ya, hikmahnya sudah kau dapatkan, sudah memberimu anak anak yang manis
dan mungkin sedang masak makan siang mu saat ini atau mencucikan
bajumu yang kotor... hehehe.. salam buat bu hikmah ya om...
maaf becanda...

.....
anganku merekam.., lebih dari seribu kisah perjalanan
dan di hatiku sungai sungai hikmahnya bermuara..

( penggalan "sajak-sajak pathfinder" : 1998)

 
--- In [email protected], "arahman231"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> BELAJAR DARI KELEDAI
> 
> Di sebuah desa, seorang petani kehilangan keledainya. Cape mencari,
> tak ditemukan juga keledai itu. Tapi, ketika dia lelah mencari dan
> duduk di bagian belakang rumah, samar telinganya mendengar ringkik
> memelas dari keledainya. Suara itu lirih, sedih. Tapi dimana? Dan
> kenapa suara itu bergema?
> 
> Beringsut petani itu mencari sumber suara. Dan, jauh di belakang
> rumah, di dalam sumur kering yang tak terpakai, dia meemukan
> keledainya, bergerak gelisah, dan memekik. Petani tua itu tak tahu
> harus berbuat apa. Menarik keledai ke atas, tentu dia tidak kuat. Juga
> bagaimana menariknya? Lama berfikir, akhirnya dia pun pasrah.
> "Keledaiitu telah tua, dan sumur itu terlalu berbahaya jika dibiarkan
> saja," batinnya.
> 
> Ia pun memutuskan untuk mengubur si keledai tuanya hidup-hidup di
> sumur itu. Dengan mengajak beberapa tetangga, dia mulai mengayuh sekop
> dan melemparkan timbunan tanah ke dalam sumur. Ditutupinya telinga,
> agar tak mendengar pekikan keledai yang seperti kehilangan harapan,
> dan dia memintatetangga mempercepat menimbun tanah ke sumur. "Kian
> cepat, makin lekas tangisan keledai itu hilang," kilahnya.
> 
> Dan benarlah. Tak lama tak terdengan lagi suara keledai dari dalam
> sumur. Menyangka sudah tertimbun, petani dan tetangganya melongok ke
> dalam sumur. Tapi, pemandangan di bawah begitu mengagetkan mereka.
> Takjub, terpukau. Ternyata, keledai itu masih segar bugar, dan sedang
> sibuk menggoyang-goyangkan badannya. Namun, setiap satu sekop tanah
> yang jatuh menimpa tubuhnya, keledai itu akan menggoyangkan
> punggungnya, menggugurkan timbunan tanah. Dan setelah tanah turun,
> keledai itu akan memijaknya, menjadikan titik tumpu. Menyadari hal
> itu, kian bersemangat petani dan para tetangga menimbun tanah. Keledai
> terus saja mengibaskan tubuhnya, dan bergerak naik seiring tanah yang
> kian banyak memenuhi sumur. Dan tak sampai setengah hari, sumur itupun
> mulai penuh tanah, dan keledai itu meringkik, meloncati bibir sumur,
> dan berlari. Pergi.
> 
> HIKMAH HARI INI : Kehidupan ini akan terus menuangkan tanah dan
> kotoran kepadamu. Hanya ada satu cara untuk keluar dari kotoran
> --kesedihan, masalah, cobaan, dan lain sebagainya--itu, yakni dengan 
> menggerakkan tubuhmu, membuang segala kotoran itu pikiran dan hatimu.
> Dengan cara itulah, kamu dapat menjadika semua masalah sebagai
> pijakan, melompati sumur kesengsaraan. Keledai itu telah memberikan
> contoh terbaik. Dan tak ada salahnya, kita belajar dari keledai dan
> lagi-lagi kita harus belajar dari keledai.
>


Kirim email ke