top markotop......  :) begitulah seharusnya kita bekerja. tetep
istiqomah mas adin....



====>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Mas dedi yang saya hormati...

Buat saya, bekerja di mana saja, yang paling penting dan utama buat
saya adalah memberikan yang terbaik untuk orang lain semampu yang saya
bisa dan sebisa yang saya mampu. (...Sebaik-baik manusia adalah
manusia yang berguna bagi orang lain..) Dan tidak penting buat saya
diperhatikan atasan atau tidak, karena saya yakin ada yang senantiasa
memperhatikan saya nun jauh di atas sana. Ketika saya menjadi
pelaksana, saya terpaksa menikmati posisi 'terwarnai' keadaan. Saya
tidak bisa berbuat apapun karena kondisi 'zaman' tidak memungkinkan
buat saya melakukan 'my own way attitude'. Tapi saat itu juga saya
belajar mengenal karakter bermacam-macam kasubsi saya, dan kasie atau
atasan langsung saya...

Ketika suatu saat saya menjadi pelaksana di seksi PB, ada Subag Umum
yang meminta saya membantunya (menjadi korpel RT/Pelaporan) dan yang
pertama-tama beliau katakan : "...tapi mohon maaf yah dik, karena
penghasilannya jauh dengan pelaksana seksi PB..." Saya pikirkan
sebentar tawaran itu dan bertanya kepada beliau, : "kira-kira apa yang
paling Bapak butuhkan dari saya, sehingga bapak memilih saya menjadi
korpel RT/Pelaporan dibandingkan yang lain yang lebih senior (ada yang
sudah III/c tetapi tetap 'doyan' jadi pelaksana)?" Beliau katakan : "
Saya ingin membenahi catatan inventaris kantor dan aktiva tetapnya
dik, dan saya lihat adik memenuhi kualifikasi yang saya inginkan".
Akhirnya saya menerima 'tantangan' beliau untuk membenahi inventaris
dan catatan aktiva tetap kantor tersebut dan tidak berapa lama
mendapatkan nota dinas kepala kantor menetapkan saya sebagai pj.
korpel RT/Pelaporan.

Saya yang sangat menyukai tantangan baru, memulai amanah tersebut
dengan mencoba mewarnai 3 orang pelaksana saya (1 sudah senior dan 2
orang prodip baru) dengan mencoba menerapkan skala prioritas dan
membuat time schedule apa saja laporan yang perlu dibenahi dan harus
dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.

Saya begitu menikmati pekerjaan saya, sampai akhirnya keluar SK Korpel
definitif, bukan di tempat itu tapi di Marisa, Gorontalo. Apakah saya
kecewa, awalnya ia, karena isteri saya tidak bisa ikut (isteri saya
juga mengabdikan diri untuk orang lain sebagai dokter dan harus naik
kearah pegunungan setiap hari ke Puskesmasnya bertugas) tapi akhirnya
saya menikmati 'posisi' korpel karena saya bisa mewarnai dsan
memberikan contoh attitude pelayanan prima kepada pelaksana saya
sekarang ini. Buat saya itu sebuah keadaan yang membuat saya bahagia
lahir batin.

Saya tidak perduli apakah KPPN saya sekarang Prima atau tidak Prima,
tapi saya dan staf saya mencoba memberikan pelayanan 'lebih dari
sekedar prima' setiap hari. Ini saatnya buat saya memberikan yang
terbaik buat orang lain (bukan ingin riya') dan alhamdulillah Alloh
SWT memberikan ganjaran jauh lebih tinggi buat saya dan keluarga
daripada sekedar tambahan penghasilan yang bisa habis dalam sekejap.
Subhanalloh, saya sudah sangat bersyukur mendapati anak perempuan saya
Fathiya Ruzaina, yang tiap 2 bulan saya temui di Purwakarta Jawa-Barat
sudah dapat membaca dalam usia 3 tahun 2 bulan. Dan sudah lancar
mengaji dengan usia seperti itu (saya dulu dalam usia yang sama belum
bisa apa-apa)

Buat saya, apapun jabatannya, semua itu cuma amanah, yang bisa Alloh
SWT ambil dari kita semua kapanpun Alloh SWT mau. Tapi memberikan yang
terbaik kepada orang lain tanpa embel-embel jabatan (pelaksana kek...,
Korpel kek..., Kasie kek... atau KK sekalipun) dan kantor (Prima atau
tidak Prima)sudah mendapatkan momentumnya sekarang, saat ini. Dan saya
tidak ingin ketinggalan mendapatkan pahala untuk ikut serta hijrah ke
arah kebaikan, begitu juga teman-teman DJPB lainnya yang telah sangat
rindu dengan perubahan...Jadi, mengapa saya mesti bingung soal
'korpel' mau dikemanakan?

Mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Adin-Somewhere at Gorontalo

Kirim email ke