terimakasih pak Moch Kobir (MAKOBIR)
  komentar nya sangat mendalam.. dan sangat positip.
   
  Mengenai migrasi ke tempat lain saya ingin berkomentar sedikit
  mungkin memang benar ya. generasi muda saat ini lebih kritis.. 
  tidak betah diam ber lama lama dalam satu kondisi yang stagnan.
  ingin nya cepat ada perubahan..cepat ada hasilnya 
  "itu sudah kodrat manusia, apalagi zaman kini sudah zaman teknologi informasi
  maka setiap orang cepat sekali bisa mengetahui setiap informasi, 
  dan secara kodrati, ingin mencapai yang terbaiik bagi diri dan keluarga nya. 
  itu hal yang wajar.. kalau saat ini saya masih muda,  tentu akan berpikir 
seperti itu.. 
   
  seperti dikatakan Menkeu, masa depan kita masih penuh dengan tantangan.. 
  kita masih mencari bentuk depkeu yang paling pas untuk zaman sekarang.
  maklum lah, karena sistem yang ada saat ini masih kuno. 
   
  itulah sebabnya dalam tubuh DJPB sendiri,-yang tupoksi nya sebagai kasir-, 
  sedang di Up Grade sistem yang menangani pendapatan dan pengeluaran
  sedang di sempurnakan cash manajemen
  yakin lah bahwa semua perubahan ini adalah untuk perbaikan.
  kita sedang mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada DEPKEU
  kita sedang meningkatkan image bangsa..
  kalau semua sudah tertata dengan baik, 
  insyaALLAH, akan pula membawa perbaikan kesejahteraan pegawai 
  dan masalah renumerasi memang sedang di pikirkan saat ini 
  bukan hanya untuk depkeu, tapi juga untuk kement/lemb yang lain. 
   
  reorganisasi di DEPKEU masih akan terus berlanjut
  bukan hanya di DJPB, tapi juga di DJBC, DJP, DJKN, DJA, DJPK dan lain lain. 
  kita baru saja mengalami serie kedua, 
  dalam serie ke dua ini, DJPB kehilangan DLN dan P3.
  tapi ketambahan BLU, PDI dan SP (pecahan DIA)
  reorganisasi masih akan berlanjut, masih akan ada lagi serie ke tiga, ke 
empat, dst 
  belum tentu DJPB tetap merupakan Unit eselon I.. 
  karena kita tau di negara lain ada Kementerian Treasury. 
  kalaupun tetap setingkat eselon 1 
  belum tentu DJPB dimasa datang akan kalah dari DJ yang lain. dalam hal 
renumerasi. 
  kita memang sedang membenahi diri.. 
  ..
  bila kita memandang pada dua direktorat baru di DJPB, 
  rasanya PDI dan BLU masih merupakan barang baru. 
  rasanya tak ada hubungan sama sekali dengan tupoksi kita
  dulu kalau seseorang di mutasikan dari satu direktorat ke direktorat lain 
rasa nya aman aja, 
  karena tiap tiap direktorat merupakan untaian mata rantai dalam produk kerja 
kita.. 
  mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban APBN..
  tapi kini, kalau pindah dari direktorat PA ke PDI, atau BLU.. wah bisa bisa 
harus mulai dari nol..
  kalo dengar dari omong omong rapim kemarin mungkin saja BLU tidak akan 
bertahan lama di DJPB
  dalam rapim kemarin terlontar suatu masalah, 
  dimana pemecahannya kira kira  BLU harusnya setingkat eselon satu.
  apakah itu artinya BLU harus keluar dari DJPB ? walahuallam.. 
   
  jadi sekali lagi mengenai migrasi, 
  yakin lah, kelak tidak ada tempat yang lebih enak 
  semua akan merasakan hal yang sama sama enak. 
  yang pasti .. kita sedang menuju perbaikan.. 
  kita sedang mengarah ke sana.
   
  asalkan semua petinggi kita berpikiran sama
  tidak ada lagi yang neko neko.. 
  tidak ada lagi yang masih berpikir untuk kepentingan diri sendiri/golongan.. 
  pasti... yaa pasti dan saya yakin, DJPB akan menjadi lebih baik
   
  Mensitir kalimat pak Moch Kobir, 
  "Saya yakin dan percaya, jika hal tersebut bisa diwujudkan, 
  DJPB adalah direktorat impian (setidaknya impian saya selama ini) untuk 
berkarya dan  "feel at home", nyaman lahir batin dunia-akhirat".
   
  demikian dari saya
  wassalam
  
  

moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Yth. Pak Hari, Pak Budisan, dan para anggota milist lainnya yang saya 
cintai...

