Pak Wawo ysh,
Pak Wawo...... saya sebenarnya pengin cuti sementara untuk tidak nulis-nulis
dulu....... tapi rupanya dari lama tidak muncul (saya turut berempati atas
wafatnya kerabat dekat).... tahu-tahu bapak nongol dan langsung geregetan .
sama industri kreatif....hehe.. jadi repot juga kalau sampai gak menanggapi
balik ke bapak..... alias cuti saya batal dulu.........
Saya sedang menyiapkan serangan balik yang dahsyat ke bapak untuk membela bu
Marie tapi mungkin baru besok ngirimnya ya pak .... kalo sempat plus 1 bonus
cerita humor juga .....jadi harap sabar dulu.....
Sementara demikian dan salam,
aby
----- Original Message ----
From: "Hannie Waworoentoe" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, June 18, 2008 05:57:28 -0700 (PDT)
Subject: Re: [referensi] Re: Urban vs Rural untuk industri kreatif
Rekan-rekan yang terutama mengikuti diskussi Urban-versus Rural yang
sebetulnya dimulai tadinya dengan diskussi 'creative industries. Sebetulnya
sudah agak lama saya tinggalkan rangkaian diskussi ini, sehingga saya juga
tidak ikut dengan diskussi darat yang terakhir, yang saya duga sudah
terselenggara beberapa waktu lampau, maklumlah juga oleh karena baru saja
tertimpa wafatnya dua keluarga dekat, namun ingin saya coba untuk menemukan
jalur diskussi ini kembali.
Barangkali masih tentang industri kreatip, yang harus saya anggap sangat
menyesatkan, oleh karena sampai sekarang saya samasekali belum mene-mukan
definisi ataupun reference yang jelas terhadap 'creative industries' itu.
Maafkan saya mengajukan beberapa pertanyaan atau analisa dasar:
(1) if we assume there is such a thing as a creative industry, then there
also must be a noncreative or uncreative industry
(2) still in the same line, what then qualifies an industry to become
creative - or for the same token or reason not qualify it as being creative
(3) dan sebetulnya pertanyaan yang lebih mendasar lagi apa yang sebenarnya
kita maksudkan dengan 'creative' kreatip 'creativity' daya-cipta? atau entah
apa yang kini sedang kita kaitkan dengan seluruh pengertian industri yang maha
besar itu.
Saya sengaja mengemukakan pertanyaan dasar diatas oleh karena kalau tidak ada
jawaban atau kesimpulan yang tegas maka sebetulnya kita bisa menutup seluruh
diskussi kita sebagai suatu diskussi di ruang hampa (in other words we are all
talking nonsense). Tapi baiklah saya coba memberikan sedikit pencerahan:
First of all saya kira kita analisa pengertian creation (nama benda) sebagai
ciptaan itu sih cukup mudah, tapi ternyata jauh lebih sukar kita terjemahkan
'creative' wah itu menunjukkan suatu kemampuan untuk mencipta, tetapi tidak
banyak dari kita yang mau mengakui bahwa mencipta itu memerlukan kemampuan yang
tidak begitu mudah saja, apakah mendusta itu kreatip? well in a sense yes
sebetulnya bisa tapi bukan mencipta kebenaran, apakah meniru itu kreatip?, yah
bukan untuk para innovator asli atau mereka yang membela hak patent, apakah
menulis itu kreatip ? well in a certain sense again yes , oleh karena mengarang
sastera ataupun berpuisi itu diklassifikasi sebagai 'creative writing or
poetry' wether this is fiction or a true documented story. Rasanya sudah agak
jelas sekarang bahwa creation tends to be designated to original deeds, jadi
ciptaan-ciptaan asli (originals) , and not massproduced copies. Jadi
sebetulnya terutama untuk temuan atau penemuan pertama saja.
Nah disini mulai kita meleset analisanya oleh karena the industrial
process biasanya mengarah ke suatu proses produksi yang massal, there is
nothing original in a million copies apa itu tablet atau buku atau resep
makanan, atau celana jean, atau sepeda motor honda atau boeing 777.
So what the hell is a 'creative industry' yah mungkin ada tapi pasti bukan
industri pabrik tempe atau juga bukan batik keris atau songket (bagaimanapun
indah atau mahalnya)
A creative industry should be an industry that produces pure originals, jadi
mungkin industri yang terus-terusan menghasilkan kreasi-kreasi baru, mungkin
yang paling dekat adalah pencipta mode haute couture yang memang eksklusip (dan
bukan yang branded), atau hasil production house (televisi, film), atau lab
riset, atau teater drama, atau penggubah lagu ataupun penemu resep obat atau
makanan epicurean di restoran eksklusip.
Well then we also have that very large field of 'industrial design'
ini bukan industri tapi sebagian dari proses industri yang menghasilkan
konsep dan bentuk produk , apa itu sendok, tusuk gigi, semprotan cebok, kursi
ergonomic penerbang, rumah mansion, atau kamar hotel, tempat tidur waterbed
atau panci/kompor/ dapur IKEA , seprei kasur atau sabun sampo, atau software
dari silicon valley, atau hpnokia.
Jadi maaf si penemu 14 macam 'creative industries' , I think you got on the
wrong track and have created a confusion, by cutting the industrial pie and
the creative process the wrong way.
So back to basics, rekan-rekan kecuali kalau memang mau ngaco terus. You
might end eating your own creativity .
Barangkali sudah ada juga yang menduga bahwa perbandingan antara paradigma
urban-rural , dengan paradigma rich-poor, juga ada kechilafan retorika
tersembunyi, barangkali sudah ada juga temen yang dapat memberi klarifikasi.
Sebagai pancingan what about analysing urban design or for that matter rural
design, traditional design versus modern design ?
I do think the ball is in your court now.
Maybe someday *(after Euro) we need to redesign football (stadia ) as well.
Pak Wawo.-
"abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
Betul pak Wawo ysh, kita harus mulai dari akarnya.
Kalau kita pelajari buku bu Mari tersebut tampaknya tujuannya memang bukan
untuk mendasar kepada aspek kualitas dari pengertian kreativitas tersebut namun
lebih meng-ekonomi- kan (mengkuantitatifkan ) jualan yang dapat diberi logo
"kreatif". Sebagai contoh arsitektur sebagai bagian dari industri kreatif untuk
Indonesia antara lain diukur dari produktifitas pembangunan real estate yang
dianggap (otomatis?) mewakili kuanifikasi produk arsitek ???
Dari kajian yang mereka lakukan juga ternyata bahwa belum (tidak) ada
keseragaman atau kesepakatan diantara negara-negara yang membuat klasifikasi
istilah industri kreatif tersebut. Ada yang mengaitkan dengan aspek hak cipta
ada yang tidak, dsb. Bagaimana dengan penilaian produk industri kreatif kita
apabila karya arsitektur dalam industri properti di Indonesia yang banyak masih
menganggap karya yang berbau luar negeri akan lebih bergengsi dan laku dijual
daripada karya bangsa sendiri. Apalagi tolok ukur ekonomi umumnya bias ke
produktifitas di kota-kota besar dan kurang memberi apresiasi kepada kualitas
arsitektur vernakular misalnya yang lebih bernuansa kualitatif, membudaya
bahkan menyejarah daripada mengekonomi.
Jadi pertanyaan dasar pak Wawo lebih merupakan teguran bagi pembela
kuantifikasi kualitas agar tidak terlalu cepat membela yang sudah salah
kaprah dari sononya.
Wasalam,
Abimanyu
----- Original Message ----
From: "Hannie Waworoentoe" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, June 18, 2008 18:31:34 -0700 (PDT)
Subject: Re: [referensi] Re: Urban vs Rural untuk industri kreatif
rekan Abimanyu,
Terima kasih atas reaksi tanggapan terhadap ulasan analisa saya yang memang
tidak saya tujukan kepada pribadi-pribadi khusus dalam diskussi urban-rural
yang saya mulai dari issue 'creative industries' yang saya simpulkan meleset
itu, karena tidak beranjak dari definisi-definisi dasar creativity dan
industri itu.
Tapi terserah kalau milis ini masih tetap ingin melanjutkan diskussi pada
tafsiran yang meleset itu.
Tetapi benar sekali tafsiran Abimanyu terhadap arsitektur umum dan arsitektur
vernaculer secara khusus, dan sekaligus juga tanggapan comment rekan Risfan
terhadap kasus diundangnya arsitek Paul Rudolph ke Indonesia umpamanya.
Jadi definisi dasarnya sebetulnya sangat mudah, tidak ada yang bisa
menyang-kal bahwa pada azasnya setiap karya atau kreasi arsitektur adalah
asli, wether it is Borobudur Mendut ataupun Monas, dan rumah di kampung Baduy
atau kampung Cibaduyut, they are all originals and unik (cuma ada satu lah).
