Kenapa koq akhir-akhir ini perbendaharaan list makin ruwet aja..Kadang Topiknya 
melebar trus g ada juntrungannya..
Ayo bikin yang sehat-sehat donk..biar badan makin sehat..Khan kata guru 4 sehat 
5 sempurna.. Didalam jiwa yang sehat terdapat badan yang kuat..
http://linkjobs.blogspot.com


amirsyahya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Karena mas menyimpulkan/mengesankan saya 
secara personal 
"apalagi amir belum selesai kuliahnya khan? dan tertinggal dengan 
tmn" amir lainnya....? (ini kesannya mir)

well saya jawab saja biar nggak jadi fitnah:)

Sebenarnya jawaban saya ini udah sering dilontarkan. Saya gak 
membahas apapun, itu hanya kalimat "PERTANYAAN" dan 
bukan "PERNYATAAN" (semoga bisa dibedakan) dan jawabannya fifty2 
bisa negatif bisa positif.

Kalo kecewa jelas kecewa dengan DJPBN, siapa/berapa banyak anggota 
milis yang gak pernah kecewa dengan DJPBN? but tulisan saya itu buat 
kemajuan DJPBN bukan menghancurkannya.

kesan dari mas anto bahwa saya belum selesai kuliah ada benarnya dan 
ada salahnya:)
Benarnya, karena saya sekarang sedang kuliah lagi dibidang lain , 
tetapi bukan buat pangkat/jabatan but buat aktualisasi/pengembangan 
diri, menghindari aroma KKN di kantor, menghindari banyak waktu 
luang di kantor, dan syukur2 dapat relasi buat cari batu loncatan or 
tambahan income yang lebih baik dan halal kalo nanti udah lulus:)

Salahnya, saya udah selesai S1 Ekonomi Jurusan Manajemen beberapa 
waktu lalu.
So Mas anto ambil kesannya dari mana????

Kalo tertingal dari teman lainnya, gak juga. Bukan cuma saya yang 
ketinggalan, banyak angkatan saya yang levelnya masih sama. Dan saya 
sangat respec dengan teman2 saya yang lebih maju dengan cara2/proses 
yang terhormat. Ada teman saya yang tetap kuliah malam di Aceh, 
padahal sedang era DOM dan pemberlakuan jam malam. Ada juga yang 
udah jadi korpel karena pengabdiannya di daerah terpencil (gak 
pernah pindah). Orang2 seperti ini harus diberi applaus, tetapi 
penghormatan tidak perlu diberikan bagi mereka yang mencapainya 
tanpa menghormati proses dan jalan yang terhormat. Justru tugas kita 
untuk meminimalisir orang2 seperti ini.

Saya kuatir temen2 milis ada yang menganggap saya "Iri, Dengki dan 
Dendam" 

Sebagai orang yang berpendidikan kita harusnya bisa membedakan 
antara sifat di atas dengan berani menyuarakan pendapat/kritik.

Dan sudah sangat familiar dijaman ini seorang yang bersuara keras 
selalu diterpa isu miring: Paling Iri, Dengki, kurang kerjaan, 
nyusahin aja, bikin rejeki ilang, kalo mau ambil juga dong, bla222.

Tugas dan wewenang saya bukan sampai melacak keberadaan 
sarjana/ijazah sampah di DJPBN. Tugas itu milik institusi DJPBN 
dalam hal ini Kepegawaian ,pengembangan pegawai dan pejabat2 lainnya 
yang perduli. Karena data2 dan toolsnya ada pada mereka, tinggal 
kemauan untuk menggunakannya saja yang belum ada.

Kalau ada yang mau menempatkan atau memutasikan saya di bagian 
Kepegawaian or Pengembangan Pegawai, maka hal ini mudah saja saya 
kerjakan. Tinggal mengumpulkan data, menganalisis, koordinasi dengan 
DIKTI/universitas maka saya bisa merekomendasikan apa saja yang 
terkait sarjana/ijasah sampah untuk diambil tindakan oleh 
atasan/pejabat berwenang.

Sebenarnya modus dan indikasi ijazah sampah itu mudah saja kita 
dapatkan analisis dan penyelidikan investigasinya, bahkan sudah 
sering ditayangkan di televisi.

Ijazah sampah or aspal itu terdiri dari beberapa modus, antara lain:
- Ijazah instant, tinggal bayar pada oknum maka dalam beberapa hari 
dapat ijazah dan semua kelengkapan kalau kita pernah kuliah. Model 
ini cukup mudah diselidiki dan diidentifikasi/diselidiki karena 
sebagian besar dokumennya palsu.
-Ijazah aspal (selipan), melalui oknum kita bisa dapat ijazah asli 
tanpa kuliah, sang oknum menyiapkan semua kelengkapan dan dokumen 
layaknya kita pernah kuliah dari pendaftaran, ujian hingga yudisium. 
Saat pembuatan/penandatanganan ijazah sang oknum menyelipkan ijazah2 
(dokumen asli) kita diantara ratusan/ribuan ijazah yang harus 
diselesaikan PT. Bahkan Rektor pun tidak tahu kalau dia 
menandatangani ijazah mahasiswa ilegal.
- Ijazah aspal Biasa, kita tinggal daftar kuliah seperti normalnya, 
tetapi gak perlu kuliah sesuai jadwal PT, mungkin hanya beberapa 
kali kehadiran saja, melalui oknum- kehadiran, ujian, praktek dsb. 
bisa dimanipulasi seolah2 kita mahasiswa rajin. Saat Wisuda bisa 
ikut bisa tidak, tetapi ijazah kita terima sesuai jadwal (1-2thn)

Masih banyak modus lainnya yang sudah sering diulas diberbagai 
media. So fenomena ini bisa saja dan mungkin saja masuk ke DJPBN. 
Kita bisa tahu dari pengalaman beberapa teman2 dimilis ini.

Yang mau marah silahkan saja, tetapi saya yakin sebagian DJPBN entah 
besar atau kecil mengetahui dan membenarkan fenomena ini, meskipun 
dalam hati or karena berbagai pertimbangan.

Dan kalo ada yang bosan karena kepangjangan ya jangan dibaca, atau 
dihapus saja atau istirahat dulu.

Jadi please, be grow up. Silahkan bebas mengkritik dan berpendapat 
asal nggak pada personalnya. Kecuali menyiapkan data personalnya 
dulu. Contoh: Media now membahas Kasus personal Yusril dan Hamid 
awaludin, tetapi semuanya dalam koridor mempunyai data dan fakta.

Kalau mau marah silahkan saja dan gak perlu minta maaf:



 
Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke