assalamualaikum wr wb waduh pak Moch Kobir, kasih saya kerjaan nih.. maaf agak lama saya menjawab.. kenapa ? Karena selain yang ditulis panjang sekali (makan waktu untuk membaca nya) juga karena sebetulnya bukan saya yang berkompeten untuk menanggapinya.. ini kan soal S2 yang lulusan LN. yang mempertanyakan/yang menyangsikan apakah sudah betul kebijaksanaan pimpinan menempatkan para lulusan tersebut di daerah.. (koreksi kalau saya salah baca). kalau memang itu yang dipermasalahkan.. saya memberanikan diri menanggapi begini Pak Moch Kobir.dan temen temen ESN dan MAK kita kan masuk ke djpb dalam keadaan NOL. sekolah pun gratis, karena di bayari oleh Depkeu. saya juga lulusan IIK, sekolah gratis, malah waktu itu dapat uang saku dari DJPB dulu DJA(entah kenapa prodip sekarang tidak dapat uang saku). Pada dasarnya pendidikan IIK maupun Prodip itu kan semula ditujukan untuk mendapatkan SDM yang segar yang sudah dididik khusus untuk dapat terjun ke lapangan.. (daerah). ini perlu di camkan.. "untuk dpat segera terjun ke daerah" NB : walaupun dulu Menteri Keuangan nya Ali Wardana sangat anti IIK. Nah setelah lulus sarjana muda maka berangkat lah lulusan IIK, demikian pula teman teman prodip ke daerah..(itu sudah bagus kan) tentang pengalaman di Ambon saya sudah cerita di postingan terdahulu. lalu waktu kita di daerah ada ada kerjasama Depkeu depkeu dengan Luar Negeri ada program belajar S2 di LN. lalu ada sebagian lulusan Prodip yang sudah di daerah/atau di pusat diberi izin oleh DJPB ikut program itu maka berangkat lah teman teman ikut seleksi ke LN.. yang lulus , langsung ke LN.. ada yang ke Australi ada yang ke Jepang, dll kebetulan saya ke amerika, ada juga waktu itu yang ke Inggris (Nah itu sudah bagus kan) kini ada temen yang setelah lulus S2.. ingin ikut S3.. diizinkan juga bukan kah ini juga satu anugerah yang lebih luar biasa lagi. NB : saya dulu waktu lulus S2, mau juga melanjutkan S3 tapi tidak di perbolehkan. Lalu setelah itu apa? Temen temen sekalian, ada baiknya di ingat2 lagi.. Ingat, kantor pusat semula bertujuan menempatkan kita sebagai tenaga segar yang segera di terjunkan di daerah (ini bener lho, karena di daerah butuh tenaga handal) tapi ada kebijaksanaan dari pimpinan di pusat kepada temen temen didaerah oke teman2 yang bisa ikut program S2 di LN, diberi kesempatan ikut seleksi. Ini kan sebetulnya sudah sangat manusiawi harus kita anggap sebagai suatu anugerah yang luar biasa bagi temen temen. Artinya Kantor Pusat ikhlas mengurangi tuntutan nya kepada temen temen. semula di programkan untuk di daerah, kemudian diganti tidak perlu lama2 di daerah tapi ikut belajar). Lalu ada yang bilang, Pak kalau lulusan S2 / S3 pulang ke DJPB, paling paling jadi kepala seksi di daerah.. Lho koq ditempatkan sebagai kepala seksi didaerah tidak dianggap sebagai anugerah.. coba lihat berapa banyak SDM yang lulusan sarjana S1, belum jadi apa apa.. bukan kah jenjang kepala kantor membutuh kan persyaratan minimal pangkat. tempo hari sebelum berangkat ke Amerika, saya sudah menjabat kepala seksi di Tasikmalaya ketika berangkat ke amerika pangkat sudah dua tahun di III/c setelah lulus S2. balik ke Indonesia, di titipkan dulu sementara, di bagian pengembangan pegawai (setDJA) lalu setahun kemudian di angkat jadi kepala kantor di Dumai pangkat III/d Menurut hemat saya ikuti saja.. lha wong tadinya target semula kan dijadikan pelaksana di daerah aja udah mau koq. kebetulan saja yang di terima di prodip itu diatas rata rata 9. tidak pandang bulu.. target tetap target, semua lulusan prodip ditempatkan di daerah. Sekarang, prodip yang dulu rata rata diatas 9 itu sudah ada gelar S2 atau S3 lha koq ada yang tanya lagi.. "apakah Prodip S2/S3 itu harus di tempatkan di daerah.. Ya ikuti saja.. kan musti ada jenjang jenjang yang harus dilewati (yang di jalankan).. tidak bisa ujug ujug jadi kepala seksi di Kantor Pusat, ada persyaratan pengalaman dulu kerja di daerah sebelum bisa duduk sbg kepala seksi di Kantor Pusat Ikuti saja deh apalagi kalau kita bisa berterimakasih atas Rahmat NYA yang telah diberikan segitu besar nya kepada kita.. dan selalu mempunyai keyakinan bahwa pimpinan di kantor pusat akan selalu memperhatikan kita (dulu diperhatikan, kelak juga di perhatikan).. dulu waktu baru D3 di daerah sudah diperhatikan oleh pimpinan kantor pusat, yaitu boleh ikut seleksi Program S2 di LN. kelak waktu anda jadi S2/S3 sebagai kepala seksi di daerah, pasti juga di perhatikan mudah2an tidak terlalu lama jadi kepala seksi di daerah.. satu lagi dari saya.. ingat.. kita ini pegawai negeri.. jenjang karier ada tahapan tahapan nya dulu Pak Dirjen kita juga jadi pelaksana..di Jambi, lalu jadi kepala seksi di Purworejo dulu Pak Sekjen Depkeu juga jadi pelaksana di Manado, lalu jadi kepala seksi di PPDIA. dulu Pak Sekretaris juga jadi pelaksana di Kediri? lalu jadi kepala seksi di TUA. dulu saya jadi pelaksana di Ambon, dan kepala seksi di Tasikmalaya. dan seterusnya dan seterusnya.. .. ada jenjang nya Pak, tidak bisa langsung ke kantor pusat. . Demikian pak Moch Kobir..dan temen temen yang lain.. itulah sekedar pengalaman temen temen yang sudah lebih dulu naik keatas, mungkin dapat jadi gambaran yang jelas bagi temen temen sekalian. kekurangan maupun kelebihan nya saya minta maaf.. karena sebetulnya ini bukan kompetensi saya menanggapi. wassalam ------------------------------------------------------------------------------------------------------ moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yth. Pak Hari,
Pak Hari, bagaimana ini Pak? Ini kasus dan kisah nyata. MAK dan ESN telah mengungkapkan apa adanya. Tidak ada rekayasa. Apa yang sebaiknya dan seharusnya kami lakukan? Mohon bimbingan, arahan, dan masukan dari Bapak. Mohon maaf dan terima kasih. Wassalam, Moch. Kobir ----- Original Message ---- From: ekoadadisini To: [email protected] Sent: Wednesday, 4 July, 2007 2:32:34 PM Subject: [Perbendaharaan List] dari adik ESN untuk abang MAK Horas mejuah-juah! ESN: HORAASSS Eko, bagi saya, kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan. Gaya bebas boleh, ada footnote silakan. Bagaimana baiknya saja untuk kita semua. Lihat juga, jawaban ke Lion dan Iwan H, masih ada kaitannya. ESN: sudah jelas kalo iklan GSM-Card 'Bebas' ga ada di australi..hehehe sebenernya bukan yang baik untuk kami (yang baca) lae, tapi sebenernya apa yang baik buat lae Kobir, kan yang bikin surat pernyataan Lae :) (dimuat di milis lagi :) ) Eko, kalau saya bela-belain menyapa Ando di Serui, Adhit di Timika, Pandu di Aceh, Rifki di antah berantah, dsb., itu ada maksudnya. Untuk apa? Ya untuk mereka dan kita semua. Saya ingin menjemput suara hati terdalam mereka. Saya ingin mereka berbicara. Mengeluarkan isi hati mereka. ESN: sekedar pemberitahuan lae 'ekoadadisini, Ando, Eko Sumando Nababan' adalah 1 orang ganteng yang sama hehehe...soalnya di KPPN Serui ada 3 Eko, (memang nama saya kaya obat generik: murah dan berkualitas, jadi banyak yang pake huehehehe) betul pak dari kita, oleh kita, untuk kita, dan maksud bapak sangat dihargai oleh semua yang penempatan di 'antah berantah' :) Kalau buat saya sendiri sih, ngapain repot-repot kesana kemari. Diam juga, kalau ikut pola yang kemarin, lulus S2 LN biasanya jadi Kepala Seksi di Kantor Pusat (saya tidak tahu pola yang besok2, mungkin berubah). ESN: hmmm...berarti kalo udah S2 luar negeri buat apa balik kerja lagi di 'antah barantah' (masuk akal juga :) ) Kalau mereka (teman-teman) berbicara, maka para pengambil keputusan akan mendengar. Mendapat second opinion. Saya juga mencoba membuka dialog. Kalau Eko atau Adhit tanya, sedapat mungkin saya jawab, kalau memang penting, perlu, dan saya mampu menjawabnya. Kalau saya tidak bisa jawab, ya saya bilang tidak bisa jawab, atau paling tidak diam saja. ESN: jadi kalo jawaban bapak pada adhit (beserta syaratnya) itu penting ga pak?saya rasa penting karena bapak sampai repot2 memikirkan syaratnya :) (atau saya salah?) Saya ingin, pola komunikasi yang baik mulai kita bangun. Kelenturan komunikasi inilah, yang selama ini saya rasakan harus kita tingkatkan bersama. ESN: SETUJUUUU!! Eko tahu tidak, apa itu Kebijakan (Policy)? Policy is what government do or not to do. Jadi, Pak Siswo itu, sah-sah saja untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Suatu kebijakan, tidak mungkin memuaskan semua pihak, tetapi kebijakan diharapkan memuaskan lebih banyak pihak. Mengerti? ESN: iya pak, saya periksa di kamus kalo policy itu terjemahannya kebijakan, terimakasih atas informasinya, mengenai kalimat bahasa inggris berikutnya saya terjemahkan secara bebas. "kebijakan adalah apa yang pemerintah lakukan atau tidak lakukan", terimakasih atas penjelasan bapak...saya juga mengerti kalo kebijakan tidak mungkin memuaskan semua pihak tapi yang saya liat dari jawaban mas kobir kepada adhit yaitu sedapat mungkin kepuasan mas kobir dulu yang terpenuhi :) (tenang aja pak saya yakin buat orang2 yang penempatannya ga di 'antah berantah' pasti banyak yang puas dan yang penempatannya yang di antah berantah banyak yang ga puas, jadi kebijakan itu memang tetap hal yang relatif ) Namun, sebuah kebijakan harus mengandung kebijaksanaan (Wisdom). Kebijaksanaan berarti harus mampu menunjukkan pengalaman, pengetahuan, ketepatan, dan kualitas keputusan yang baik. Tidak mudah, bukan? ESN: betul pak untuk memutuskan kebijakan yang bijak tidaklah mudah (dan perlu kebesaran hati nuat yang 'kena kebijakan' terutama dari pihak yang ga puas) , tapi saya rasa pertanyaan penting dari adhit kepada bapak adalah "apakah bapak yang s2 LN ini mau ditempatkan di 'antah berantah?" sesederhana itu pak (tapi tentu kita semua tau kalo tidak sesederhana itu jawabannya), dan jawaban sederhananya adalah 'ya' dan 'tidak' dan kalo saya simpulkan dari Surat Pernyataan Integritas bapak kobir (yang go public) dengan premis 1 "...bersedia ditempatkan di seluruh indonesia ..." dan premis 2 "Timika adalah Bagian Indonesia" berarti ada kesimpulan pak Kobir bersedia ditempatkan di timika, nah gitu aja kok repot .... :) jadi kalo pake logika matematika seharusnya bapak menambahkan premis 1b 'jika dan hanya jika' ,,,, sesederhana itu :) ESN: saya sudah membaca postingan bapak ke pak Seti (Lion) dan pak Iwan, sungguh menyebalkan bagi saya untuk melihat bagaimana bapak yang biasanya menggunakan kerangka berpikir "outside of the box" akhirnya harus "masuk kotak lagi" ketika hal itu (red.penempatan) dihadapkan kepada bapak sori kalo 'nyolot' pak Syalom dari kakakmu, Lai Kobir (bukan) Nababan ESN: Walaikumsyalom Kakak :) (menurut adat kalo laeku pasti bukan nababan :) ) adikmu yang masih harus banyak belajar :) Eko Sumando Nababan ------------ --------- -------- ESN dari dialog MAK dan Lion . Oya, Adhit khan cerita, kalau ada lulusan S2-LN DL ke Timika dan ditanya serupa, jawabannya sama: "Kalau bisa jangan di Timika",..lha, kalau saya jawab seperti yang sudah saya katakan ke Adhit, itu bukannya selangkah lebih maju? ESN: menurut saya itu kaya kita makan Mie Sedap rasa "Kari Ayam" dengan makan Indomie rasa "Kari Ayam" rasanya sama aja, cuma beda produsen :) (maklum lidah saya ga sesensitf lidah dengan pak Bondan "maknyuss") Selain itu, yang tanya saat ini khan Adhit. Kalau yang tanya Pak Siswo atau Pak Hari secara langsung, di belakang jawaban itu akan saya tutup dengan begini: "Keputusan saya serahkan ke Bapak, Bapak lebih tahu yang terbaik buat saya dan organisasi ini", begitu. ESN: huuuu,,,,beraninya sama anak kecil! :) (maap kalo 'nyolot' bang :) kalo gitu kenapa abang ga nutup jawaban ke adhit dengan "Keputusan saya serahkan ke Pimpinan, Pimpinan lebih tahu yang terbaik buat saya dan organisasi ini", ) Kalau Mas Seti membaca baik-baik postingan saya tentang "Diklat Integritas dari Perth" maka gaji bukanlah satu-satunya motivasi pegawai bekerja. Masih banyak faktor yang harus digali. Ini perlu kerja keras dan bukan pekerjaan mudah. Secara pribadi, saya mengatakan kepada diri saya: "Jangan pernah kautanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan, apa yang telah kauberikan kepada negaramu". Namun, tidak semua orang sama dengan saya. Tidak semua orang seperti saya. Bahkan, Mas Seti yang pernah sekelas dengan saya pun tidak setara pemahamannya. Ini yang terus saya perjuangkan, meski saya tahu butuh waktu yang sangat panjang. Kesetaraan pemikiran dan pemahaman. Seperti yang telah saya tulis kepada Acep (Perseteruan Acep-Khobir 2007), bahwa pada saat saya menulis di milist ini, tidak semata-mata mewakili diri pribadi saya. Saya menulis terkadang ingin mewakili "hati nurani" terdalam dari rekan-rekan di seluruh pelosok Indonesia yang tak mampu mereka ucapkan. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan, tetapi saya juga mengerti kesulitan para pejabat pembuat keputusan. Ngomong-ngomong, Mas Seti dulu alasannya apa waktu minta pindah dari KPPN Saumlaki ke Kanwil Semarang? Boleh tahu, nggak? Bukannya sudah dapat gaji? ESN: we're all human and yes we make mistakes, nah ini dia .... "balik lagi ke kotak" :) Ada semacam kompetisi. Selain test ilmiah (psikotest), bisa juga melalui seleksi administrasi. Contoh: Saya memilih KPPN Kediri, tetapi Pak Langgeng Suwito, S.E., M.Com juga mau memilih posisi yang sama, maka saya harus mengalah. Namun, jika yang memilih adalah Toni Rediyansah (adik kelas saya) atau Mas Hendra (masuk Depkeu pakai S2), maka harus dicek siapa yang DUK-nya lebih tinggi. Itu cara yang paling masuk akal saya pikir. Memang, saya sadar, persaingan terberat adalah wilayah "JAWA TENGAH". Setahu saya, orang-orang Jateng ini yang mendominasi jumlah pegawai. Ke depan, saya lebih condong untuk regionalisasi rekrutmen pegawai seperti yang saya ajukan di postingan saya yang paling awal. ESN: saya rasa pak kobir sudah melihat postingan tentang penempatan selama ini (tentang istri, tentang orang2 yang ga berangkat tiba2 dpt di kantor pusat, tentang angkatan 2006 dll) masih banyak cara2 yang 'tidak masuk akal' yang dipraktekkan di DJPB dalam penempatan, kan hal2 yang tidak masuk akal itu yang sangat menyebalkan! !! ESN: bang kobir yang terkasih, mungkin yang saya sangat inginkan adalah jawaban "ya saya siap ditempatkan dimana saja.(titik) " mungkin ini bisa menjadi motivasi buat saya (yang masih anak kemaren sore dan temen2 yang magang di 'antah berantah') dalam menghadapi penempatan dengan berpikir "gila!, yang S2 LN aja siap ditempatin dimana aja, apalagi gw?" dan saya samasekali tidak menyalahkan jawaban bang kobir (sama sekali tidak ada niat untuk itu) karena saya mungkin juga akan menjawabnya dengan mencantumkan "syarat dan ketentuan" (mungkin lebih banyak ...hehehe) tapi saya hanya menyinggung kenapa kok berbeda?? (dengan surat pernyataan integritasnya) soalnya kan kalo atasan2 kita (bapak2 dan ibu2 yang harus mengeluarkan kebijakan) yang nilai kan katanya "lho kamu kemaren udah tandatangan surat bersedia penempatan dimana aja kan?kok nawar??"hehehe tapi saya akui memang bang kobir pinter 'ngeles' ke adiknya (termasuk 'ngelesin' bahasa inggris) ...hehehe dan benar kata pak zamzam, bang kobir emang selebritis milis (setidaknya menurut saya :) ) - kursi di tanah abang banyak yang reot maapin aye bang kalo rada nyolot - - daun pandan beli di bekasi cukup sekian dan terimakasih- ____________________________________________________________________________________ Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all webmail accounts. http://au.docs.yahoo.com/mail/unlimitedstorage.html [Non-text portions of this message have been removed] Yahoo! Groups Links --------------------------------- Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games. [Non-text portions of this message have been removed]
