pertanyaan oot mas... Mas kobir dan mas zaenal ini pernah bertugas di kppn cirebon atau tidak?
apa mas zainal ini pernah menjadi kiper di tim KPPN cirebon? --- moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamualaikum Wr. Wb. > > Sahabatku-sahabatku, > > Izinkan saya perkenalkan Pak Zaenal Abidin kepada > para milist, beliau berasal dari Cirebon, adalah > teman seangkatan dengan usia termuda nomor dua > setelah Burju Antony Swardy Simatupang-Istri Namboru > Windarty A. Siallagan, MA-angk.96 (Hepeng na > mambangon nagaraon, Lai!). Jadi, beliau2 akan > pensiun paling akhir dibandingkan temannya, dengan > asumsi eselonnya sama. Secara fisik, "dulu" seperti > cover boy, tetapi jadi pegawai negeri. Yang > beruntung mempersuami adalah Ce' Siti Nur Haliza, eh > Siti Nur Azizah (angk.94) setelah dengan sukses > "dimakcomblangi' Pak Solihin (beliau setelah jadi > Kabu Kanwil Papua sekarang di mana ya?). Saya > menghadiri "pesta kebun" perkawinan Pak Zaenal waktu > di Denpasar. Sudah berapa putra Pak Zaenal sekarang? > > Kalau Pak Maryono, asal Batangan, Bumi Mina Padi > PATI. Lulusan S2 Undip dengan IPK 3,8-an (masya > Allah). Pak Maryono, feeling saya untuk tahun > berikutnya setelah Pak Suminto dan Pak Moudy, Pak > Maryono yang dapat lho(amiin). Ayo tunjukkan > angkatan kita ada yang S3 dong, kalau saya khan > sudah memenuhi tantangan teman seangkatan yang bisa > ke luar negeri (belum lulus sih.., lagian sudah > mulai ABCD, alias AhBooCapeeDeeh)....Pak Maryono ini > (kok sekarang ada Toang-nya), teman satu kamar saya > waktu magang, kost di atas atap seng di Percetakan > Negara dengan Hardiyanto, waktu itu sebulan 150 ribu > dibagi 3. NIP-nya, selisih sedikit dengan NIP saya > yang 060082152, (selisih kurang dari 10-ya?, soalnya > saya bukan Mama Lorentz). Orangnya baik hati dan > tidak sombong, cerdas cermat bersahaja, rajin > trampil dan ceria. Istrinya orang Poso, jago > analysis soal seperti ini: Jika 5 dokter tidak boleh > dipasangkan dengan 4 perawat, siapakah pasiennya?. > Ingat waktu duduk disebelahku pas ujian TPA > UPKP V, lupa matiin HP/calculator dan disemprot > pengawas gak? Waktu itu, Bang Cimod duduk paling > belakang, belajar buku TPA terus, saya belum berani > kenalan sih, malu...Dulu saya nggak tahu tes verbal, > analysisTPA itu apa, lha katanya kalau TPA untuk > mengukur kecerdasan, jadi nggak perlu belajar, ya > saya nggak belajar, eh..tahu tahunya teman mbahas > banyak yang ambil dari buku TPA, nyesel juga..untung > lulus ya..he he.. > > Pak Zaenal, kalau anak saya baru dua. Pertama, > Farchan Sobirul Muttaqin 7th (artinya: Orang yang > taqwa dan sabar akan bahagia) yang kedua Taffania > Diva Qur'ana 4th(artinya: Anak Cantik yang ahli > Alqur'an. Saya ingin dia bisa jadi hafidzah seperti > kakak pertama saya, atau jika mungkin seperti adik > kelas idola saya, al-hafidz DUL ARIEF -hafal alquran > 30 juz-the best DIII Pajak-1995, the best DIV STAN > pada masanya-dan sekarang dapat S2 di ANU > Australia). Istri saya, bernama Nihayatun Ulfa > (artinya: Anak Terakhir yang Ramah dan Ceria). > Mereka semua bersama saya di Australia. > > O ya sekedar saran buat milisi (istilah Mang Junas, > sang Jurnalis Majalah Purnawarman dan Anggaran), > kalau punya anak, dan ingin suatu saat mereka > sekolah ke luar negeri, sebaiknya nama anak jangan > panjang2, juga jangan cuma satu kata. Ribet dengan > surename, given name, family name, last name, first > name. Cukup 2 kata saja, lebih baik nama belakang > nama ayah. "Adithya Ramaputra", atau "Iqbal Zaenal > (Iqbal, anaknya Pak Zaenal). > > Anyway, saya ingin mengucapkan selamat dari lubuk > hati yang paling dalam atas dilantiknya menjadi > eselon IV bersama teman-teman seangkatan yang lain, > urut abjad ya..(Pak Mahfud, Pak Maryono, Pak Mohd. > Zeki Arifuddin, Pak Tunggul Yunanto, Pak Haris > Effendi, dan ada yang lain-kah?). Maaf, mungkin > sangat terlambat karena saat SK tersebut keluar, > saya sudah di luar negeri, dan belum jadi member > media "one clik mouse silaturahmi" (Hadinata, A. > 2007). Halah, "kaku" dan "wagu" juga nyebut teman > sekelas dengan Pak, tapi tak apalah membiasakan diri > dan membahasakan diri kalau ada anak buahnya anggota > milist juga. Semoga amanah tersebut bisa dijalankan > dengan sebaik-baiknya, lebih baik lagi daripada > pendahulu-pendahulunya. Semoga promosi tersebut > memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Amin. > > Kedua, penjelasan tentang pelantikan saya di Menko > Perekonomian. Sekaligus menjawab ssst..nya dari Mang > Junas (Mang, jangan ssst galo mak itu na, cak apo > bae..to the point, cak mano, tanya langsung, akan > saya jawab. Jangan merajuk tuo yo...he he he). > Katanya mau belajar transparan dan akuntabel. Begini > asbabun nuzulnya, semoga ada hikmah dan pelajaran > yang bisa dipetik oleh kita semua: > > 1. "Apakah usul Interview of Leaving ada kaitannya > dengan pengalaman ke Menko Perekonomian?" > > Sesungguhnya, itu lebih kepada berpikir ke depan > untuk mengantisipasi migrasi yang berikutnya dan > untuk memberi salah satu solusi untuk kebaikan kita > semua. Namun demikian, kalau dikait-kaitkan ya > memang ada hubungannya dengan pengalaman itu. > > 2. "Bagaimana ceritanya ke Menko Perekonomian?" > > Pada sebuah kesempatan, setelah lulus D4, saya > ditawari secara lisan oleh Bapak Drs. Soetijono, > M.Si, dulu dosen Administrasi Bantuan Luar Negeri di > STAN Prodip tahun 94-95, mungkin dosennya Mang Junas > juga, mungkin dulu teman sekelasnya Pak Hari Ribawa. > Beliau orang Anggaran, menjadi eselon II di Menko > Perekonomian saat itu. Kurang lebih begini,"Saya > perlu tenaga eselon IV yang berkualitas, kerjanya > ikhlas, mau kerja keras, dan cerdas sebagai > syaratnya. Selain itu minimal harus sudah berpangkat > III/b, sudah lulus S2 dan lulus UPKP VI jika dari > DN. Menko tidak ada supply human resources seperti > Depkeu, biasanya minta dari Depkeu atau Dep./Lembaga > lainnya. Saya juga sudah menawari Achmat Subekan > (lulusan terbaik DIII Anggaran 1995, sudah III/b, > lulus S2 dan UPKP VI, guru "spiritual" dan sahabat > saya lahir-batin), tetapi dia sudah lebih dahulu > diterima sebagai widyaiswara di BPPK sebelum saya > tawari. "Apakah kamu mau?", tanya beliau. Karena > saya tidak menyangka dan kaget, > saya tidak langsung menjawab, tetapi saya > istikharah dulu dan diskusi dengan istri. Hingga > pada beberapa hari kemudian, saya jawab, "Saya siap > bekerja di mana saja Pak, tetapi satu syarat prinsip > yang harus dipenuhi adalah "pengambilan" saya harus > sepengetahuan dan seizin atasan saya (sekretaris > DJPB) "jawab saya kemudian. Beliau bilang akan > mengurus surat permintaannya dan saya pasif tidak > pernah memikirkan lagi. Di Menko alhamdulillah, di > DJPB alhamdulillah. > > Hingga pada suatu saat, ada teman yang bekerja di > kepegawaian Setjen Depkeu telepon "Dik Kobir mau > pindah ke Menko ya, kok tadi saya lihat surat yang > meminta nama kamu?". "Tidak tahu, Bu, mungkin saja". > Setelah itu, saya terpaksa sekali bertanya ke > kasubbag mutasi kepegawaian, disela-sela > kesibukannya yang sangat padat karena saya > ditempatkan sementara di kepegawaian. Dijawab > singkat: " Tidak tahu". Saya langsung maklum, > mungkin saat itu belum sampai ke beliau, mungkin > masih di meja Sekretaris, mungkin rahasia jabatan. > Cuma setelah itu, sesekali saya pernah disindir sama > Pak Taukhid, "Kobir sudah tidak mau lagi bekerja di > DJPB", saya cuma diam tidak bisa berkata apa, lha > wong proses dan suratnya juga tidak tahu. > > Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, saya > tidak tahu bagaimana prosesnya, saya percaya dan > pasrahkan pada Allah dan semua yang berwenang yang > terbaik buat saya, kalau lancar ya lancar, kalau > tidak, pasti ada saja halangannya (saya tidak mau > mengganggu wewenang dan kerahasiaan kepegawaian), > hingga suatu saat saya mendapat surat dinas > panggilan untuk pelantikan dari Menko Perekonomian > yang menyebut dengan lengkap nama saya, tempat dan > tanggal pelantikan, baju yang harus dipakai. Saya > konfirmasi secara lisan ke kepegawaian Menko, > "apakah ada surat resmi persetujuan saya dari DJPB?" > Mereka jawab ada, tetapi saya tidak minta copy surat > resminya. Setelah menerima surat panggilan > pelantikan, saya lapor dan diskusikan duduk > perkaranya, dengan atasan2 langsung saya, kasubbag > dan Kabag OTL, secara prinsip beliau mendukung dan > menyerahkan kepada saya karena itu promosi. Karena > diundang, maka saya pun hadir dalam pelantikan > eselon IV di sore itu, waktu ketemu Pak Zaenal > "tertegun". > > Saya juga belum pernah punya pengalaman "lintas > ditjen/departemen/eselon" seperti yang disarankan > Acep Hadinata, belum ada basis kompetensi lintas > ditjen, dan tidak ada orang yang bisa saya tanya dan > "sharing"pengalamannya karena terlalu jauh jaraknya > untuk berkomunikasi. Saya cuma melihat "pattern" Pak > Taukhid, Pak Sis, dan Pak Nas pernah di BAKUN dan > lainnya, Pak Rochjadi pernah di BAF, Pak Anshari > dari DJP masuk DJA, dosen saya itu dari DJA ke Menko > Perekonomian, Prof. Boediono dari Menkeu jadi Menko > dan banyak contoh yang lainnya. Saya cuma belajar > dari melihat dan mendengar, tetapi tidak menanyakan > langsung asbabun nuzulnya ke yang bersangkutan. > "Guru kencing duduk, ya murid kencing duduk" karena > mereka belum pernah berbagi pengalaman, bagaimana > cara duduk yang baik seperti mereka. Mungkin jika > beliau-beliau jadi anggota milis perbendaharaan, > sahabat dekatnya, atau siapa saja yang tahu persis, > dengan senang hati pasti saya dan anggota milist > bisa belajar dari > pengalaman mereka. "Oo mungkin apa yang saya alami > sekarang, seperti yang mereka alami pada masanya," > pikir === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