Terima kasih Pak Hari dan Pak Budi atas informasinya yang amat menarik dan 
informatif ini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan yang mungkin masih 
berkaitan dengan talkshow Menteri Keuangan:

1. Saya sangat mendukung kebijakan DJPB untuk mengekspor pegawainya ke 
direktorat lain secara terbuka jika ada pegawai yang menghendaki. Dengan 
demikian, pegawai yang memilih mengabdi dan berkarya untuk bangsanya melalui 
DJPB adalah mereka yang memang benar-benar menjadikan DJPB sebagai pilihan 
hidupnya, bukan karena terpaksa atau keharusan. 

2. Tunjangan DJPB jumlahnya memadai bahkan jauh lebih baik dari direktorat lain 
jika mungkin. "Trade off" mutasi nasional tidak terlalu bermasalah jika di sisi 
lain diganti dengan tunjangan yang "menggiurkan" sebagai pembeda dari 
direktorat lain yang tidak ada mutasi nasional. Jika pegawai sudah ramping 
(optimal) maka menaikkan tunjangan mereka (pegawai DJPB), taruhlah menaikkan 2x 
lipat, tetapi pekerjaan yang biasanya dikerjakan 3 orang bisa dikerjakan oleh 1 
orang, maka negara masih untung 1 orang gaji (ini pikiran manager keuangan lho 
Pak, bukan administrator). Syarat PASTI (sine qua non) yang harus dilakukan 
oleh para pegawai DJPB adalah: tidak boleh menerima/memberi apapun sesuatu dari 
pelayanan atau kepada atasannya, kecuali gaji/TC/lembur/honor/tunjangan 
perbendaharaan yang resmi dan sesuai dengan senyatanya. Jika ada indikasi saja, 
mereka harus dipindah dari pelayanan, apalagi terbukti, maka harus dikeluarkan 
dari DJPB. Intinya, diperlakukan kode etik secara KPK
atau secara "business corporate" lah! Selain itu, model2 tingkah laku bendahara 
kantor yang mark-up, fiktif dalam pengadaan di kantor harus dihilangkan 
(mungkin tidak implementasinya, menurut Bapak yang sudah makan asam garam di 
birokrasi?). 

3. Diskriminasi penghasilan pegawai akan memacu produktivitas, tetapi harus 
disertai transparansi dan kejelasan persyaratan serta rekruitmennya sehingga 
dapat dicapai oleh semua yang mampu dan berminant. Variable penilaian harus 
jelas, dengan bobot tertimbang yang telah ditentukan, misalnya..kamu diterima 
karena alasan a, b, c, kamu tidak diterima karena alasan a,b,c,...sehingga 
semua bisa legowo(saran saya, sebaiknya selalu ada tahap interview karena 
penting untuk menyelami kematangan dan motivasi yang tidak nampak pada 
test-test tulis. Tahap interview selalu ada pada penerimaan pegawai di swasta 
dan di luar negeri, meskipun hanya tingkatan cleaner...Ini juga menjembatani 
kritikan Pak Eko tentang TPA). Jika tidak, maka akan kontra produktif. Sistem 
semua sama (PGPS) juga ada baiknya, tetapi harus jelas jangka waktu rotasinya. 
Jika tidak, maka pegawai akan berlomba-lomba ke tempat yang tidak sibuk/ringan 
beban kerjanya.

3. Saya berharap jika KPPN Prima segera diwujudkan. Kepuasan masyarakat yang 
memerlukan dana/pelayanan dari KPPN adalah yang utama. Saat mereka datang, 
harus tidak ada perasaan "takut" atau tidak nyaman dengan pegawai KPPN. Hal ini 
bisa dimulai budaya senyum dengan "three magic words":
(1) Apa yang bisa saya bantu? (What can I do for you?), saat mereka menelepon 
atau datang.
(2) Terima kasih (Thank you), saat mereka mampu melayani mereka sendiri.
(3) Maaf dengan memberi alasan yang jelas (say Sorry with reasons), saat kita 
belum/tidak dapat melayani melebihi ekspektasi mereka.

4. Saya pernah melihat Menteri Keuangan dan Gubernur BI Miranda Gultom waktu 
diajak teman dari Dit. PKN rapat dengan DPR (cuma lihat dari balkon sih, Pak). 
Kesan mendalam saya, sebagai pimpinan, selain memang teramat cerdas, mereka 
mampu berkomunikasi dengan sangat baik, taktis dalam menjawab, tetapi tetap 
sesekali diselingi guyonan segar. Konon, keduanya adalah ahli econometrics yang 
teorinya terkenal amat rumit, tetapi mereka mampu menjabarkan konsep-konsep 
yang tinggi ke dalam bahasa orang awam sehingga mudah dimengerti. Pantas mereka 
menjadi "orang". Seharusnyalah semua pimpinan seperti itu...

5. Saya pernah membaca berita jadul (jaman dulu), bahwa Menteri Keuangan (Ibu 
Ani) pernah "mengkritisi" pelayanan KPPN/DJPB pada saat beliau jadi Ketua 
Bappenas, yaitu merasakan sulitnya mencairkan dana. Mudah2an setelah "di dalam" 
bisa benar-benar bukan hanya tahu perut kita, tetapi tahu hati kita, menyatu 
hatinya dengan kita. Tak kenal maka tak sayang, bukan?

Demikan dulu komentar, salah khilaf mohon maaf.


>From "down under country" with love,
Kobir








----- Original Message ----
From: Hari Ribowo 
To: perbend list 

Sent: Monday, 16 April, 2007 11:20:43 AM
Subject: [Perbendaharaan List] talk show Menteri Keuangan

yth. pak Budisan, dan teman teman lain di milis perbendaharaan.
saya sudah beberapa kali mendengar Bu Ani berbicara 
dalam segala hal beliau mengutarakan nya dengan menarik. 
tapi satu yang saya rasakan dan membuat saya berbesar hati adalah 
bahwa kini beliau sangat dekat sekali dengan DJPB..
mengapa saya bisa ber kesimpulan seperti itu?

Malam itu beliau dijadwalkan tiba di sahid jaya jam 20.00
kenyataan nya beliau terlambat tiba karena ada tamu 
yang mengharuskan beliau adakan rapat mendadak di kantor nya. 
akhirnya beliau tiba jam 20.30 
kami sudah selesai makan dan sudah duduk rapi di ruang Ball Room "PURI AGUNG" 
beliau langsung turun dari mobil, menuju Puri Agung.. 
dan acara dimulai dengan sambutan pak Dirjen Perbendaharaan. 
yang kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Beliau sekaligus pembukaan RAPIM 
dalam sambutan yang kurang lebih memakan waktu 1 jam itu beliau menyampaikan 
hal yg menarik. 
sambutan ditutup dengan pemukulan GONG tanda RAPIM dibuka. 

pada kesempatan TALK SHOW, beliau duduk berdua dengan Pak Dirjen Perbendaharan 
di Podium
dan masih menjawab beberapa pertanyaan dari forum.. 
selama itu belaiu kelihatan sangat bersemangat. 
rasa rasanya enggan menutup acara kalau tidak lihat jam 
karena beliau sudah bersama para pejabat DJBP sampai jam 23.30
padahal secara sepintas beliau mengutarakan belum sempat makan malam.
setelah acara selesai pun jam 23.30 
beliau masih mau memenuhi permintaan panitia untuk potret bersama
beliau minta izin sebentar ke belakang, dan kembali ke ruang ball room.. 
hanya untuk menggembirakan para pajabat DJBP bisa berpotret bersama beliau. 
itulah sekedar gambaran mengenai betapa dekat nya Beliau kepada DJPB.
sebagai informasi, beliau juga melakukan hal yang sama ketika bertatap muka 
dengan para pejabat departemen keuangan di Yogya (pada saat pengukuhan Prof Dr 
Budiono)
tidak salah lagi kalau beliau menyatakan bahwa saat ini 
beliau sudah menjadi personal yang lebih 06 dari pada pejabat yang sejak semula 
ber NIP 06. 

Dalam kesempatan menyampaikan sambutan pada pembukaan RAPIM 
beliau mengawali nya dengan kalimat bahwa 
DEPKEU sedang menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
kita sedang di sorot oleh semua orang.. 
beliau mengilustrasikan bahwa wajah DEPKEU sangat tergantung pada 
wajah para petugas yang memberikan pelayanan kepada masyarakat di lapangan.
di pelabuhan, wajah DEPKEU tergantung pada petugas Bea Cukai. 
dalam soal pencairan dana, wajah DEPKEU tergantung pada petugas KPPN.
diatas semua itu, yang penting kita harus punya tanggung jawab kolektif 
agar wajah DEPKEU jadi baik. 

