Ada fenomena menarik dua  minggu belakangan ini, milis ini berkurang
pedasnya, mungkin karena mendekati bulan romadhon, banyak yang lebih
mendekatkan diri pada acara2 tobat hehehehe...

tapi yang menjadi kekhawatiran saya adalah pendapat salah seorang
temen di milis ini yang menulis fear lead to apologie...
seperti kita tahu Kode etik Pegawai DJPB menganggap kalau bentuk
koreksi kepada atasan baik lisan maupun tulisan bisa dikatakan
pelanggaran....
 
wah kalo memang demikian,  jadinya bukan semangat transparansi dong
malah kembali memelihara   ABS seperti yang di tulis juga sama rekan
milis di sini...
atau juga mungkin karena kekhawatiran penentuan grading seperti yang
di ungkap temen kita Yuli dan om yohan...

Whot Eva, saya dengar banyak milisi, yang menghilang karena teguran,
sindiran baik langsung maupun tidak langsung dari yg punya kewenangan
untuk reduce tulisannya, 

saya ingin milis ini jadi benteng terakhir demokrasi, dimana kita bisa
bicara tanpa melihat pangkat jabatan dan usia, tapi hanya kita dengan
kita untuk kebaikan kita, dalam batas sopan santun yang umum.
jadi mestinya bukan fear lead to apologie tapi understanding lead to
forgive..

--- In [email protected], yohan gaol <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Semoga kekwatiranya ngak bakal terjadi,
>   Seharusnya pimpinan(atasan) harus berpikir bahwa bawahan itu
adalah Patner kerja bukan saingan, Jadi jangan sampai membuat bawahan
teraniaya.
>   Kalau saya pribadi sih ngak setuju kalao ada Kasi (atasan)yang sok
Kuasa, karena kita dibirokrasi itu adalah kerja Tim jadi ngak bisa
kerja sendirian.
>   Semoga kekwatiran teman teman tidak terjadi.
>   Contoh ditempat kami semua pelaksana dimasukkan Grade Menengah,
jadi kalau bisa nanti 6 bulan semuanya harus masuk grade
tertinggi...(percaya tidak ada atasan yang suka lihat anak buah
menderita)..
>   tetap semangat


> faris rosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           So pasti apa yang anda khawatirkan terjadi.
> Saya sudah melihat gelagat kasi yang sok punya kuasa untuk
berkontribusi penurunan grade, sebab walau nadanya guyon pernah ada
yang terucap , awas kalo nggak mau ...... ( ikut idenya : .... ) akan
grade akan saya turunkan. 
> Jadi sistem ini lebih parah dari masa orba, sebab membikin RAJA-RAJA
KECIL, seperti kasi main otoriter, saling ancam
> Kasi saya terus terang katrok dalam segala bidang, .... tetapi
stylnye sok pinter, kalo ada kerjaan selalu diubah-ubah sehingga
substansi permasalahan jadi kabur, dan keliru sehingga atasan dia jadi
bingung, la... kalo ada semacam ini kasi dengan enteng ..... ah kerja
pelaksana nggak bener nih............
> Jadi sistem grade semacam ini yang mestinya baik untuk meningkatkan
prestasi kerja, malah jadi membudayakan ABS , .... peluk-pelukan
sehingga posisi aman atau naik.
> Ini di ruang sebelah telah terjadi, dia yang disenangai dengan
mati-matian diperjuangankan agar gradenya tinggi, padahal dianya juga
katrok, kerjanya klise saja, tiada inovasi.....
> 
> 
> 
> 
> Yuli <[EMAIL PROTECTED]> wrote: kalo gak salah tangkap (benerin kalo salah)
begini situasinya:
> grade kita bisa naik atau turun, berdasarkan nilai. Yang menilai itu 
> atasan kita langsung. Misal pelaksana kayak saya ini, ya kepala 
> seksinya. Gitu?
> Nah... memang nobody's perfect. Sekarang kalo sang kepala seksi (atau 
> atasnya lagi, atasnya lagi) memiliki mental yang amat sangat tidak 
> obyektif... haruskah grade kita turun karena hal itu. Contoh yang 
> saya dengar maupun saya lihat, ada kasie yang beliaunya sendiri gemar 
> menghilang ataupun main game ataupun tidur. Ada lagi yang tanpa sebab 
> jelas lebih menyukai pelaksana A daripada pelaksana B dan C, sehingga 
> saking sayangnya, pulang duluan pun diabsenkan, gak kerjapun gak 
> papa. Sementara pelaksana B dan C dimarahi melulu... Ada Lagi, yang 
> saking baiknya, beliau seperti patah hati kala harus menutup absen 
> datang dengan garis merah sementara masih ada satu dua anak buahnya 
> tercecer. Belum lagi kasie bapak-bapak yang cenderung Pecinta 
> Wanita... wah... ini sih gampang... pengen grade naik? Rapet-rapetin 
> aja badan ke beliau tiap kali berdekatan (ini bukan contoh nyata yang 
> pernah saya liat, cuma ya gak menutup kemungkinan masih ada produk 
> kayak begini bukan?), atau peluk-peluk dikit tiap gak ada 
> orang...beres... grade kita bisa jadi 57 (ada gak ya?eheheh...). Dan 
> lainnya, dan lainnya, dan lainnya....
> Nah... kalo sudah begini, haruskah nasib kita jadi tergantung 100 
> persen sama orang-orang macam begini? Kalo dapat kasie (atau atasnya 
> lagi) yang cukup berpikiran sehat sih nggak masalah, tapi kalo dapat 
> yang agak-agak antik dan unik seperti contoh-contoh negatif diatas 
> gimana? Bisakah kita yang lebih dibawah memberi masukan untuk grade 
> atasan kita? Karena saya cukup ngeri membayangkan seandainya ada yang 
> dengan full arogansi memanfaatkan kekuasaannya memberi nilai bagi 
> bawahannya..
> Semoga yang terjadi nanti tidak seperti itu..
> 
> Yuli
> 
> 
> 
> 
> 
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos
new Car Finder tool.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke