Saya kagum membaca Tulisan Anda, tapi sayang sekali kenapa itu kutipan dari
Tulisan orang lain. Kenapa Anda tidak mencoba menulis sendiri, memberikan
Opini, masukan atau kritikan. Atau Anda bisa menceritakan kisah Anda sendiri
pengalaman pribadi selama bekerja di DJPBN sampai Anda memutuskan untuk Keluar
dari DJPBN dengan Pengorbanan yang tidak kecil. Saya kira ini akan lebih
bermanfaat bagi perkembangan masa depan DJPBN, karena beberapa Pimpinan DJPBN
juga ikut dalam Milis ini yang tentunya ini juga bisa menjadi masukan bagi
beliau.
Memang benar seperti yang Anda tulis, kami tidak terima, kami berontak dengan
ketidakadilan, kami tumpahkan segala uneg-uneg kami, bahkan mungkin sampai
hujatan dan makian kepada kepada Instansi kami. Semua itu semata-mata juga
untuk kemajuan DJPBN sendiri.
Kami sebagai bawahan tidak bisa berbuat banyak dan lebih baik, selain
menumpahkan uneg-uneg kami melalui Milis ini dan tentunya dengan harapan agar
Pimpinan DJPBN mendengar keluhan kami.
Kami bukan orang yang pasrah akan Nasib, menerima serta menyerah dengan keadaan
bahkan mungkin lari dari permasalahan (Maaf, seperti yang Anda lakukan) karena
takut akan Sistem Organisasi yang tidak menguntungkan.
Bukankah Tawakkal itu harus melalui perjuangan. Bukankah dalam Al Quran juga
disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah Nasib suatu Kaum, sebelum kaum itu
berusaha /berjuang untuk mungubah Nasibnya. Walaupun perjuangan yang kami
lakukan hanya melalui tulisan, karena kami juga tidak mungkin melakukan
Demonstransi ke KP DJPBN atau melakukan Revolusi seperti zamannya ORBA.
Memang saat ini pegawai DJPBN sedang dalam kesulitan, tetapi bukan berarti kami
tidak ikhlas menerimanya. Kami tetap ikhlas, tetapi kami juga harus berjuang
untuk masa depan kami sendiri. Keikhlasan yang tidak diikuti dengan perjuangan,
seperti orang yang kalah perang. Jangan mengikuti Falsafah Orang Jawa: "Sing
Narimo lan Legowo". Kalau Falsafah itu diterapkan, maka bumi ini akan berhenti
berputar, Orang akan mandeg berpikir dan berkarya. Orang akan selalu Pesimis
dan tidak punya semangat juang untuk menghadapi suatu permasalahan.
Kami juga merenung (seperti yang ditulis salah seorang Anggota Milis). Tapi
kalau cuma merenung tidak berbuat seperti Orang Semedi, hanya berharap
keajaiban akan datang dengan sendirinya.
Saya kira ini yang bisa saya tulis. Mudah-mudahan akan membangkitkan semangat
teman-teman kita untuk terus berjuang demi masa depannya dengan tetap LOYAL
pada DJPBN. Amiin
NB: Salam balik dari Pacitan
anangsoleh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: HADIAH
TERBAIK UNTUK DIRI SENDIRI
Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada
masa sulit dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau
kehidupan pribadi yang diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau
masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang diinginkan. Sebagian orang
bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh keadaan-keadaan
sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala anak-
anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya
dari godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap
akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus
datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku
pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan p!
enguasa yang paling berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika
kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk
kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat
bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang
ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian.
Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan
kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah
kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya
modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir.
Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah,
kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las,
dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya
goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang
menyelimuti selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan
jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari
sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan
mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada
mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-
pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat
fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar,
sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia,
sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-
keadaan ini.
Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari
segi pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia
bersekolah dulu sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari
sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan
hidupnya kadang mengagumkan.
Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya
baik ketika dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga
menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri berkunjung ke
rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar. Seorang
sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan
mengatakan bangga menjadi sahabat saya.
Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di
Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata
indah Confucius :
'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu
baru luar biasa'.
Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah
hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri.
Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung.
Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian,
empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan
kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak.
Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia
persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan,
setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat
lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga
seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana
namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang
banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan
inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina
sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih
sedikit dari jumlah jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya,
sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat
diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal
sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang
mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik
mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati
yang menyentuh hati
Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang
memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden
direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung
menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana : 'saya
bangga jadi teman Anda'. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan
ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang
ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang
ketika kita amat membutuhkannya. (Sumber: Hadiah Terbaik Untuk Diri
Sendiri oleh Gede Prama).
==Sekedar pengalih perhatian, daripada munyeng mikirin masa depan
yang anprediktabel di DJPBN tercinta==Salam atuk eks ponjay 95, bone
95-00, pctn 2006. Terus Maju dan Tetaplah semangat!!
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]