lanjutan tanggapan nih. idenya muncul waktu tadi pagi ke kantor. saya jadi ingat waktu perjuangan dulu di perbatasan indo-ausie, waktu itu kita prodip bertiga semangat mau promosi stan ke sekolah2 di sana yang ternyata bener2 ga tau ada sekolah kedinasan yang namanya STAN. tapi karena kita ijin kantor eee.. malah kepala kantor ga ngijinin soalnya beliau takut jangan2 ketika kita promosi stan ga jadi terima murid lagi kan berabe. heheh...
ya udah deh ga jadi promosi, dan waktu tiba ujian nasional lalu diumumkan ternyata hasilnya hanya 10% seluruh murid smu se kabupaten yang lulus ujian nasional itu pun dengan nilai yang tidak lewat standar kualifikasi pendaftaran stan. ada yang lewat standar cuman 2 tapi lebih tertarik jadi polisi dari pada pns depkeu (lebih keren kali yaa..). nah pendapat saya untuk memperbaiki usulan mas kobir: 1. dari pada entar idenya berkembang jadi d3/d1 sebanyak mungkin di daerah, mendingan kita usul ke bppk supaya eks lulusan stan diperbolehkan membentuk semacam seleksi murid berbakat di tiap kabupaten, 2. tugas kita di kppn di daerah, bisa menerima pendaftaran, seleksi administratif, tutor, ngawasi ujian nasional 3. mencegah seandainya tiba2 lulusan lokal yang lulus UAN tapi dengan standar minimal maka kita bisan mendapat diskriminasi persayaratan pendaftaran, intinya murid kita tetap boleh ikut ujian nasional penerimaan STAN 4. penentuan penerimaan berdasarkan murni hasil ujian nasional stan yang standarnya sama di seluruh indonesia 5. nah ongkos pemberangkatan lulusan dari wilayah tempat kita tadi kita bantu baik lewat dana kantor atau memang resmi dari bppk, 6. pendaftaran model ini hanya dilakukan di daerah yang bener-bener ga kejangkau bppk terutama soal pendaftaran dan ujiannya. di saumlaki klo mau ujian harus ke kupang atau manado, fyi, ongkos saumlaki ke manado klo naik pesawat PP sekitar 4 juta, klo naik kapal sekitar 10 hari. saumlaki-kupang pesawat ga bisa harus ke surabaya dulu, kapal perintis 7 hari bareng kambing, kerbau, dan babi (yang disaumlaki udah pada nyoba serunya blum?) menurut saya cara ini lebih murah, fair, dan lebih bisa menjamin bahwa sodara2 kita di perbatasan dapat meniti karir di depkeu dan djpb khususnya mohon perbaikan dan tambahan ide dari teman2 sekalian salam --- In [EMAIL PROTECTED], "lion" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > kaya nya sih idenya mas kobir ini udah pernah saya dengar di bppk > sempat dijalankan juga tapi jadi masalah karena standar hasil ujiannya > jadi ga sama dari sabang sampai meroke, klo disamakan orang asli timur > ga ada yang lulus, kalo yang timur dibantuin nilainya sama aja boong > soalnya ketika kerja orang timur relatif ga efektif (tentu banyak yang > dikecualikan yaa..) nah klo diijinkan orang barat ujian di timur untuk > ngisi menyaingi lulusan sana, orang sanannya yang marah2 ga terima > soalnya pasti mereka yang asli timur ga pada lulus ga dapat kerja > dong. bahkan diperparah lagi pada bikin isu penjajahan orang jawa di > timur laa gimana klo semua pnsnya ternyata orang jawa too.. serba salah. > > jadi ketika mutasi nasional digulirkan sebenarnya untuk mengurangi > ketimpangan sdm dari sabang sampai meroke, maksudnya negara baik > supaya kantor disana dapat diisi orang lokal tapi bisa seefektif > kantor2 di wilayah yang sudah maju. tetapi, banyak diantara kita yang > "manja" ketika terpelanting di sana pada berharap mutasi sementara > yang berhasil "mendekam" di jawa pada ga mau ikut mutasi. lama2 > ngobrolin mutasi jadi kayak debat kusir aja ga ada ujung akhirnya. > mendingan solusi yang baik sknya ada jam kadaluarsanya kali yaa. kaya > sppd gitu cuman jangkanya fix misalnya 3tahun. lewat masanya ya > diperbaharui lagi secara otomatis, yang nolak dipecat aja baik ce co > masih muda pa udah tua, udah nikah pa belum, dah punya anak pa cucu, > menurut saya jauh lebih efektif dan fair buat semua orang. > > salam >
