Bener banget mas. Zuhud itu karena ada dunia ditangannya tetapi tidak memasukkannya ke dalam hati atau nafsu duniawinya. Dunia dinikmati sekedarnya untuk beribadah. Masalahnya ketika kezaliman menyebabkan kita tidak mempunyai dunia, bagaimana kita mau mengaplikasikan Kezuhudan itu. Menuntut dunia yang menjadi haknya adalah jalan menuju ke-Zuhudan. Sementara menghalalkan segala cara untuk meraih dunia itulah yang diharamkan.
Dulu pada periode Umar bin Abdul Azis keadilan terjaga. Para pegawai mendapat hak yang layak. Rakyat semua mendapatkan ketentraman yang nyata. Di saat itulah ke-Zuhudan terbentuk. Mereka semua sejahtera. Tetapi mereka hidup dengan sederhana. Banyak dari mereka berlomba-lomba untuk berbuat kebajikan dengan cara bersedekah. Oh, sebuah kebersamaan yang layak kita contoh. Negara tak mendzalimi rakyatnya. Para pegwai yang sejahtera kehidupannya tidak bergaya hedonis. Mereka hidup sederhana. Mereka banyak menyisihkan hartanya di jalan kebaikan. Para pemuda yang telah siap menikah sementara mereka tidak mempunyai harta, Pemerintah pun membantu. Oh, sebuah kebersamaan yang indah dari buah penegakan keadilan. Semua berawal dari adanya keadilan. Keadilan tidak akan terbentuk jika masih ada kedzaliman. Kedzaliman itulah yang layak kita hilangkan, minimal dari diri sendiri. Caranya? berbuat lah yang benar. Sebagai PNS kerja lah yang maksimal. Jangan ernah KKN. Insya alloh jika semua berjalan pada relnya jangan tanyakan lagi mengenai kesejahteraan. Ia akan senantiasa mengiringi. Kesejahteran yang berkah lah yang akan menggiring manusia berbuat Zuhud. Ingat, Zuhud itu adalah ketika ia mempunyai harta/kewenangan/kekuasaan, tetapi ia tetap menunduk. Ia gunakan dunia itu hanya sebagai pengantar untuk beribadah. Semoga kita bisa menjadi Zuhud. Semoga keadilan yang kita damba-dambakan terwujud. Dan tentunya bermula dari kita sendiri, saat ini juga, dan dari hal yang terkecil sekalipun. Ayo Semangat !!!!
