Asss.Wr Wb

Buat para teman-teman yang aktif di Milis mari kita menulis dengan 
sopan...jangan menulis dengan kemarahan hati tapi mari menulis dengan dinginnya 
jiwa. perubahan yang kita inginkan tidak akan datang dengan cara kasar..kita 
rubah dengan santun.bukankah rasulullah merubah arab jahiliyah juga dengan 
kesantunan. saya juga mengalami kok sistem yang ada kurang memuaskan bagi 
banyak pihak tapi mari kita sikapi dengan tenang. masalah sarjana...buat mas 
amir kan bisa gak pake kata sampah...memang mas amir gak sebut orang tapi 
sarjana di DJPBN ini berapa banyak???apakah mereka semua mau di bilang 
sampah??kalo mas amir di bilang sampah mau nggak??setiap orang yang punya hati 
nurani pasti malu kok mas amir jika ngedapatin gelar dengan cara kayak 
githu...tapi gak semua sarjana DJPBN kayak githu.gak hanya mas amir kok yang 
berjuang ngedapatin gelar sarjana dengan cara jujur...masih banyak yang lain. 
bersyukur deh bagi teman2 yang dah dpt gelar sarjana...saya aja mau kuliah gak 
ada
 tempat kuliah.maklum jauh dan terpencil.ok kita akhiri aja topik "sarjana 
sampah" masih banyak topik lain yang insya allah lebih berguna untuk menyambung 
tali silaturahmi ini dan menambah pengetahuan kita ok.
wass. WR.Wb

fatchurrahman assidiqqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                              
    Mir kamu itu SARJANA SAMPAH karena IJAZAHMU ASPAL.... 
 > ----- Original Message ----
 > From: amirsyahya <[EMAIL PROTECTED]>
 > To: [email protected]
 > Sent: Sunday, April 29, 2007 11:40:37 PM
 > Subject: [Perbendaharaan List] SARJANA SAMPAH:)
 > 
 > 
 > Apa para pejabat2 kita nggak tahu atau pura2 gak
 > tahu, atau malah 
 > sebagai user or jangan2 ijazah yang dipunyainya juga
 > sampah???
 > 
 > SARJANA SAMPAH!!!!!
 > 
 > Di tengah krisis ekonomi sekalipun, ada pabrik yang
 > tetap 
 > cemerlang, seakan tiada yang gulung tikar. Bahkan,
 > pabrik yang baru 
 > lahir terus sehingga jumlahnya beranak-pinak. Pabrik
 > itu adalah 
 > Pabrik pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.
 > Disebut Pabrik, 
 > karena memang telah sepenuhnya menjadi lahan bisnis,
 > hampir tidak 
 > punya kaitan lagi dengan komitmen sosial, dengan
 > idealisme 
 > mencerdaskan bangsa. Sebagai urusan dagang, sebagian
 > berlaku prinsip 
 > ada mutu, ada harga. Dan semakin tinggi mutu,
 > semakin mahal pula 
 > ongkos yang harus dibayar.
 > 
 > Tetapi ini bisnis yang unik. Sekalipun tidak
 > bermutu, sekalipun 
 > fasilitas pendidikan asal-asalan dan dosen tidak
 > memadai, toh 
 > mahasiswa rela membayar lebih. Dan celakanya, inilah
 > pula bisnis yang 
 > nyaris tidak mengenal bangkrut. Persaingan bisnis
 > pendidikan cukup 
 > kejam, namun hampir tidak ada Pabrik yang bernama
 > perguruan tinggi 
 > swasta yang tutup karena kalah bersaing.
 > 
 > Yang terjadi ialah sekalipun tidak lagi memenuhi
 > syarat 
 > sebagaimana seharusnya sebuah lembaga pendidikan
 > tinggi, banyak 
 > perguruan tinggi swasta yang terus menerima
 > mahasiswa baru dan terus 
 > meluluskan sarjana baru. Betul-betul berfungsi
 > sebagai Pabrik- Pabrik 
 > Sarjana, Pabrik ijazah dengan upacara wisuda yang
 > wah untuk 
 > mengukuhkannya. Tidak ada urusan dengan mutu, tidak
 > peduli sekalipun 
 > menghasilkan Sarjana Sampah.
 > 
 > Sebagai gambaran, tidak tanggung-tanggung, sebanyak
 > 80% dari 307 
 > perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta buruk
 > mutunya. Bahkan, 
 > sebanyak 23 di antaranya tidak aktif dan alamatnya
 > pun sulit 
 > ditemukan. Fakta yang menyedihkan dan memalukan itu
 > bukan cerita 
 > burung, melainkan dilaporkan secara resmi oleh
 > Komisi E DPRD DKI 
 > dalam Rapat Paripurna DPRD DKI, Senin (4/9). 
 > 
 > Pangkal penyebab amat jelas, yaitu pemerintah sangat
 > longgar 
 > memberi rekomendasi pendirian perguruan tinggi
 > swasta baru. Longgar 
 > dalam memberikan izin, longgar pula dalam
 > pengawasan. Semakin hari 
 > lembaga seperti koordinator perguruan tinggi swasta
 > tidak lagi 
 > terdengar peranannya, bahkan diragukan wibawanya
 > dalam menghadapi 
 > kekuatan finansial perguruan tinggi swasta yang
 > semata bermotifkan 
 > mencari keuntungan dari lahan pendidikan. Itu
 > sebabnya, sekalipun 
 > tidak bermutu, sekalipun hanya menghasilkan sarjana
 > sampah, perguruan 
 > tinggi swasta yang di bawah standar itu tetap
 > dibiarkan hidup. Nyaris 
 > tidak ada penutupan perguruan tinggi swasta!
 > 
 > Tak ada pilihan, pemerintah harus berani mengambil
 > langkah keras 
 > dan tegas. Jangan biarkan perguruan tinggi swasta
 > tumbuh sebagai 
 > Pabrik Sarjana yang rendah mutunya, dan
 > menjadikannya semata ladang 
 > bisnis. Membiarkannya adalah sama dengan memelihara
 > pembodohan massal 
 > dengan predikat Sarjana.
 > 
 > Dari EDITORIAL Media Indonesia: 
 > Menertibkan Sarjana Sampah. Kamis, 0709 2006
 > 
 > 
 > 
 > 
 > Send instant messages to your online friends
 > http://uk.messenger.yahoo.com 
 > 
 > [Non-text portions of this message have been
 > removed]
 > 
 > 
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
 
     
                       

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke