Mungkin itulah mengapa kebijakan sekarang diperketat... Angkatan yang baru lulus kemarin dibriefing untuk tidak 'manja' dengan mengajukan ikut suami. Pengajuan ikut suami pun sedikit dipersulit, dengan alasan dulu sudah tanda tangan "bersedia ditempatkan di mana saja". Demi pengarusutamaan gender juga katanya, biar karier ibu-ibu nggak terhambat karena terlalu banyak pindah atau justru bertahan di tempat yang sama terus....
--- In [email protected], "lion" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > urun rembug.. > > menurut permenungan saya, sebenarnya sehebat apapun pola mutasi yang > akan dibangun bakalan terganjal sama ibu-ibu.. loohh.. iyaa... ibu- ibu.. > > contoh... coba kunjungi kppn semarang I, dari 150 pegawai, ibu- ibunya > 90 orang dan yang ga mau pindah ya banyak sih. tapi bukannya > ibu-ibunya ga produktif tetapi berat di keluarga mereka klo mereka > pindah, nah.. jeleknya kita menganggap itu manusiawi... (emang..) tapi > sadarkah kita bahwa tempat yang mereka blok sebenarnya tempat yang > baik untuk pertukaran mutasi dengan kawan2 kita yang sudah bertempur > di pinggiran republik dan pengen balik tengah lagi? jadi klo bisa > dibuat prosentase siapa paling bertanggung jawab klo kita mutasi > sampai terpelanting sejauh-jauhnya menurut saya 40% kantor pusat dan > 60% orang-orang yang ga mau digusur dengan segala dalih dan payung > hukum, dan mayoritas disini ya ibu-ibu itu.. heheh.. > > gimana.. permenungan saya.. hebaat.. kann.. :D > > salam, > gautama seti >
