimpinan nasional 
yang ada sekarang ini? Apakah dengan cara memberikan kewenangan (kekuasaan) 
yang lebih besar lagi? Atau dengan cara memperkuat Tim Dewan Penasehat? Atau 
barangkali dengan cara memberikan tekanan (pressure) kepadanya melalui 
aksi-aksi demo jalanan? 

Sedangkan masalah pilihan kedua adalah siapa pemimpin nasional kita saat ini 
yang layak untuk menggantikan kepemimpinan SBY-Kalla, agar situasi yang 
memburuk di segala bidang kehidupan saat ini dapat segera diatasi? Masalah 
lainnya, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan pemimpin nasional kita yang 
lemah, yang harus kita perkuat atau kita ganti? Apakah Presiden Yudhoyono, 
SBY-Kalla, tim Kabinet Indonesia Bersatu, atau semua pemimpin di 
lembaga-lembaga negara kita? 

Bagi saya, berhasil atau gagalnya suatu negara ditentukan bukan hanya oleh 
kinerja kepemimpinannya (leadership) tetapi juga oleh kelembagaannya 
(institution) . Seorang Lee Kuan Yew yang diimpor ke Indonesia untuk dijadikan 
Presiden R.I. mungkin akan frustrasi kalau semua anggota kabinetnya tidak mau 
diatur dan pekerjaan mereka hanya tidur. Sebaliknya, Presiden Amerika boleh 
saja seharian tidur atau bahkan sama sekali tidak ada, tetapi kalau wakil 
presiden dan semua pemimpin di lembaga-lembaga negaranya selalu kompak dalam 
menetapkan dan melaksanakan kebijakan-kebijakan negara, keberhasilan negara 
hanyalah masalah waktu. Tentu saja kita menginginkan kedua-duanya, kepemimpinan 
dan juga kelembagaan. 

Transisi menuju demokrasi memang merupakan pilihan ketatanegaraan yang 
seringkali melelahkan dan menuntut banyak kesabaran. Seandainya saya tahu bahwa 
jalan demokrasi yang kita lalui sekarang ini adalah jalan menuju kegagalan dan 
kehancuran, barangkali saya pun akan lantang berseru, “Berlakukan Dekrit 
Presiden!”. Bukankah begitu Bang Buyung?



budisan
hp 08156256550
budisan_2005@ yahoo.com
jl Riung Jembar No. 18 Bandung 


------------ --------- --------- ---
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]





                
________________________________________________________ 
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
http://id.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke