Saya hanya sekedar memberi tanggapan da sekedar komentar ttg
pengurangan jam kerja...
Klo dilihat sepintas emg jam kerja kita kelihatan gak efektif,tapi tgg
dulu gak semuanya loh yang kayak gitu (dateng jam 9 plg jam 4 )..
Mari kita lihat secara keseluruhan dalam unit kerja kita masing2...
Saya rasa pasti ada saja seksi/bidang yang mesti pulang sore...Gak di
pusat dan gak juga di daerah...Sebagai contoh seksi bendum yag ada
pada KPPN..Semua uda tau klo seksi bendum lah yang paling lama pulang
dalam lingkup KPPN..(dari awal kul pun uda dikasih tau oleh para
widiaswara )...Bayangkan klo seandainy jam kerja kita cuma setengah
hari,gimana akan repotnya seksi bendum untuk memproses peerimaan dgn
waktu yang singkat...Apalagi didaerah yang penerimaan/bank persepsiya
cukup banyak...Akan sangat kewalahan...itu merupaakan kerjaan yang
rutin,blm lagi klo ada kerjaan yg gak rutin,pasti gak cukup dhe...
Walaupun emg gak setiap waktu seksi bendum harus kerja,hanya waktu2
tertentu,tapi ttp butuh waktu sampe jam 5 kdg mpe lebih...
peerimaan dari bank terkadang datang lama bgt,dgn alasan yang berbagai
macam lah....Tapi pada dasarnya seksi bendum ttp butuh waktu
extra,tanpa ada imblan yang lebih...(kasian).
Dan juga saya rasa kebijakan kita kerja sampe jam 5 didasarkan pada
sistem 5  hari kerja,apa munkin kita sekarang mau 6 hari kerja...Saya
rasa lbh menguntungkan dgn sistem 5 hari kerja...
saya rasa ( gak tau klo yang laen ),waktu kerja gak jadi terlalu
masalah,tergantung bagaimana memanfaatkan waktu yang diagp kosong.
Karena sering kali setiap pegawai menumpuk kerjaan....
Halini yag sering kali menjadi terlihat bayak waktu yg gak efektif....
Oke bro mungkin segini aja komen dari saya,mohon tanggapannya....

Have a nice work... 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> NUMPANG SARAN :
> 
> Alih-alih pengen naik gaji justru saya lagi pengen adanya pengurangan
> jam kerja.(Atau tepatnya rasionalisasi) Apa iya Jam 7.30-17.00  itu
> sudah effektif. Lihat saja sekitar kita (Atau diri sendiri???) Jam 9
> baru dateng jam 4 sudah pulang. Sebaiknya sih dirasionalisasi jam
> kerja saja, terus buat yang bener2 ada kerjaan diberi uang lembur yang
> rasional. Ya lumayan kan bisa lebih sering kumpul keluarga, buat yang
> berorientasi lebih baik ngumpul dibanding cari uang. Atau bisa untuk
> menyeleksi siapa aja sih yang bener2 diperlukan di organisasi ini.
> Buat yang gak cocok dengan organisasi ini, bisa juga nyari tambahan di
> luar jam kerja. Misalnya jam 2 udah pulang nih... ntar Malam jam 7
> bisa jualan ama istri hi hi hi  
> Ya setujulah dengan Mba Ani (cie sok Arkrab) tentang pembedaan (tapi
> tetap PGPS perlu). Ibaratnya PGPS itu cuma booking fee doang. Nanti
> mengenai upah tambahannya diperhitungan dengan profesionlisme karyawan
> yang bersangkutan. Sebenarnya berapa takehome pay yang layak bisa
> dilihat juga dari uang 'gebetan' kegiatan rutin yang diproyekkan itu.
> Jadi orang gak usah nungu2 masuk tim buat berbuat. Ya mudah2an sih
> organisasi kita bisa menjadi lebih baik. Suatu keniscayaan bagi kita
> bahwa orang yang lebih baik akan menggantikan orang yang lebih buruk.
> Jika terjadi yang sebaliknya tinggal tunggu kehancurannya.
> 
> NB: Cleaning Service perbendaharaan perbulan 250 ribu, jam kerjanya
> lebih lama dari pegawai. 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], Budi Santoso
> <budisan_2005@> wrote:
> >
> > 
> > 
> > vinz84232 <vinz84232@> wrote:          Benar, saat ini kultur &
> kebiasaan kita SEHARUSNYA sudah berubah. Dan barangkali KENYATAANNYA
> pun juga sudah berubah, walaupun perubahan tsb tdk/blm memuaskan shg
> saya lbh suka mengatakan (kenyataannya)belum berubah.  Saya sendiri
> berpendapat sbaiknya organisasi dan juga kita  sbg individu-individu
> terus melakukan perubahan yg kita yakini positip. Klo kita tdk/blm
> mampu mengubah organisasi krn kita bukan CEO sebaiknya spt kata Aa Gym
> mari kita ubah diri kita masing-masing. Banyak ulama yg berpendapat
> bahwa kalau mayoritas individu berubah maka organisasi juga cenderung
> akan berubah ke arah yg sama (itu kalau kita lihat organisasi sbg
> kumpulan individu).  Walaupun saya juga percaya peran organisasi dan
> juga leadership sangat penting artinya utk mendukung terjadinya
perubahan.
> >    
> >   Salah satu kebiasaan kita yg menurut saya perlu diubah adalah
> kecenderungan untuk memproyekkan pekerjaan kita yang bersifat rutin,
> yg merupakan tupoksi kita dgn tujuan utk mendapatkan/menciptakan
> tambahan penghasilan.
> >   Dalam konteks reform birokrasi, perubahan kultur PNS yg diharapkan
> adallah dari Abdi Negara menjadi Pelayan Publik/Masyarakat.
> >   Dalam konteks talk-show Menkeu ketika membuka rapim DJPb td malam
> (11 April 2007), perubahan kultur yg diharapkan adalah (dgn bhs saya)
> dari "mengharapkan tingkat remunerasi sama utk semua peg DJPb" ke
> "mengharapkan tingkat remunerasi beda tergantung kinerja".  Dalam
> konteks tsb Menkeu bilang "We should discriminate.....not PGPS (Pintar
> Goblok Penghasilan Sama)".  
> >   Any comment?
> >    
> >   salam,
> >   budisan        
> >   --- 
> > Maaf Pak Budi San, bukankah saat ini kultur & kebiasaan kita
> > seharusnya sudah berubah? Karena proses perubahan itu sudah
> > semestinya berjalan sampai saat ini dan seterusnya?!
> > Kalo menurut saya, sekarang tinggal bagaimana organisasi mengambil
> > kebijakan yang tepat untuk menjaga konsistensi dan langkah-langkah
> > dalam menginternalisasikan values dalam perubahan kultur organisasi
> > agar tidak terlepas dari visi/misi perubahan itu sendiri(seperti:
> > kesalahan memahami reformasi, proses 'buy-in' yang tidak berjalan,
> > dsb).Satu hal lagi,yang bertangungjawab dan menentukan keberhasilan
> > perubahan organisasi adalah change makers dan para change agents.
> > Siapakah mereka itu? tentunya CEO lingkup DJPB itu sendiri. 
> > 
> > 
> > 
> >          
> > 
> >        
> > ---------------------------------
> > We won't tell. Get more on shows you hate to love
> > (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke