Zam-Zam anu kasep pisan saha sadayana...
Kumaha damang? Saya kuliah lagi di sini ambil Master Commerce 
(Economics&Finance) dari program APS (Australian Partnership Scholarships). 
Sekarang lagi "break" tengah semester, jadi sempat baca2 email dan kadang 
posting meski harus secepat kilat ngetiknya. Alhamdulillah, saya sudah 
berkeluarga, istri dari Bojonegoro, anak pertama laki2 umur 7 th, kedua 
perempuan 4th. Mereka semua saya bawa ke Australia dan sekolah di Australian 
Islamic School. 

Boleh saya dikenalin dengan Iwan Kurniwa, karena saya juga senang kenalan dan 
punya banyak teman. Saya juga ingin bisa ketemu dengan teman2 seangkatan, adik 
kelas, senior2, dan semua yang ada di milist yang belum saya kenal karena tidak 
pernah satu tempat tugas atau pendidikan. Suatu saat saya ingin bertemu dengan 
pak Budisan yang tulisannya amat bagus, informatif, dan lugas. Pak Hari Ribawa 
yang biar sudah eselon II masih sempat aktif di milist (saya sempat search 
image di google karena penasaran, teman sekelasnya Pak Dir ya Pak?). Freeday 
yang ahli komputer dan cakap menulis, Mas Zainal74 yang teduh, Mas Amir S. 
Yahya yang inspiratif, Pak Eko yang menulis terstruktur, Astri yang paling 
cantik, Mas Indra Jabrix dari "dunia lain", Lion yang cermat, Frans Simarmata, 
Jamur Kuping Hanafi, Kank Anam (yang di Perpus?), Mamat Bowo (DIV langsung 
ya?), Irvan Sidoarjo dsb...

Yang pasti saya sudah kenal ya Cimoth Moudy(candidat Phd) teman bareng UPKP 
V&VI, Wahyu Musukhal sang motivator yang lagi ambil Master of Human Resources 
di Melb, Lutfie Akmal & Seti Gaut teman di DIV, Mas Rio, Mas Hendra A. 
Probolinggo, Aa' Abdul Haq moderator (fotonya doang di YM, terima kasih udah 
didaftarin dari jauh)dsb.. dan pasti masih ratusan dan mungkin ribuan yang 
pasif sebagai pembaca setia...Ngomong2, teman kita angkatan 1994 mana ya selain 
kamu Zam? 

Terima kasih sekali lagi kepada Aa' Abdul Haq karena beliau saya bisa masuk 
milist ini setelah cari di google. Jadi tahu sepak terjang dan perkembangan 
kantor kita. Oh ya Zam, teman2 kita seperti Bulluck, Ade, dan Indras dll pada 
pindah ke DJA. Saya mengucapkan selamat menjalankan tugas negara dimana pun 
dengan sebaik2nya.

Oh ya, ini ada sedikit oleh2 cerita/renungan/gambaran/perjuangan dari sisi lain 
di negeri "teroris" ini. Mungkin sudah tidak "update" karena reply dari 
tanggapan Wahyu Musukhal "tentang korupsi" dan CRV, waktu pertama kali saya 
jadi anggota milist. Semoga bisa diambil hikmahnya, jadi motivasi, dan 
pelajaran bagi kita semua dan para pembuat kebijakan di DJPB. Inti dari copy 
tulisan berikut ini adalah: "Mengapa saya sekeluarga baru sejahtera 
kehidupannya setelah tugas belajar di luar negeri dan sebagai "cleaning 
service" di negeri orang?" Bukan pada saat tugas belajar DIV? Bukan/belum 
bahkan pada saat saya sudah golongan III/B jadi pegawai Depkeu/DJA/DJPB yang 
tidak korupsi (??) dan pindah2 terus? Bagaimana nasib rekan-rekan saya yang 
golongannya di bawah, tidak biasa hidup susah seperti saya, dan belum 
seberuntung saya? Saatnya kita berubah terutama dalam soal mutasi, fasilitas 
rumah, dan remunerasi! Saya punya mimpi, bahwa kita harus bangga menjadi warga 
DJPB sekarang dan
 suatu saat nanti dan tentunya bisa melayani dengan baik bagi rakyat Indonesia 
untuk kesejahteraan mereka. Mungkinkah? Tidak ada yang tidak mungkin, kecuali 
memakan kepala sendiri....

Hi Mas Wahyu dan rekan semuanya,
 
Apa kabar Mas Wahyu dan teman-teman semuanya? Perkenalkan saya Muhammad Abdul 
Khobir, baru pertama kali ini masuk di mail list ini. Kangen rasanya ingin 
ketemu teman2 lama, silaturahmi dengan para senior, serta berkenalan dengan 
adik-adik baru yang pastinya lebih fresh dan kinclong.
 
Mas Wahyu, kalau ingin punya Innova dan CRV, tanpa sesenpun korupsi, Insya 
Allah bisa kok, apalagi setelah pulang dari Melbourne nanti. Jadi, tidak perlu 
tersinggung atau tidak enaklah sama Bang Taufiq karena kata suami Teh Ninih, 
kalau tersinggung berarti......apa hayo!:). Berani karena benar lho ya, bukan 
berani malu...karena kala sudah tidak punya malu, berbuatlah sesuka kita, dan 
tentu bakal malu-maluin banget dah hidup di planet ini dan di hari 
peng-hisab-an (bukan penghisapan, red.) nanti. Ingin rasanya saya membesarkan 
tingkat kemaluan saya, untuk menebalkan iman, tidak perlu ke Mak Erot, whalah! 
Oya, bicara soal nggak enak sama orang lain (pakewuh kali ya bahasa 
Inggris-nya..) itu konon juga ciri ketidak-ikhlasan beramal ya..seperti: mau 
masukin uang seratus ribu di kotak amal, ah nggak enak sama sebelah, jadinya 
nggak jadi deh, atau biar masuk kotak juga. Tapi khan, kalau tangan kananmu 
memberi, jangan sampai tangan kirimu tahu..wadaw tau ah iyap jadi ruwet.
 
Mau tahu caranya? Bukan MLM bukan sulap bukan sihir. Salah satu caranya adalah, 
saat Mas Wahyu nanti ke Australia, selain belajar, sebaiknya kerja part-time 
job (kalau warisan sudah banyak sih, gak perlu..he he he). Bisa jadi cleaner, 
waiter, pramuniaga, atau apa sajalah...(jadi, hormatilah mulai sekarang, para 
cleaning service kantor dan mbak/mas yang melayani kita di warteg itu, siapa 
tahu suatu saat kita berganti peran..:). Halal, legal, mahal, dan otot2 kita 
jadi lebih kenyal Mas. Per jam sekitar Rp100 ribu. Kita boleh bekerja 
20jam/week, kalau pasangan kita malah boleh full time. Jadi kalikan saja dengan 
masa 2 tahun misalnya. Bukan cuma si-er-vi, tetapi naik haji, atau beli rumah 
semacam di PJMI juga bisa kalau Allah menghendaki itu rejekinya telah sampai. 
Kalau cleaning service-nya saja segitu, berapa gaji PNS di Australia, kira-kira 
saja sendiri (belakangan saya tahu,pegawai baru, 12 ribu dolar per bulan). Saya 
punya teman sekelas, yang bekerja di Departement of
 Treasury-nya Western Australia. Tentu saja saya idak pernah bertanya tentang 
salary-nya karena secara mereka itu "impolite question". Cuma secara fisik, 
kalau ke kelas selalu pakai formal dress jas dasi rapi, mobilnya direktur saja 
kalah kali ya, padahal dia clerk biasa seperti kita tingkatannya (saya 
huznudzon dia tidak korupsi, atau amat kecil kemungkinannya karena sistem yang 
ada), tetapi dia juga sering naik angkutan umum transperth (seperti busway, 
bukan seperti metromini). Saya hanya bertanya di seputar sistem perbendaharaan 
mereka dan manajemen SDM mereka (cocok nih buat Mas Wahyu...). Yang ringan2 
saja, mereka berangkat dan pulang kantor on time, maksudnya, tidak pernah kerja 
over time (lembur) karena government harus membayar mahal pegawainya. 
Seandainya pun pernah lembur, maka keesokan harinya dia boleh off. Asyik ya, 
udah dibayar mahal masih boleh libur keesokannya. Coba di kita, sering harus 
pulang malam atau kadang gak kerja juga ikut2an pulang telat sampai
 malam (mungkin untuk menghindari macet, mungkin kerjanya tidak efektif, 
mungkin overload karena pembagian kerja tidak merata, mungkin jadi orang 
kepercayaan, mungkin gak enak sama yang belum pulang (nha..ini lagi bukti 
su"udzon, apa gak ikhlas?), mungkin biar dibilang rajin, mungkin hasil resolusi 
tahun baru, mungkin untuk kompensasi uang lembur yang diterima, mungkin untuk 
menyalahgunakan fasilitas kantor seperti ngeprint, browsing, telepon, fax, 
untuk pribadi (hah?! teman saya yang auditor investigasi dari Amerika bilang, 
orang yang patut dicurigai melakukan "fraud" dan "abusement" adalah yang sering 
over time, nah lho!).., enggak juga ah, kata Bang Moudy masih ada banyak yang 
lillahi ta'alaists kok..Amiin. Selain itu, saya bertanya,"Apakah setelah kamu 
lulus nanti langsung naik pangkat atau jabatan tertentu? "Tidak",jawabnya, 
"karena pendidikan lebih sebagai investasi jangka panjang dan jika ingin 
mencapai atau mendapatkan posisi tertentu tidak "top down" tapi bisa
 melamar posisi itu dengan test, presentasi, dan uji kemampuan bersaing dengan 
kandidat lainnya, "imbuhnya. Katanya, untuk menghindari dislike and undislike 
factors. Ada bagusnya, tapi cocok tidak dengan "value" yang kita yakini bahwa 
meminta/melamar jabatan adalah "unvavorable". Satu lagi, jarang (tidak ada) 
teman kuliah yang sudah kerja tapi ambil kuliah full time. Selalu ambil part 
time, cuma ambil 1 atau 2 mata kuliah. Jadi lulusnya luuuama. Saya tidak tahu, 
karena terlalu berat, malas, kalau kuliah ambil waktu kerja gaji akan dipotong, 
atau gak kuliah juga sudah pada hidup makmur? 
 
Kalau kita sih, sudah biasa susah dan berat...jadi ya nggak masalah. Apalagi 
kalau sudah punya nilai2 yang diyakini, dan mendarah daging seperti: 
yarfa'ullaahulladzii..Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan 
beriman beberapa derajat.., terus Sayyidina Ali karamallahu wajhah juga berkata 
"faman araada humaa fa'alaha bi'ilmii" barang siapa yang menginginkan dunia dan 
akhirat maka itu adalah dengan ilmu; "tolabul ilmu..minal mahdi ilal lahdi, 
mencari ilmu itu wajib bagi laki2 dan perempuan sejak di buaian hingga liang 
lahat; utlubul ilma walau bissiin, carilah ilmu walau ke negeri Cina, juga amal 
yang tak pernah putus adalah al-ilmu yuntafa'ubihi, ilmu yang bermanfaat, 
etc.etc, bla bla bla. Jadi, tetap semangat deh karena motivasi sudah 
terinternalisasi dari dalam. Bahkan konon, untuk bisa menyetir dan memilih 
Innova dan CRV yang benar juga perlu ilmu lho. By the road, eh..by the way, Mas 
Wahyu sudah biasa menyetir mobil khan, seperti Ibunya Moudy Hermawan?
 (salam kenal buat Ibu tersayang Bang Mod ya. Ibu kamu hebat, but my mother 
hebat juga, tos!). Kalau sudah ya alhamdulillah, jangan seperti saya, yang 
"terpaksa" harus nyetir di sini, karena keadaan. Kebayang aja nggak beli mobil, 
orang pelaksana beranak dua hidup di Jakarta, gak punya usaha (ada sih, tapi 
kecil-kecil...), sekolah juga, mana agak2 "vehiclephobia" lagi (jadi bener ya 
Mas, gak beli mobil, bukan berarti gak korupsi, mungkin takut nyetir). 
Takuuuuut sekali berada di jalanan pakai kendaraan sendiri. Pernah sesekali 
dari Jurangmangu ke Lap. Banteng naik motor, wadauw sereem kanan kiri bis dan 
semrawut lalu lintasnya, kalau sudah di tempat parkir selalu berkata 
"alhamdulillah selamat juga sampai dengan hari ini"..Makanya, mending empet2an 
naik KA/bis ekonomi, sesekali yang AC biar variatif dan menikmati hidup atau 
memang gak ada pilihan, jemputan, atau omprengan. Lebih tenang...Kalau waktu 
tugas di Bali dan Madura sih, vehiclephobia-nya gak muncul karena
 lalu-lintasnya tidak terlalu ramai. Makanya sering digjlokin sama teman2, 
masak nyetir gak bisa, masak naik motor di keramaian takut, aku jawab aja, 
cita2 aku tuh naik mobil disetirin...punya sopir..hua ha huha..Amiin. Karena 
keadaan adalah: di Australia tidak ada/amat jarang sepeda motor, ke 
pasar/tempat belanja/sekolah anak serba jauh, tidak ada becak, ojek, atau KWK. 
Padahal kalau belanja mingguan, tentengan sayur, minuman, buah2an, beras, 
minyak, etc2 beraaat sekali,  sama bawa anak 2 yang juga mesti ikut. Jadi 
kacian deh gue dan istri gue...waktu itu. Untungnya, istri saya sudah bisa 
nyetir duluan dan punya SIM, lalu lintas di sini amat teratur dan tidak ada 
macet, ditambah lagi harga mobil second di sini murah (sekitar Rp20juta, sudah 
AC dan automatic=gaji istri 2 bulan sebagai housekeeping di Australia). Walah, 
masa kerja saya saja sudah hampir 15 tahun di Depkeu tabungan nggak dapat 
segitu, itupun mungkin masih kecampur baur sama lembur). Maaf, kalau saya cerita
 kondisi ini, bukan berarti tidak memotivasi, tidak bersyukur, atau pamer/show 
off (astaghfirullah, naudzubillah bukan...) cuma biar saya, kita, kantor kita, 
negara kita bisa cepat berubah dan jauh lebih baik dengan cara yang baik dan 
diridhoi. Kalau mereka bisa, kita juga bisa tentunya..
 
Mengenai beli mobil, emang benar sudah siap lahir batin? Mungkin bisa beli 
mobil, tapi coba dipikirkan juga biaya pemeliharaan, pajak, service, asuransi, 
bensin, parkir, etc. Jangan sampai bisa beli gak ku ku dengan pemeliharaannya. 
Belum lagi parkirnya di mana, kalau macam saya dulu tinggal di rumah petak yang 
berada di lorong gang sempit (jadi bener ya Mas, gak beli mobil bukan berarti 
gak korupsi, tapi gak ada garasi..). Motor saja menyatu dengan tempat tidur. 
Saya waktu hampir selesai kuliah di STAN, sempat ngobyek jadi Auditor di 
Palembang. Suatu saat, teman satu tim saya yang baru lulus Akuntansi UNSRI 
datang ke Jakarta dan mampir numpang nginap ke rumah petak saya. Dia sempat 
kaget dan bertanya,"Bukannya Mas Khobir kerja di Depkeu dan Masters, kok 
mau2nya tinggal di sini? (di rumah petak, dekat pembuangan sampah, dan dekat 
kuburan)" tanya dia dengan polosnya.gubrak! Padahal, itu udah kata istri saya 
sudah yang paling bagus rumah petaknya dibanding tetangga. "Emang
 kenapa, nggak boleh?" jawabku dengan mantapnya. "Kirain...,bukannya kalau di 
Depkeu itu...katanya..Aku jelasin saja apa adanya kalau sebulan gaji dan TC 
saya sekian2, karena dia sudah aku anggap saudara. Jadi, kalau dengan gaji dan 
TC segitu bisa beli rumah di Bintaro, aku nggak tahu, emang gue pikirin, biar 
KPK yang mikirin, he  he he..Dia mulai paham. Kalau yang heran orang luar 
Depkeu saya masih maklum, tapi ada teman baik, adik kelas saya yang akan 
wisuda, single, (dia sekarang di Meneg BUMN, menolak di DJP..semoga tidak 
menyesal ada remunerasi) sering main ke kontrakan/rumah petak saya juga belum 
ngeh. "Emang Mas belanja sebulan untuk keluarga berapa?" Aku jawab"xxx rupiah" 
,hampir separuh gaji+TC. Emang cukup? Nah lho,..ya buktinya we are 
OK...whuokeh. "Ini sudah alhamdulillah lho, saya dulu SMA di pesantren sekamar 
sepuluh orang, makan bersama di nampan cukup dengan sayur, tidur di masjid dan 
langgar yang cuma alas tikar dan sarung sudah biasa sejak kecil, lha
 sekarang tiga petak ini cuma buat berempat khan lumayan...Kebetulan kami, 
berasal dari keluarga yang tidak menjadikan nilai2 materi menjadi ukuran utama 
sukses dalam hidup. Orang tua, mertua dan saudara2 sudah tahu berapa 
penghasilan saya sebulan. Jadi, mereka tidak punya ekspektasi yang tinggi 
terhadap orang dari Depkeu (kalau sekali2 shodaqoh ke orang tua dan keluarga, 
biar cuma sedikit, mereka senang sekali, terima kasih, semoga rejekimu tambah 
banyak ya..). Sekalian aja aku promosiin, itu juga karena dukungan istriku yang 
bukan saja cantik, tapi juga sabar, nrimo, dan gak neko2. Tuing2, istri saya 
yang berada di depan kami juga waktu itu tersipu malu tersanjung bahagia. Emang 
sih, istri sering support, rejeki akeh sing mburi Mas (masih banyak rejeki kita 
di Belakang nanti Mas), tukang becak saja juga bisa punya rumah kok.. lagian 
kita juga masih punya rumah warisan (!?) yang bisa kita tempati kelak waktu 
pensiun..Benar2 bukti campuran antara penerimaan,optimisme dan
 realita,  dan ujung2nya temanku semangat minta dicariin istri setelah wisuda 
(orangnya cakep, tapi takut nikah karena takut gak cukup gajinya) Yo wis, 
konoh...

Buat yang kurang berkenan karena kepanjangan, dan sebagainya mohon di-skip dan 
segera didelete saja...


Terima kasih
Kobir



----- Original Message ----
From: jamie handsome <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, 13 April, 2007 8:37:51 AM
Subject: Hal: [Perbendaharaan List] Apa kabar Mas Rio?


Mas kobir, lagi ngapain di negara teroris... ati ati lo kena sweeping, ( kalo 
gw nyebut USA ama anteknya negara teroris ) , kalo jualan marmer tulung agung 
di ciputat ajalah ga usah sampe ke perth.. salam buat keluarga ya.. apa masih 
jomblo nih kaya agus kurniwa.. he..he..he.. kelamaan di sono gak kenal agus 
kurniwa kan.. tanyain deh ama sobatnya di jakarta.. temen2 seangkatan sekarang 
banyak di DJA mas.. kembali ke selera asal.. ( kaya indomi aja yaa..) walopun 
cuma jadi ganjel pintu yg penting ga masuk hutan lagi katanya...

salam paling manis dari Zamzam nu pangkasepna tea.
----- Pesan Asli ----
Dari: moch kobir <[EMAIL PROTECTED] com.au>
Kepada: perbendaharaan- [EMAIL PROTECTED] .com
Terkirim: Kamis, 12 April, 2007 1:49:05
Topik: Re: [Perbendaharaan List] Apa kabar Mas Rio?

Hai Mas Rio,

Ya, benar Mas Rio, ini Kobir, yang suka renang/diving/ snorkling/ nyemplung di 
Laut???(Rio, 2007). Itu lho, yang dari Tulungagung, lulus Prodip III Anggaran 
1994 (seangkatan Zam Zam Ahmad Nurzaman (saha eta nya'.., putra anggota DPRD 
Jabar itu.., bukan aku...tapi dia..), pernah penempatan sementara di Dabimtek 
Dit. TUA (1994-1995), KPPN Denpasar (yang nerusin "ngartu gaji" panjenengan, he 
he he)(1995-2000) , KPPN Pamekasan (2000-2002), Jurangmangu (2002-2005), 
penempatan sementara lagi di Pengembangan Pegawai, beberapa bulan di Mutasi 
Kepegawaian, dan beberapa bulan di OTL, (khan sering ketemu kalo mbahas 
perdirjen permenkeu dari Dit PHLN?) (2005-2006). Sekarang saya lagi 
ditugasbelajarkan di Curtin University, Western Australia. Di sini juga masing 
sering renang kok, tapi sekarang mulai mau musim dingin dan banyak Shark, jadi 
gak berani nantang kayak dulu lagi..

Mas Rio sekeluarga gimana kabarnya? Kalau tidak salah lihat, Mas Rio termasuk 
pegawai yang diekspor ke Direktorat lain yang dikirim Mas Mamat Bowo kemarin 
ya...Selamat ya Mas, all the best, dan semoga Mas Rio sekeluarga selalu 
diberkati Tuhan, sehat, dan sukses selalu. Salam buat keluarga.

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan, seharusnya ini lewat japri ya, tapi mau 
mengulang mengetik kok keluar malesnya...

>From Perth with love,

Kobir

----- Original Message ----

From: RIO <[EMAIL PROTECTED] com>

To: perbendaharaan- [EMAIL PROTECTED] .com

Sent: Thursday, 12 April, 2007 3:44:10 PM

Subject: Re: [Perbendaharaan List] mutasi lagi nih

Ageng...

Setuju.....

Setuju.....

Setuju....

Setuju...

Btw: Ini Mas Kobir yang suka nyelem/renang/ diving/snorkling /nyemplung di

Laut???

2007/4/12, ageng panjawi <ageng_panjawi@ yahoo.com. sg>:

>

> Menurut saya masalah mutasi itu gak ada problem, dengan catatan

> masalah fasilitas orang yang dipindah-pindah harus terpenuhi. Misalnya

> rumah yang layak ditempati, perabot rumah tangga yang harus dibawa, keluarga

> semua terpenuhi kebutuhan etc.

>

> selanjutnya aturan main jelas that's all

>

>

>

> ------------ --------- --------- ---

> Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

>

> [Non-text portions of this message have been removed]

>

> 

>

[Non-text portions of this message have been removed]

Send instant messages to your online friends http://au.messenger .yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px; font-family: arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit; font:100% ;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height: 1.22em;}
#ygrp-text{
font-family: Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family: Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top: 10px;font- family:Verdana; font-size: 77%;margin: 0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin: 25px 0;white-space: nowrap;color: #666;text- align:right; }
#ygrp-actbar .left{
float:left;white- space:nowrap; }
.bld{font-weight: bold;}
#ygrp-grft{
font-family: Verdana;font- size:77%; padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family: verdana;font- size:77%; border-top: 1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom: 10px;}

#ygrp-vital{
background-color: #e0ecee;margin- bottom:20px; padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77% ;font-family: Verdana;font- weight:bold; color:#333; 
text-transform: uppercase; }
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin: 2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type: none;clear: both;border: 1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight: bold;color: #ff7900;float: right;width: 2em;text- align:right; 
padding-right: .5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight: bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration: none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration: underline; }

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font- size:77%; }
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background- color:#e0ecee; margin-bottom: 20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0; }
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type: square;padding: 6px 0;font-size: 77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration: none;font- size:130% ;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color: #eee;margin- bottom:20px; padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family: Arial;font- weight:bold; color:#628c2a; font-size: 100%;line- 
height:122% ;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration: none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration: underline; }
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0; }
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120% ;}
blockquote{margin: 0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->

____________ _________ _________ _________ _________ ________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo. com/

[Non-text portions of this message have been removed]




Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke