Assalamualaikum Wr. Wb.

Saudara-saudaraku, tahukah tentang sesuatu yang paling banyak menyita pikiran, 
waktu, dan tenaga, yang bisa berakibat berkurangnya kemampuan akal dan merusak 
ibadah? Itulah perasaan gelisah. Cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi, 
yang berkaitan dengan urusan duniawi. Padahal sudah jelas, perasaan cemas 
--apalagi berlarut-larut-- tidak akan membuahkan penyelesaian, selain membuat 
hati semakin sengsara dan bertambah menderita.

Padahal, hidup ini sungguh teramat singkat. Kapan lagi kita akan merasakan 
kebahagiaan apabila dari hari ke hari yang terkumpul adalah kecemasan yang 
berujung pada kegelisahan dan hilangnya perasaan nikmat dalam menjalani 
hari-hari kehidupan ini? Memang, cemas berpangkal pada belum mantapnya 
keyakinan bahwa segala kejadian yang menimpa mutlak datangnya dari Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa 
seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada-Nya, 
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui 
segala sesuatu" (Q.S at-Taghabun [64]: 11).
Dalam ayat lain, "Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak 
pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz 
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah mudah 
bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita 
terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya jangan terlalu gembira terhadap 
apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang 
sombong lagi membanggakan diri" (Q.S al-Hadid [57]: 22-23)

Jelaslah, sesungguhnya setiap kejadian yang kita alami tidak akan lepas dari 
ketentuan dan izin Allah, sehingga tidak ada kecemasan dan kegelisahan saat 
suatu kejadian menimpa kita.
Akan tetapi, kebanyakan dari kita ternyata amat sibuk dengan pikiran yang 
mencemaskan perbuatan-perbuatan makhluk dan mengharapkan datangnya bantuan 
makhluk. Padahal sudah jelas, tidak ada satu pun yang dapat menimpakan mudharat 
ataupun mendatangkan manfaat, selain dengan izin-Nya.
"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat 
menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, 
maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa 
yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun 
lagi Maha Penyayang" (Q.S Yunus [10]: 107).

Jadi, apa perlunya kita bercemas-cemas memperpanjang pikiran dan menggantungkan 
harapan kepada sesama makhluk, sedangkan mereka pun sama sekali tidak dapat 
menolak kemudhratan yang menimpa diri mereka sendiri. Cukuplah kepada Allah 
kembalinya segala tumpuan hati, harapan dan segala urusan, karena hanya Dia-lah 
penguasa segala-galanya dan penentu segenap kejadian. Tiada sesuatu pun di 
jagat semesta ini yang dapat bergerak tanpa izin-Nya karena tiada daya dan 
upaya tanpa kekuatan dari-Nya.
Barangsiapa yang yakin bahwa Allah-lah yang akan menolong dan menjaminnya dalam 
setiap urusan, niscaya Allah pun benar-benar akan menjaminnya. Karena, "Aku," 
firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi, "sesuai dengan prasangka hamba-Ku dan Aku 
bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku di dalam 
hatinya, maka Aku pun ingat kepadanya di dalam hati-Ku. Jika ia ingat kepadaku 
dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya dalam 
lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, Aku 
mendekatinya pula sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku 
mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku 
mendekatinya sambil berlari" (H.R Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah ra).

Nah, itulah kunci kehidupan yang sesungguhnya. Semua kejadian telah diketahui 
dan diatur secara cermat, penuh kebijaksanaan, dan kasih sayang, untuk 
ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Tahu akan keadaan kita pada masa 
lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dia Maha Tahu akan keinginan dan 
cita-cita kita. Dia pun Maha Tahu akan tingkat intelektualitas, kekuatan tubuh, 
keadaan perekonomian, bahkan segala yang ada pada diri kita. Bukankah Dia yang 
menciptakan dan mengurus segala-segalanya?
Jadi, mutlak setiap yang ditimpakan itu akan sangat sesuai dengan keadaan kita. 
"Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia 
mendapat pahala (dari kebaikan) yang dikerjakannya dan Ia mendapatkan siksa dan 
(dan kejahatan) yang dikerjakannya". (Q.S al-Baqarah [2]: 286).

Sekiranya suatu musibah dirasakan pahit dan amat berat, maka sebetulnya semua 
itu semata-mata karena kita belum mampu memahami hikmah di balik kejadian 
tersebut. Atau karena kita masih beranggapan bahwa rencana kita lebih baik 
daripada rencana Allah SWT.
Padahal ilmu kita yang teramat sangat sedikit ini kerapkali terlampau 
diselimuti oleh hawa nafsu yang cenderung menipu dan menggelincirkan diri, 
sedang Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala-galanya. Firman-Nya, "Boleh 
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula 
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, 
sedangkan kamu tidak mengetahui." (Q.S al-Baqarah [21]:216).

Bilamana datang suatu kejadian yang mencemaskan, segera kuasai diri . Jangan 
menyiksa diri dengan pikiran yang diada-adakan , sehingga terasa makin 
menyiksa. Memang begitulah kita; lebih gemar menganiaya diri sendiri dengan 
menenggelamkan ingatan dan lamunan pada yang tiada bermanfaat.
Segeralah kembalikan segala urusan kepada Allah. Yakinilah kesempurnaan, 
pertimbangan, dan kasih sayang-Nya, dan segera bulatkan hati bahwa hanya 
Dia-lah satu-satunya pembela. Dia-lah pemberi jalan ke luar yang paling 
sempurna. Mustahil Dia lalai dan lupa terhadap keadaan hamba-Nya. Tidak mungkin 
pula Dia memungkiri janji-Nya terhadap orang-orang yang bersungguh-sungguh 
yakin bahwa pertolongan itu hanya datang dari-Nya. Setelah hati dan keyakinan 
kita bulat, segera juga bulatkan ikhtiar untuk memburu pertolongan Allah dengan 
amalan-amalan yang dicintaiNya. 

Camkan, bahwa rida terhadap takdir itu letaknya di dalam hati, tetapi tubuh 
harus ikhtiar di jalan yang diridai-Nya. Dengan demikian, setiap untaian 
kejadian yang menimpa kita akan menjadi sarana yang paling tepat untuk gandrung 
bermunajat kepada Allah, sehingga membuat kita semakin taqarrub dan tidak 
pernah bisa lupa kepada-Nya.

Itulah sebenarnya rahasia ketenangan dan kebahagiaan sejati di dunia ini yang 
insya Allah akan menjadi bekal kebahagiaan yang kekal di akhirat nanti. 
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan 
mengingat Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. 
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat 
kembali yang baik". (Q.S Ar-Ra`d [13]:28-29).


Wassalam,
>From Perth with love,

Kobir


      
____________________________________________________________________________________
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all 
webmail accounts. 
http://au.docs.yahoo.com/mail/unlimitedstorage.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke