dear rekan2 perkotaan, 
 
bener juga kata Harya, semenjak sekolah di planologi memang tidak ada singgung 
menyinggung ttg perencanaan jalan khusus jalur sepeda. 
tapi untungnya skrg wawasan lebih terbuka setelah melihat kalau di negara maju 
yg menitik beratkan kepada perencanaan yang berwawasan lingkungan, yang 
mendukung dan mengajak masyarakatnya buat bersepeda dan jalan kaki (karena 
nyamannya pedestrian way dan amannya jalur sepeda).
Kountur jakarta yang relatif datar cukup memungkinkan untuk menggunakan sepeda 
tapi jalur sama pengaturan lalu lintas yang semerawut (bawa motor aja bikin 
ogah)...
Penguatan pedestrian way dan memberi rasa aman untuk penggunaan public space 
perlu di perhatikan pemerintah dalam perencanaan kota...
Dampak penggunaan kendaraan bermotor juga berakibat buruk kepada penutupan 
lahan dan urban sprawl karena semakin nyaman menggunakan kendaraan pribadi, 
kecendurungan orang membeli rumah di daerah sub-urb juga semakin meningkat... 
waduh hubungan sama keterjangkauan pemilikan rumah di kota sendiri (affordable 
housing) sangat-sangat minim. karena berdirinya apartemen mewah di kawasan2 
yang strategis (CBD) lebih di peruntukan untuk high class.. Tapi wajah kota 
juga di hiasi oleh menjamurnya permukiman-permukiman kumuh di daerah peralihan 
antara urban dan suburban.
kapan yah jakarta bisa nyaman dan adem 
 
salam, 
Bel
 


--- On Mon, 6/16/08, Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [perkotaan] Re: [Plano_2000] Ubah budaya menglaju: respon thd kenaikan 
BBM?
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL 
PROTECTED]
Date: Monday, June 16, 2008, 3:37 AM







 
Sudah ada gerakan serupa, malah lebih dulu...
 
http://www.b2w- indonesia. or.id/
 
sayangnya ... minim perhatian pemerintah.. .
 
Sekolah calon planner pun kurang sensitif terhadap hal ini...
apa ada sekolah planner yg mensyaratkan ada-nya jalur pesepeda dalam 
merencanakan kota?
bagaimana dengan menghitung kapasitas pedestrian?
 
tapi kurikulum PT selalu memastikan setiap lulusan-nya mengetahui bagaimana 
kapasitas jalan raya perlu dibangun.... agar tidak macet katanya...
 
kurikulum menghasilkan indikator-2 kinerja jalan dibandingkan dengan kemampuan 
jalan menampung mobil.
tapi jarang sekali membahas kapasitas jalur utk pe-sepeda.
 
jadi, sejak mahasiswa sudah dididik untuk memastikan bahwa si-kaya, pemilik 
mobil, dapat bermobil lebih nyaman... 
kurikulum kita berpihak pada mobil, perencanaan infrastruktur kota kita pun 
idem ditto... 
tidak pada sepeda...
walhasil, ketergantungan thdp BBM terjadi secara sistematis, full circle..
 
sebelum Busway... trayek angkutan pun domain-nya swasta... swasta yg bikin 
proposal trayek, jumlah armada dll... pemerintah jualan izin... dan terus 
perlebar jalan agar mobil si kaya bisa kencang melaju.. menyemburkan asap 
knalpot utk dihisap si-miskin...
 
yg mau naik sepeda, dipersilahkan mempertaruhkan nyawa di jalan... karena 
rambu-2 keselamat tdk ditujukan bagi-nya... disuruh beradu dengan mobil si kaya 
yang makin kencang...
si kaya diperbolehkan sedot BBM bersubsidi.. . dan selalu dapat alokasi 
anggaran utk pelebaran dan pembangunan jalan baru (perkotaan.. . kalau jalan 
utk rural access sih ok.. meskipun lama-2 jadi urbanized juga)...
 
yg tdak mampu beli mobil/motor. .. silahkan sedot asap knalpot-nya saja...
 
kita-pun lebih sering membahas kemacetan daripada keberadilan menggunakan ruang 
publik...
 
 
salam,
-K-

 
2008/6/16 Delik Hudalah <delikhudalah@ yahoo.com>:










Negara terkaya dan terkenal dengan kecintaan warganya terhadap mobil (kendaraan 
pribadi), kini mulai bergeser ke sepeda, seiring dengan kenaikan BBM (klik 
judul 'BBM naik ...' di bawah teks utama). Mudah-mudahan masyarakat dan 
pemerintah Indonesia juga memikirkan ide perubahan budaya menglaju yang lebih 
hemat, efisien, berwawasan lingkungan, sehat, produktif, dan adil.

Salam,

Delik



-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F : +62 21 7997039
INDONESIA  














      

Kirim email ke