Mutasi,
memang menimbulkan banyak masalah, terutama bagi yang sudah
berkeluarga, dan lebih lagi bagi yang di pindah ke tempat yang lebih
terpencil. Saya sangat bisa membayangkan kondisi dan dilema yang
sedang dirasakan kawan Kita.

Saya pernah mengalami kondisi dilema demikian.Walau dengan kondisi
yang berbeda, tapi nuansanya sama. Ketika itu,Saya coba berusaha untuk
berpikir tenang, berdo'a, dan menuliskan (dikertas) semua kemungkinan
(alternatif), resiko, dan prospek ke depan.

Waktu itu pilihan terbaik adalah tetap bersama keluarga. resiko
terberat di keluarkan. Resiko teringan adalah di pindah sesuai
pilihan, tapi diturunkan pangkat (sy sdh siap utk dianggap lulusan SMA
 bahkan SMP). Ternyata....

Ketika di sidang pengadilan "Bagian kepegawaian"
Mutasi saya dianggap nasib yang tidak bisa dirubah " ya, terima saja,
sudah nasib !"
Hmmmm....begitu tidak pedulinya kantor ...
bahkan dengan embel-embel...
"wah kalau di bolehkan, nanti semua minta dispensasi, kan semua bisa
bikin surat...!"
Saya tidak membayangkan sebelumnya kalau bagian kepegawaian akan
menghadapi masalah saya dengan kalimat2 tersebut. 

saya bayangkan kemudian apabila sy harus pindah2 lagi, dari suatu
tempat terpencil ke tempat terpencil lainnya, masa kerja kita kan
masih puluhan tahun. Tapi juga terbayang kalau begitu sulitnya
kehidupan dan sulitnya mencari kerja. Belom lagi hutang karena
melanggar ikatan dinas. Gelap rasanya. 

Bismillah, Esoknya langsung saya mulai baca lowongan kerja di koran,
dan mulailah kehidupan mencari kerja dari pintu ke pintu.Tanya
informasi dari kawan ke kawan. Pengalaman ini  dikemudian hari
ternyata sangat saya syukuri. Begitu indah pengelaman melamar kerja,
ditolak, ditipu, tes ini tes itu.  Kerja dengan jam yang tidak jelas,
pulang larut malam...harus mulai lagi karir dengan gaji seadanya...


in the other side...
Tapi setiap hari Saya bisa melihat wajah anak saya...
Setiap detik saya bisa telpon anak saya
saya bisa jadi kawan dan sahabat setia anak saya..
saya bisa becanda, ketawa, ketiwi dengan anak istri..
setiap hari...
saya bisa menyaksikan langsung pertumbuhan anak saya..
Bisa menghibur anak ketika sakit.
Bisa mendongeng ketika anak berangkat tidur...

semuanya kerja keras saya rasakan tidak ada apa2 nya dibanding
kenikmatan yang diterima...

Alhamdulillah 

semoga bisa jadi inspirasi buat mas nugroho, saya turut merasakan
peningnya dilema ini.

Indra Jabrix





--- In [email protected], "gien" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Membaca curhatan mas nugroho membuat saya terharu.Betapa berat cobaan 
> yang dihadapinya.Buat anggota milis laennya yg bekerja di bagian 
> kepegawaian/mutasi mohon dibantu saudara kita ini.Tolong didengar 
> curhatannya.Coba bayangkan kalo saya,kita,kalian di dalam posisi mas 
> nugroho.Tentunya kita akan sangat sedih menghadapi cobaan semacam ini.
> Ingat,4JJI pasti akan membalas jasa baik orang yang mau membantu 
> sesama...
> Semoga mas nugroho diberi ketabahan dan kemudahan oleh Yang Maha 
> Kuasa.Amin....
> 
> 
> --- In [email protected], <nugroho_juli@> wrote:
> >
> > Kepada Teman2 DJPBn,
> > 
> > Nama saya Nugroho, anak pertama saya Bintang Hanan Razan saat ini 
> berumur 4 tahun mengalami autis, berbagai cara sudah kami tempuh sejak 
> umur Bintang 2 tahun 3 bulan diantaranya pemeriksaan telinga, terapi 
> wicara di klinik tumbuh kembang, terapi akupunktur di Prof Hembing 
> Wijayakusuma, dan terakhir terapi di klinik Mandiga (dekat BPPK 
> Purnawarman). Namun perkembangannya sangat minim sampai ibunya 
> khawatir sekali. Berbagai Playgroup sudah kami coba supaya Bintang 
> mengenal lingkungannya, tapi bukannya bantuan yang didapat malahan 
> penolakan baik cara halus maupun kasar dengan berbagai alasan.
> > Mulai bulan Oktober 2006 saya dipindahtugaskan ke KPPN Luwuk 
> Sulawesi Tengah sebagai pelaksana. Sekarang tugas nganterin ke Klinik 
> Terapi pindah ke istri saya karena mereka (istri dan 2 anak saya) 
> tinggal di Jakarta. Tiap Selasa dan Kamis berdua naik motor dari 
> kebayoran lama ke tmp klinik sementara adiknya (umur 1 tahun) 
> dititipin di sebelah rumah. Pusing mikirin mereka karena istri saya 
> harus berjuang sendiri (saudara pada mikirin urusannya sendiri) dan 
> biaya terapi tidak sedikit ditambah menu makanan khusus untuk anak 
> autis.
> > 
> > Mudah2an kami sekeluarga diberikan kekuatan untuk menyelami hikmah 
> apa yang terkandung.
> > 
> > Saya cerita disini karena mungkin ada secercah harapan apapun 
> bentuknya baik itu nasihat atau apa saja agar saya kuat bertahan 
> disini, karena saat ini sudah sampai diujung tanduk keputusan untuk 
> pulang ke jakarta dan keluar dari djpbn. Gila mikirin ini... 
> > 
> > Terima kasih
> > 
> > Nugroho Juli Purnama
> > KPPN Luwuk
> > Hp. 0813 85 15 19 14
> >
>


Kirim email ke