saya dapet dr milisnya vaksin.com. Md2an bermanfaat.

Membangkitkan dbf yang rusak oleh Kespo       7 Agustus 2007
     
   Kalau ditanyakan kepada pengguna komputer di Indonesia, program database apa 
yang paling populer di Indonesia ? Kemungkinan besar jawaban yang anda dapatkan 
adalah MS Access, MySQL atau kalau lebih keren lagi SAP (bukan merek minuman) 
dan Oracle (bukan Ora Kelar Kelar). Tetapi sebuah virus lokal menguak kenyataan 
yang mengejutkan, dan sekali lagi menunjukkan bahwa Indonesia memang unik dan 
jangan samakan Indonesia dengan yang lain. Pada saat artikel ini dibuat, korban 
Kespo yang mengalami kehancuran database terdeteksi mencapai ratusan kasus dan 
menurut pengamatan Vaksincom, hal ini hanya merupakan puncak gunung es, karena 
populasi pengguna database Dbase / Xbase di Indonesia yang sangat besar dan 
kabar buruknya, umumnya server databasenya tidak terlindung dengan program 
antivirus yang mampu mendeteksi Kespo karena kebanyakan tidak terkoneksi ke 
internet dan hanya terkoneksi ke intranet. Tetapi bahayanya, Kespo tidak 
menyebar melalui internet atau intranet saja, malahan
 penyebaran utamanya adalah melalui UFD (USB Flash Disk) yang notabene menjadi 
alat wajib yang digunakan oleh para pengguna komputer dalam bertukar data antar 
komputer di Indonesia karena kepraktisannya. Sejalan dengan perkembangan waktu, 
Kespo akan menyebar dan diperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan 
mencapai puncak penyebarannya pada komputer-komputer perusahaan yang 
menggunakan database Xbase (.dbf) dan tidak menggunakan internet.
   Seperti kita ketahui, virus Kespo selain mengincar file .doc (MS Word) dan 
xls (MS Excel) sebagai korbannya, ternyata file .dbf pun termasuk dalam daftar 
file yang dijahilinya. Celakanya, jika file .doc dan .xls yang di injeksi dapat 
disembuhkan dengan file fix yang banyak beredar di internet. File .dbf yang 
di”permak” ini diperlakukan agak berbeda dengan file doc/xls sehingga 
databasenya tidak dapat berfungsi dan harus di recover dari back upnya. 
Pertanyaannya adalah, bagaimana kalau lupa memback up, atau backupnya juga ikut 
terkena Kespo ? Wah… kalau sudah begitu dapat dikatakan bahwa virus Kespo 
membuat anda makin religius :P. Mengapa ? Karena anda pasti langsung berdoa 
dalam hati meminta kembali data anda dan menyesali mengapa anda tidak melakukan 
backup dengan baik dan disiplin. Cara terakhir tentunya ada, input ulang semua 
data …. Bisa-bisa anda bisa lembur berminggu-minggu jika database yang 
dihancurkan itu ukurannya besar.
   Format database paling populer di Indonesia
   Setelah Kespo menginfeksi komputer, ia akan mulai menjalankan aksi mautnya 
dimana salah satu yang paling ditakuti pemilik database (sekarang) adalah 
aksinya mengenkrip header semua file berekstensi .dbf, .mdf dan .ldf. Jika .mdf 
dan .ldf adalah file Microsoft SQL server dan menurut laporan yang kami terima, 
aksi ini kurang mulus (mengandung bug) sehingga pengguna database MS SQL 
terhindar dari aksi mematikan Kespo. Lain halnya dengan pengguna .dbf. Seperti 
kita ketahui, .dbf adalah format file database yang diciptakan oleh Ashton-Tate 
dengan program database dBASE dan dibeli oleh Borland,  sekarang dimiliki oleh 
dBASE Inc. Sebenarnya yang populer bukan .dbf dari dBASE karena nama dBASE 
sudah dipatenkan sehingga tidak dapat digunakan secara gratis. Namun struktur 
data dBASE tersebut merupakan milik umum dan tidak dapat dipatenkan sehingga 
para vendor database lain sepakat untuk tetap menggunakan struktur database ini 
dan menjadikannya sebagai standarisasi dengan nama baru
 Xbase. Adanya standarisasi ini penting supaya database yang dihasilkan dari 
vendor database yang berbeda dapat kompatible dengan vendor lainnya. Contohnya, 
file database Visual Fox Pro dapat dimengerti oleh Clipper atau dBASE dan 
sebaliknya. Dalam implementasi yang lebih rumit lagi, file .dbf ini dapat 
menjadi jembatan penghubung data antar software yang berbeda fungsi. Contohnya 
data Statistik dari SAS, Stata dan SPSS dapat dipergunakan dalam aplikasi 
sistem informasi geografi ArcView dan ArcGIS jika datanya dikonversikan ke .dbf.
   Namanya juga database, ukurannya pasti besar-besar (puluhan – ratusan mega) 
dan data ini terdiri dari kumpulan data yang dimasukkan dalam waktu yang lama. 
Makin besar databasenya, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelolanya. 
Jadi bisa dibayangkan kalau database ini rusak dan anda harus bertanggung jawab 
untuk memasukkan semua data ini. Karena itu memang (sekali lagi) back up 
database “yang baik dan benar” merupakan satu keharusan bagi pengguna database. 
Definisi “yang baik dan benar” adalah bukan sekedar rutinitas saja, melainkan 
file backup ini juga harus di test secara berkala memang berfungsi dan 
penyimpanan file backup ini juga penting. Jangan seperti satu kasus dimana 
backup database disimpan pada komputer yang sama (pada direktori yang berbeda) 
dan ketika terkena Kespo, sekalian borongan file backupnya juga di”permak”. 
   Apa benar .dbf merupakan format database yang paling populer di Indonesia ?
   Vaksincom pada mulanya juga ragu, karena .dbf (dBASE) adalah program 
database yang dipelajari bareng jaman Lotus 123 dulu, lebih dari 20 tahun yang 
lalu. Masa ada perusahaan yang masih menggunakan dBASE ? Bukankah sekarang 
sudah zamannya si Oracle yang ngakunya “unbreakable” :P untuk korporat, MS 
Accessnya Windows atau MySQLnya opensource ? Tetapi rupanya kenyataan 
mengatakan lain. Memang benar kalau beberapa korporat besar menggunakan Oracle, 
MS Access dipergunakan oleh pengguna Windows dan MySQL menjadi standar de facto 
database webserver. Tetapi rupanya perusahaan-perusaha an menengah dan kecil 
rupanya memiliki kebijakan dan pandangan yang berbeda. Kalau database sudah 
bisa jalan dengan baik, untuk apa dirubah lagi ? Karena merubah database 
membutuhkan usaha dan biaya yang tinggi dan manajemen perusahaan di Indonesia 
terkadang masih memandang IT sebagai cost center saja. Pada waktu sistem 
komputer tidak berfungsi dan mengganggu operasional perusahaan, baru manajemen
 tersentak. Celakanya, beberapa manajemen “hardcore” yang menjadi korban Kespo, 
mungkin karena saking kesalnya kehilangan data sempat berpikir untuk tidak 
menggunakan komputer sama sekali pada perusahaannya dan kembali menggunakan 
buku catatan manual dan kartu saja ……. Ampuuunnn Di Jeee !!
   Menurut perkiraan Vaksincom, pengguna .dbf ini mayoritas adalah pengguna 
aplikasi database Visual Fox Pro, Clipper dan aplikasi lain yang terkait dengan 
format .dbf seperti SPSS dan ArcGIS. Dan secara persentase jumlah perusahaan, 
pengguna database .dbf ini mencapai lebih dari 50 % dan tersebar di seluruh 
Indonesia. Satu keunikan lain yang membedakan Indonesia dengan negara lain 
adalah para pengguna database ini sebagian besar “tidak online” atau hanya satu 
komputer saja yang online melalui dial up ke internet sehingga ancaman virus 
dari internet terhadap database servernya relatif dapat diminimalkan dan 
perusahaan merasa tidak perlu untuk memasang program antivirus. TETAPI …… ada 
satu celah yang juga merupakan ciri khas Indonesia, dimana pengguna UFD (USB 
Flash Disk) nya sangat tinggi dan pertukaran data antar komputer melalui UFD 
sangat sering dilakukan. Ibarat hubungan seks bebas tanpa pengaman yang 
mengakibatkan penularan penyakit, komputer tanpa antivirus yang
 saling bertukar data melalui UFD ini juga sangat rentan terinfeksi virus 
melalui UFD dimana pada saat mencolokkan UFD, virus yang bercokol di satu 
komputer langsung menginfeksi UFD tersebut sehingga ketika dicolokkan ke 
komputer lain yang masih bersih, virus di UFD tersebut secara otomatis 
(autorun) akan menginfeksi komputer tersebut. Salah satu virus lokal tersebut 
adalah Kespo yang dalam salah satu rutinnya merusak file database (.dbf) 
komputer korbannya.
   Bagaimana cara mengembalikan .dbf yang sudah di”permak” ?
   Bagi orang awam, kerusakan pada file .dbf ini ibarat dapat Tsunami pada 
server databasenya. Secara default, pesan yang akan muncu ketika kita mengakses 
file .dbf yang telah dirusak Kespo adalah :
   “Not a Table”
   Selain itu ada kemungkinan pesan tersebut telah dirubah oleh programmer 
(jika anda menggunakan aplikasi database buatan lokal), intinya pesannya akan 
berbunyi seperti :
   "Data Anda dalam keadaan rusak, silakan diperbaiki"  à Pesan ini muncul jika 
anda menggunakan aplikasi lokal SIAP www.siap-software. com
   Lalu kemana anda harus mencari pertolongan jika menjadi korban ?  Kabar 
baiknya, lagi-lagi ada veteran database yang meluangkan waktunya untuk 
membenarkan masalah ini. Terimakasih kepada Bapak Ismuddin yang telah 
meluangkan waktunya untuk memberikan solusi bagi masalah ini. Jika database 
anda yang rusak ini memiliki ukuran besar dan anda memerlukan layanan Database 
Recovery profesional, silahkan hubungi [EMAIL PROTECTED] com.
   Langkah untuk merecover file DBF yang rusak oleh virus KSPOOLD (Sumbangan 
Bp. Ismuddin, veteran dbf Indonesia).
   Kerusakan data yang disebabkan oleh virus KSPOOLD adalah mengganti header 
dari file yang berekstensi DBF (Kalau file data dbf yg sudah diganti 
ekstensinya tidak diserang). Karena header setiap file dbf tidak sama 
ukurannya, ini tergantung dari jumlah field, maka untuk file yang jumlah 
fieldnya sedikit, virus bisa menyerang record. Hal ini saya perhatikan karena 
disengaja oleh pembuatnya agar ukuran file tidak berubah.
   Untuk memperbaiki header file dbf yang rusak bisa dilakukan dengan bantuan 
utility UltraEdit yang dapat di download versi trial nya di :
   http://www.tucows. com/preview/ 194610
     
   Langkah perbaikan :
   1.      Buka file dbf yang rusak dengan UltraEdit. (lihat Gambar 1)
   
   Gambar 1, Buka file .dbf yang rusak dengan UltraEdit
   2.      Buka file yang masih baik dgn struktur yang sama dengan file yang 
rusak, atau buat file baru yang strukturnya sama dgn file yang rusak.
   3.      Blok header data yang clean mulai dari batas header dgn record 
sampai ke awal file, klik kanan pilih copy. (lihat gambar 2)
   
   Gambar 2, Copy header file yang masih bagus
   4.      Blok header data yang rusak mulai dari batas antara header dgn 
record sampai awal file, klik kanan pilih paste. (lihat gambar 3)
   
   Gambar 3, Paste ke file yang rusak
   5.      Simpan data yang rusak dgn cara masuk ke Menu, Pilih File lalu Save. 
Perbaikan data tahap pertama sudah selesai, hasilnya masih belum bisa dibaca 
oleh VFP, karena jumlah record yang tercatat pada data yang rusak tidak sama 
dengan yang di kopikan.
   6.      Perbaikan selanjutnya saya menggunakan tool yang berfungsi untuk 
memperbaiki header file dbf yg kerusakannya tidak parah dgn Tabel Repair 
Utility (Program Terlampir).
   7.      Klik Pilih File, cari file yang disimpan melalui UltraEdit, lihat 
gambar 4.
   
   Gambar 4, Table Repair Utility yang dibuat untuk membenahi table file yang 
rusak
   8.      Klik Tombol Ganti Pada baris jumlah Recor
   9.      Klik Tombol Ganti Pada baris ukuran file
   10.  Bila File yg Anda Recover mempunyai Field Memo sedangkan file memonya 
tidak tersedia, ubah Table Flag menjadi Has CDX File, kemudian klik Ganti.
   11.  Klik Buka File ...untuk membuka file yang sudah di recover, pada bagian 
bawah terdapat record sampah, buang saja .. !
   Data yang rusak sudah bisa diselamatkan.
     
   Berikut ini saya sertakan juga Program untuk perbaikan Tahap kedua setelah 
menjalankan UltraEdit Fix-dbf.zip (REPAIR.EXE dan MODULS.EXE)
     
   Langkah Pencegahan menjadi korban Kespo
   1.       Gunakan program antivirus yang mempu mendeteksi virus Kespo dan 
pastikan antivirus anda sudah terupdate secara otomatis.
   2.       Jika memungkinkan, ganti ekstensi database anda, jangan menggunakan 
ekstensi .dbf. Anda dapat mengganti ekstensi database dengan ekstensi khusus 
(apa saja), asalkan pada program aplikasi database nya di set untuk mencari 
nama file dengan ekstensi khusus tersebut, misalnya database “data1.dbf” 
diganti dengan nama “data1.ilu” atau menjadi “data1.abc”
   3.       Selalu ingat untuk melakukan back up pada database anda secara 
benar dan teratur. Ingat untuk sedia payung sebelum hujan, dan payungnya di cek 
secara teratur selalu bekerja dengan baik.
     
   Salam,
   Aa Tan (Alfons Tanujaya)
   [EMAIL PROTECTED] com
   PT. Vaksincom
   Jl. Tanah Abang III / 19E
   Jakarta 10160
   Ph : 021 345 6850
   Fx : 021 345 6851

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke