Assalamualaikum Wr.Wb.

Salam Perubahan untuk seluruh Miliser dimanapun anda berada...

Pertama-tama saya ucapkan selamat dan semoga sukses untuk semua
rekan-rekan yang telah dipanggil untuk ikut seleksi pegawai KPPN
Prima. Untuk yang belum mendapatkan kesempatan seleksi, mutasi, atau
diklat atau apapun yang berhubungan dengan dengan upgrading kemampuan
ataupun pemenuhan kepuasan batin (khusus mutasi), sabar...Innalloha
ma'as Shobirin...(Sesungguhnya Alloh SWT mencintai orang-orang yang
sabar) Terus belajar, berkarya dan memberikan yang terbaik untuk
bangsa. Ibarat pisau yang diasah setiap saat, ketika rekan-rekan di
mutasi ke tempat baru, nggak perlu belajar lagi tetapi sudah 'ready to
use'. Lulus boleh sama, rejeki berbeda-beda. Kalau mau contoh riil,
lihat di kanwil XXVI ada kasie, korpel dan pelaksana yang betul-betul
satu angkatan (Angkatan'95) dan mereka asyik-asyik saja tuh (he..3x)
  
Saya terkejut kagum ketika membaca sebuah website yang memberitakan
pelayanan instansi pemerintah (bukan BUMN) yang telah mendapatakan ISO
(International Standard Organization) atas pelayanan jasa yang
diberikan kepada stakeholdernya. Wah, betul-betul salut saya. Mengapa
KPPN Singkawang (Salam Hormat saya untuk pak Herry Sunyoto--Pen)yang
notabene representasi dari pelayanan DJPB di bawah Departemen Keuangan
tidak mencoba untuk memperoleh ISO (Atau mungkin saya yang ketinggalan
berita, CMIIW)

Menarik sekali seandainya semua kantor pelayanan di bawah "bendera"
Departemen Keuangan (Pajak, Perbendaharaan, Bea Cukai, Lelang dan
Kekayaan Negara dll) yang sekarang ini berlomba-lomba menerapkan
'pelayanan prima' berkompetisi sehat dalam sebuah liga 'Depkeu meraih
ISO 9000 series'. Kantor yang lebih dulu mendapatkan ISO bisa
mendapatkan renumerasi lebih dulu (waduh yang ini bisa pro kontra sih,
tapi ga papa deh...)Katakanlah KPPN Jakarta II lebih dulu ditetapkan
sebagai KPPN Prima, walaupun SOP (Standar Operasional Prosedur),
Sarana dan Prasarana serta SDM nya sama kualitasnya dengan KPPN-KPPN
lain diseluruh Indonesia, akan tetapi kepuasan stakeholder tidak
mungkin 'sama dan sebangun' untuk setiap KPPN kan? Bisa jadi misalnya
KPPN ABC di propinsi XYZ yang meraih ISO lebih dulu, karena memang
lebih dapat memenuhi kepuasan stakeholder yang dilayaninya dan dengan
'zero tolerance mistake' dalam melaksanakan SOP.

Konsep kualitas yang dulunya berkembang berbasiskan produk sekarang
ini telah meluas dan memasuki bidang jasa. Penyebabnya antara lain
adalah semakin pentingnya arti pelayanan bagi suatu bisnis dan semakin
besarnya peranan sektor jasa bagi suatu negara. Sebagai ilustrasi,
Amerika negara yang secara tradisional berbasiskan manufaktur saat ini
75% GDP-nya disumbangkan sektor jasa dan 9 dari setiap 10 dollar
pendapatan Singapura berasal dari sektor jasa.(Tomas Arista, ITB 1996)


KPPN Prima tentu saja bukan Public Service with Profit Motive, akan
tetapi bila kita mempunyai standar pelayanan yang sama, ingin merubah
'image' yang selama ini membungkus birokrasi kita serta memiliki
keinginan untuk meng'advertensi new image' kita kepada investor luar
dan pebisnis global, berkompetisi meraih ISO 9000 series mungkin bisa
menjadi salah satu caranya, mengapa tidak? 

Mudah-mudahan bermanfaat..

Adin-Somewhere at Gorontalo



Cuplikan berita dari www.ri.go.id dan www.depdiknas.go.id

Jakarta, Senin (21 Mei 2007)—Direktorat Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DP2M Dikti)
Depdiknas berhasil meraih sertifikat Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO
9001:2000. Sertifikat Internasional ini diperoleh DP2M setelah
dinyatakan layak oleh auditor dari PT Sucofindo International
Certification Service (SICS).

"Ini tidak satu-satunya yang akan dilakukan di Dikti, tapi adalah awal
dari langkah-langkah berikutnya agar diperoleh sertifikat ISO untuk
direktorat, sekretariat, dan lembaga Dikti lainnya," kata Sekretaris
Direktorat Jenderal Dikti Depdiknas Suryo Hapsoro Tri Utomo, pada
serah terima sertifikat ISO 9001:2000 di Gerai Informasi dan Media,
Depdiknas, Jakarta pada hari ini.

Adapun Dirut PT Sucofindo, Zafar D. Idham menyampaikan, ruang lingkup
sertifikat yang akan diserahkan khususnya untuk pelayanan pengelolaan
penelitian hibah bersaing untuk perguruan tinggi. "Setelah melalui
audit dipastikan dalam penyelenggraaan jasa pendidikan DP2M dalam
ruang lingkup yang disertifikasi telah memenuhi pengakuan secara
internasional dan memenuhi kaidah yang dipersyaratkan, " katanya.

Menurut Zafar, kaidah yang dipersyaratkan tersebut yakni, memiliki
dokumentasi SMM yang baik, memiliki kebijakan dan sasaran mutu,
pengelolaan sumber daya untuk mendukung penyelenggaraan jasa pelayanan
yang diberikan, pelaksanaan jasa pelayanan sesuai dengan modul yang
ditetapkan, pengukuran dan pencapaian kinerja penyelenggara jasa
pelayanan, dan melalui penyempurnaan secara berkesinambungan untuk
memenuhi kepuasan pelanggan.***





Kirim email ke