Menyinggung mengenai TSA, di katakan oleh beliau bahwa kita 
harus mengerti bahwa core bisnis kita adalah sebagai KASIR. 
dan harus diakui bahwa sistem dan cash manajemen kita saat ini masih kuno. 
itulah sebabnya kita memperkenalkan Treasury Single Account (TSA)
ini bukan sok sok an.. tapi tujuan TSA adalah agar Menkeu bisa hitung berapa 
dana kita
dan tujuan yang satu lagi adalah Menkeu tidak izinkan 1 sen pun uang itu idle. 
senada dengan perkembangan zaman, Menkeu kini dituntut untuk menjadi seorang 
administrator sekaligus seorang manager atas dana negara.(kita kan tau apa beda 
seorang adminsitrator, dan seorang manager). 

Selanjutnya ringkasan dari Sambutan Beliau sesuai dengan yang dicatat oleh pak 
Budisan: 

Pertama, ia ingin suatu saat dicatat dalam sejarah sebagai Menkeu 
yang pernah mencoba melakukan secara sangat serius upaya reformasi 
birokrasi (termasuk kebijakan remunerasinya) bukan hanya di lingkungan depkeu. 
Walaupun 
hasil akhirnya barangkali berujung pada kegagalan (istilah beliau walahualam)

Kedua, ia merasa mempunyai utang kepada republik, antara lain 
untuk membuat Indonesia dihormati (tidak dicurigai, dilecehkan dan dikomentari 
secara sinis) oleh bangsa lain (Amerika, Eropa, dan bangsa-bangsa maju 
lainnya). 

Ketiga, berhasil tidaknya kebijakan remunerasi di depkeu 
tergantung pada kepercayaan publik (public trust) kepada perubahan sikap/mental 
para pegawai depkeu, terutama yg pekerjaannya adalah memberikan pelayanan 
terhadap masyarakat. (beliau bertanya apakah para pejabat DJPB mau membantu? So 
please, help me.) 

Keempat, peringatan kepada Pak Siswo (Sekditjen) bhw semangat/tekad DJPb 
belakangan ini 
untuk menjadi unit pengekspor pegawai untuk unit-unit eselon I lainnya 
(DJA/DJKN/DJPK/ DJPU) 
hendaknya tidak akan mengakibatkan pegawai DJPb yg tersisa adalah pegawai 
sampah, 
karena yg diminta oleh unit eselon I lainnya adalah yg (ter)baik;
mengenai hal yang ke empat, saya tidak mendengar Bu Ani menggunakan kata 
"peringatan"
memang DJPB sedang mengalami dilema, 
disatu sisi kita sedang meningkatkan sarana IT.. 
dilain pihak kita kebanyakan pegawai (12 ribu) 
namun demikian, dalam beberapa kali kesempatan mendengar sendiri dari pak Siswo
saya tidak pernah mendengar ucapan adanya niatan pak Siswo untuk meng ekspor 
pegawai terbaik dari DJPB sehingga yang tersisa adalah pegawai sampah. 
saya tidak pernah percaya bahwa pak Siswo akan berbuat seperti itu. 

pada saat talk show.. beliau memberikan kesempatan bertanya kepada forum 
dan ternyata ada pertanyaan yang cukup teknis 
namun demikian beliau menanggapi bagaikan sudah kenal benar akan isi perut 
kita.. 
ini yang membuat orang terkagum kagum.. 
dan beliau menyimpulkan bahwa dari pertanyaan yang diajukan itu
ternyata pegawai DJPB ini pintar2..(mudah2an demikian ya..)

demikian dari saya pak Budisan.


Subject: [Perbendaharaan List] Talkshow Menkeu Dalam Rapim DJPb 
Luar Biasa?
> 
> 
> 
> Bagi mereka yang sudah mengenal dekat dengan Sri Mulyani Indrawai, 
yakni
> Menkeu yang dikenal sifat keterbukaan (ceplas-ceplos dan blak-
blakan)-nya
> tentu acara talkshow pada pembukaan rapim DJPb tersebut bukan 
merupakan
> sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi sebagian besar Kepala 
KPPN/Kanwil yang
> baru pertama kali melihat secara langsung bagaimana Bu Menteri 
bicara tentu
> sependapat bahwa penampilan Bu Menteri saat itu memang sungguh 
luar biasa.
> 
> Bayangkan setelah sekitar 1 jam memberikan sambutannya yg dimulai 
sekitar
> jam 20.30, Bu Menteri masih tetap antusias untuk meladeni
> pertanyaan-pertanya an para pimpinan DJPb hingga menjelang tengah 
malam.
> Cerita tentang pengalamannya bergaul dengan menkeu Negara-negara 
lain sangat
> menarik. Ia bicara seolah-olah para pimpinan DJPb yang hadir 
tersebut adalah
> teman-teman lamanya. Sebuah komunikasi antara atasan dan bawahan 
yang,
> menurut saya, cukup efektif.
> Ada beberapa ucapan/pendapatnya yang hingga kini masih ada dalam 
ingatan
> saya.
> > Kelima, ....saya kira banyak teman-teman lainnya yg hadir pada 
acara
> tersebut dapat menambahkan daftar pesan yg disampaikan oleh Bu 
Menteri (Pak
> Hari, mohon ditambahkan pesan Bu Menteri utk diketahui oleh teman-
teman kita
> di milis ini..)
> 
> Salam,
> budisan 
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---

Subject: [Perbendaharaan List] Talkshow Menkeu Dalam Rapim DJPb 
Luar Biasa?
> 
> 
> 
> Bagi mereka yang sudah mengenal dekat dengan Sri Mulyani Indrawai, 
yakni
> Menkeu yang dikenal sifat keterbukaan (ceplas-ceplos dan blak-
blakan)-nya
> tentu acara talkshow pada pembukaan rapim DJPb tersebut bukan 
merupakan
> sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi sebagian besar Kepala 
KPPN/Kanwil yang
> baru pertama kali melihat secara langsung bagaimana Bu Menteri 
bicara tentu
> sependapat bahwa penampilan Bu Menteri saat itu memang sungguh 
luar biasa.
> 
> Bayangkan setelah sekitar 1 jam memberikan sambutannya yg dimulai 
sekitar
> jam 20.30, Bu Menteri masih tetap antusias untuk meladeni
> pertanyaan-pertanya an para pimpinan DJPb hingga menjelang tengah 
malam.
> Cerita tentang pengalamannya bergaul dengan menkeu Negara-negara 
lain sangat
> menarik. Ia bicara seolah-olah para pimpinan DJPb yang hadir 
tersebut adalah
> teman-teman lamanya. Sebuah komunikasi antara atasan dan bawahan 
yang,
> menurut saya, cukup efektif.
> Ada beberapa ucapan/pendapatnya yang hingga kini masih ada dalam 
ingatan
> saya.
> Pertama, ia ingin suatu saat dicatat dalam sejarah sebagai Menkeu 
yang
> pernah mencoba melakukan secara sangat serius upaya reformasi 
birokrasi
> (termasuk kebijakan remunerasinya) di lingkungan depkeu. Walaupun 
hasil
> akhirnya barangkali berujung pada kegagalan.
> Kedua, ia merasa mempunyai utang kepada republik, antara lain 
untuk membuat
> Indonesia dihormati (tidak dicurigai, dilecehkan dan dikomentari 
secara
> sinis) oleh bangsa lain (Amerika, Eropa, dan bangsa-bangsa maju 
lainnya). 
> Ketiga, berhasil tidaknya kebijakan remunerasi di depkeu 
tergantung pada
> kepercayaan publik (public trust) kepada perubahan sikap/mental 
para pegawai
> depkeu, terutama yg pekerjaannya adalah memberikan pelayanan 
terhadap
> masyarakat. (So please, help me.) 
> Keempat, peringatan kepada Pak Siswo (Sekditjen) bhw 
semangat/tekad DJPb
> belakangan ini untuk menjadi unit pengekspor pegawai untuk unit-
unit eselon
> I lainnya (DJA/DJKN/DJPK/ DJPU) hendaknya tidak akan mengakibatkan 
pegawai
> DJPb yg tersisa adalah pegawai sampah, karena yg diminta oleh unit 
eselon I
> lainnya adalah yg (ter)baik;
> Kelima, ....saya kira banyak teman-teman lainnya yg hadir pada 
acara
> tersebut dapat menambahkan daftar pesan yg disampaikan oleh Bu 
Menteri (Pak
> Hari, mohon ditambahkan pesan Bu Menteri utk diketahui oleh teman-
teman kita
> di milis ini..)
> 
> Salam,
> budisan 
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---

------------ --------- --------- ---
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]




Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]




Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke