Sebenarnya polemik berkepanjangan itu bukan masalah. Silahkan aja 
kalo mau punya pendapat atau kritik apapun, itu sah-sah saja.

Ada sebagian orang bahasa perumpamaan dan analogi itu mudah 
dimengerti, tetapi sebagian lagi belum tentu ngerti. So gak ada 
salahnya menanggapi kritik meskipun tambah panjang. Kalo gak suka or 
bosen kan bisa pake mouse dan tinggal teken delete:) atau pake saran 
salah satu temen dimilis kita ini "istirahat dulu"

Saya gak pernah bilang semua orang jawa halus, saya tulis (gak 
persis sama): orang jawa gak tau jawa yang mana, itupun kata temen 
saya.

Tetapi saya punya prinsip soal berpendapat/kritik:
-Jangan SARA (seperti aturan dalam milis ini)
-NO Porno
-Nggak menyudutkan personal (kecuali mungkin ada yg mulai, tp saya 
berani kalo punya data)

Maksud saya bawa2 suku itu hanya sebagai contoh kalo tiap orang 
punya standard/etika yang berbeda terlebih lagi dalam mengukur suatu 
perkataan itu sopan atau kasar. Intinya itu kalo kritik harus pake 
standard etika perkataan yang sopan, pertanyaannya adalah etika/cara 
siapa yang harus dipakai? Seperti yang anda tulis contohnya orang 
jawa timur, cara bicaranya udah seperti itu dan beberapa diantaranya 
menganggap itu biasa saja (gak kasar) so kalo kita bicara/denger ama 
someone dari jawa timur kita gak bisa ambil kesimpulan kalo dia itu 
kasar, gak tahu sopan santun, gak tenggang rasa, dsb.

Gitu juga dengan kritik/pendapat, kalo kata2 yang dipakai itu keras 
sekalipun, gak bisa diasumsikan sama dengan gak tenggang rasa, gak 
sopan or menuduh.

Setiap tulisan saya gak pernah nyebut nama or personal, semuanya 
berlaku umum apalagi menuduh.   

Dalam tanggapan saya mengenai editorial media indonesia tentang 
sarjana sampah: "Apa para pejabat2 kita nggak tahu atau pura2 gak
 tahu, atau malah sebagai user or jangan2 ijazah yang dipunyainya 
juga sampah???

Tolong dicermati kalimatnya, " diawali kata apa sehingga berupa 
pertanyaan yang berlaku umum"
So gak ada person yang saya tuduh. Pertanyaan itu ada beberapa 
kemungkinan jawaban:
-Pejabat kita emang gak tahu;
-Pejabat kita pura2 gak tahu;
-Pejabat kita user ijazah sampah;
-Pejabat kita bukan user ijazah sampah;
-Ijazah yang dipunyai pejabat kita sampah;
-Ijazah yang dipunyai pejabat kita bukan sampah alias berkualitas.

Lihatkan semuanya ada kemungkinannya? Jadi gak harus dianalogikan 
menuduh?

Pertanyaan itu adalah bentuk pancingan jawaban tak terduga, 
Analisis ini mungkin salah:
Dalam mind games ada situasi dimana tanpa sengaja kita membenarkan 
suatu jawaban dengan cara menyangkalnya/menghindarinya karena 
terpancing provokasi. So kalo ada yang terprovokasi, mungkin saja 
(ini mungkin lho) secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan 
tersebut. So, tinggal kita menyimpulkannya sendiri, dari setiap 
jawaban2 yang ada:)

Dalam skala gampang pertanyaan saya itu bisa disederhanakan dengan 
contoh sbb:
-Dirumah kita mencium bau busuk dan mengira2 bau apa itu?
-Pikiran kita cepat menyimpulkan alternative jawaban: tikus mati, 
ayam mati, bangkai, kotoran manusia, sampah, dsb.
-Bagi yang merasa tidak terganggu dengan bau, maka akan cuek saja.
-Bagi yang terganggu tetapi tidak mau bersusah payah mencari sumber 
bau bisa saja mengambil salah satu kesimpulan: ada ayam mati or 
tikus mati, or dsb.
-Bagi yang terganggu tetapi ingin memecahkan jawaban persoalannya, 
maka akan mencari kesana kemari sumber bau tersebut. Bisa saja 
setelah berusaha ia akan menemukan ada ayam mati dihalaman, or tikus 
mati di loteng. Tetapi intinya dapat jawabannya dan kadang2 ternyata 
jawabannya gak seserem yang dibayangkan, bisa saja bau itu karena 
kaos kaki dalam detergen yang udah 3hari lupa dicuci:) 

And last, Please jangan menjawab kritik/pendapat dengan tuduhan 
personal pada siapapun, karena data personal itu rahasia trus kita 
belum tentu tahu orang tersebut seperti apa.

Emang saya belum pernah jadi pejabat struktural, tetapi beberapa 
kali pernah ditunjuk jadi pejabat temporer kalo bisa dianggap 
jabatan:) (misal PDG, sekretaris pengadaan Barang Jasa, etc) dan 
terakhir mengundurkan diri karena gak bisa berbuat apapun buat 
mencegah KKN. Saya bisa ngomong gini karena udah sering melihat, 
mengalami bahkan tergoda saking massivenya cobaan tersebut:)

Usul buat adikku:)
Cobalah ikutin acara debat presiden or antara pejabat di Eropa/USA, 
misal debat senat/kongres USA yang terakhir terjadi coba perhatikan 
debat calon presiden di prancis. Atau materi demo2 dinegara2 
tersebut. Kalo bisa searching di internet materi/skrip perdebatan 
tersebut karena akan membuka wawasan kita tentang cara berbeda 
pendapat/kritik.

Sory kepanjangan:(
Soalnya download filenya lama banget (sampe 80MB) jadi ada waktu 
buat ngetik.

Kirim email ke