Memang hampir sebagaian besar PTS, mempunyai akreditasi yang asal-asalan. Walaupun tidak bisa disamaratakan semua perguruan tinggi. Ada beberapa Perguruan Tinggi kualitasnya cukup "bagus". Bagus dalam artian jika Mahasiwanya Reguler (benar-benar cari Ilmu), Namun kalau sifatnya Ekstension (Mahaiswa berduit) jangan tanya lagi...Dosennya pun juga pingin cari duit Mas, tinggal tergantung pesanan saja. Jangan heran kalau di Tes TPA atau UPKP V, yang menduduki Ranking atas adalah Anak-anak Eks UT. Saya tidak mengada-ada ini terbukti dan saya alami sendiri. Sebagai gambaran pada saat Tes S2 Bappenas dulu. Ada yang lulusan UT dengan IP cuma 2,5 dan tidak punya Tofel, dengan pertimbangan khusus dia diperbolehkan untuk ikut Tes asal nilai Tesnya masuk dalam 10 besar. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan Dia Ranking Pertama diantara sekian ratus pendaftar. Mau bukti apalagi kalau Lulusan UT itu lebih berkualitas daripada lainnya. Justru yang membuat saya heran sekarang adalah ada Pegawai Lulusan STIE yang Lolos S2 Bappenas dan sekarang mungkin sudah menjadi Kepala Seksi. Padahal dia itu tidak Lolos UPKP V (yang berarti TPAnya tidak lulus) dan bahasa Inggisnya biasa-biasa saja. Aneh bin Ajaib memang TPA UPKP V saja tidak lulus, kok Seleksi S2 bisa lulus. Saya tidak mau Suudzon, itu memang sudah Rejeki dia. Mudah-mudahan S1 dan S2 nya didapat benar-benar dari usaha keras dia. Ada satu contoh lagi. Seorang Kawan Angkatan '96. Dia Lulusan UT. IP :2,4 Ranking 5 UPKP V. Bahasa Inggrisnya juga Jago. Dia kepingin ikut S2, dalam beberapa kali Bea Siswa S2, selalu mencantumkan IP tinggi. Karena selalu terkendala IP, akhirnya dia memutuskan untuk "membeli" Ijazah PTS seharga 4 Juta, dalam waktu kurang dari 1 tahun Ijazah sudah dia dapatkan dengan IP diatas 3. Ini benar-benar kisah nyata, tidak mengada-ada. Sebenarnya Pengembangan Pegawai harus peka melihat situasi ini. Okelah, kalau untuk penerimaan Pegawai S1, ada persyaratan IP, karena kemungkinan mereka benar-benar masih mahasiswa Murni. Tapi kalau untuk Tugas Belajar S2, tidak perlu lagi ada Persyaratan IP. Kalau yang diperlukan IP tinggi, bagaimana dengan Pegawai Prodip yang ditempatkan di Daerah-daerah terpencil, dimana tidak ada PTS, yang ada cuma UT. Kesempatan mereka akan hilang untuk ikut S2. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pertimbangan Pengembangan Pegawai. Jangan hanya melihat IP, karena IP itu bisa dibeli. Mari berkompetensi secara sehat, sama-sama kita buktikan siapa sebenarnya yang lebih berhak dan patut menjadi pegawai yang Handal dan Berkualitas. amirsyahya <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Apa para pejabat2 kita nggak tahu atau pura2 gak tahu, atau malah sebagai user or jangan2 ijazah yang dipunyainya juga sampah???
m_irsyad2303 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Udah jd pejabat kalo komentar yg bagus dong? pake argumen sing rodo njlimet sithik. Ben kelihatan berpendidikan....... --- In [email protected], fatchurrahman assidiqqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mir kamu itu SARJANA SAMPAH karena IJAZAHMU ASPAL.... > > ----- Original Message ---- > > From: amirsyahya <[EMAIL PROTECTED]> > > To: [email protected] > > Sent: Sunday, April 29, 2007 11:40:37 PM > > Subject: [Perbendaharaan List] SARJANA SAMPAH:) > > > > > > Apa para pejabat2 kita nggak tahu atau pura2 gak > > tahu, atau malah > > sebagai user or jangan2 ijazah yang dipunyainya juga > > sampah??? > > > > SARJANA SAMPAH!!!!! > > > > Di tengah krisis ekonomi sekalipun, ada pabrik yang > > tetap > > cemerlang, seakan tiada yang gulung tikar. Bahkan, > > pabrik yang baru > > lahir terus sehingga jumlahnya beranak-pinak. Pabrik > > itu adalah > > Pabrik pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. > > Disebut Pabrik, > > karena memang telah sepenuhnya menjadi lahan bisnis, > > hampir tidak > > punya kaitan lagi dengan komitmen sosial, dengan > > idealisme > > mencerdaskan bangsa. Sebagai urusan dagang, sebagian > > berlaku prinsip > > ada mutu, ada harga. Dan semakin tinggi mutu, > > semakin mahal pula > > ongkos yang harus dibayar. > > > > Tetapi ini bisnis yang unik. Sekalipun tidak > > bermutu, sekalipun > > fasilitas pendidikan asal-asalan dan dosen tidak > > memadai, toh > > mahasiswa rela membayar lebih. Dan celakanya, inilah > > pula bisnis yang > > nyaris tidak mengenal bangkrut. Persaingan bisnis > > pendidikan cukup > > kejam, namun hampir tidak ada Pabrik yang bernama > > perguruan tinggi > > swasta yang tutup karena kalah bersaing. > > > > Yang terjadi ialah sekalipun tidak lagi memenuhi > > syarat > > sebagaimana seharusnya sebuah lembaga pendidikan > > tinggi, banyak > > perguruan tinggi swasta yang terus menerima > > mahasiswa baru dan terus > > meluluskan sarjana baru. Betul-betul berfungsi > > sebagai Pabrik- Pabrik > > Sarjana, Pabrik ijazah dengan upacara wisuda yang > > wah untuk > > mengukuhkannya. Tidak ada urusan dengan mutu, tidak > > peduli sekalipun > > menghasilkan Sarjana Sampah. > > > > Sebagai gambaran, tidak tanggung-tanggung, sebanyak > > 80% dari 307 > > perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta buruk > > mutunya. Bahkan, > > sebanyak 23 di antaranya tidak aktif dan alamatnya > > pun sulit > > ditemukan. Fakta yang menyedihkan dan memalukan itu > > bukan cerita > > burung, melainkan dilaporkan secara resmi oleh > > Komisi E DPRD DKI > > dalam Rapat Paripurna DPRD DKI, Senin (4/9). > > > > Pangkal penyebab amat jelas, yaitu pemerintah sangat > > longgar > > memberi rekomendasi pendirian perguruan tinggi > > swasta baru. Longgar > > dalam memberikan izin, longgar pula dalam > > pengawasan. Semakin hari > > lembaga seperti koordinator perguruan tinggi swasta > > tidak lagi > > terdengar peranannya, bahkan diragukan wibawanya > > dalam menghadapi > > kekuatan finansial perguruan tinggi swasta yang > > semata bermotifkan > > mencari keuntungan dari lahan pendidikan. Itu > > sebabnya, sekalipun > > tidak bermutu, sekalipun hanya menghasilkan sarjana > > sampah, perguruan > > tinggi swasta yang di bawah standar itu tetap > > dibiarkan hidup. Nyaris > > tidak ada penutupan perguruan tinggi swasta! > > > > Tak ada pilihan, pemerintah harus berani mengambil > > langkah keras > > dan tegas. Jangan biarkan perguruan tinggi swasta > > tumbuh sebagai > > Pabrik Sarjana yang rendah mutunya, dan > > menjadikannya semata ladang > > bisnis. Membiarkannya adalah sama dengan memelihara > > pembodohan massal > > dengan predikat Sarjana. > > > > Dari EDITORIAL Media Indonesia: > > Menertibkan Sarjana Sampah. Kamis, 0709 2006 > > > > > > > > > > Send instant messages to your online friends > > http://uk.messenger.yahoo.com > > > > [Non-text portions of this message have been > > removed] > > > > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > --------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed]