Yang susah kalau kreasi itu dijadikan kommoditi yang lantas di produksi
secara massal yah di industrialize seperti kita lihat dalam real estate,
sehingga saya sampai pada dogma yang agak kontroversial, langsung kalau suatu
kreasi asli itu dijadikan produk industri maka kwalifikasi unik kreativitas itu
hilang, Untuk mengatasi masalah legal (pemilikan kreasi) manusia telah
menemukan pengertian patent atau hak cipta (ini lagi-lagi membingungkan karena
dikaitkan dengan pengertian hak which is even more confusing)
Memang untuk karya-karya besar jarang kita menemukan copy dari Borobudur,
tapi anehnya piramida sudah ada copynya (di Louvre Paris)dan mungkin di
Dysneyland ada banyak copy-copy arsitektur kaya tembok Cina mungkin.
Tapi kembali dulu pada produk-produk real estate atau katakan saja housing
atau pemukiman massal, sebagai sekedar konsessi kepada para perencana mass
housing maka konsep dan siteplan suatu estate bisa saja unik bentuk pola
maupun sistim pembiayaan ataupun proses produksi dan teknologinya but that does
not mean that they are all original unique cultural creations, saya juga belum
ketemu planner yang minta setiap hasil designya secara neighborhood desa maupun
skala regional kaya randstad atau kota-kota di Dubai itu dimintakan patent.
Indeed we now realize that we actually have created another monster yang
tadinya justru diciptakan untuk melindungi kita. But somewhere the buck has or
will stop (like the war in Irak) .
Sebetulnya saya cenderung ke rekan Abiyoso yang telah melontarkan masalah
atau kriteria ke miskinan. Nah pada tulisan saya yang lalu saya tanyakan apakah
paradigma urban-rural juga mau dikaitkan dengan masalah rich-poor. Pasti hal
ini juga tidak bisa sederhana dan cuma dilontarkan sebagai bola, but again we
have to follow basic logics seperti falsafah-falsafah dasar dan teori-teori
fundamental . Cuma cara semacam ini sekarang sudah kurang populer karena
banyak orang mengharapkan instant solutions (dengan akibat justru menghasilkan
longterm problems but who cares pokoknya gua udah makan) .
Well sebagai kesimpulan yang cepat tapi juga sangat gegabah maka saya
lontarkan bahwa prinsip patent (industrial) itu sebaiknya dibuang saja
samasekali jadi sekarang semua orang bebas untuk berkreasi dan tidak ada hukum
yang mengatur kreativitas - ini bunyinya cukup enak danm revolusioner
tetapi konsekwensinya memang semacam hukum rimba, semua orang bisa mencuri
mengcopy dan membajak well that is what the present situation is anyway, jadi
seluruh atau sebagian dari industrial and corporate law itu akan dikubur dan
kantor-kantor patent juga dituitup saja . Well barangkali ini yang secara
diam-diam juga di idam-idam kan oleh sosiolog ataupun Karl Marx suatu
masyarakat yang tidak lagi ditindas oleh modal dan semua kroni-kroni atau
bandit-bandit laissez faire.
Masih tertinggal satu pertanyaan lagi Bagaimana sebetulnya dengan
intelectual property itu? Yah ini keduanya juga ciptaan manusia bukan, pertama
intelect atau kecerdasan dan property atau milik. Pasti sudah ada rekan
yang bisa menarik kesimpulan (walaupun kelihatannya masih mentah atau gegabah).
Because even Bill Gates has to eat his own principles lalu kembali menjadi
penderma. Kaya nya sekarang sudah ada tanda-tanda of the demise or destruction
of wealth jadi juga pengertian property akan hilang , jadi berlawanan dengan
semua usaha-usaha untuk mengentaskan kemiskinan makin nyata futility usaha ini
oleh karena hanya kemiskinan itu yang justru paling adil (so contrary to all
conventional wisdom, is that we need poverty )
dan juga kemiskinan itu yang justru paling sustainable
Apakah ini suatu contra reformasi ? well maybe
Untuk para cendekiawan apakah ilmu dan wisdom (kebijakan) itu juga sudah
dijadikan suatu kommoditi? yah jelas, karena masyarakat kita sudah lama
memperdagangkannya like politics as well
Bagaimana Aby, Risfan dan banyak rekan-rekan lain saya tetap menghargai
semua usaha perjoangan anda . Kalau rekan Risman mungkin masih tersenyum
menunggu diselesaikannya tiang-tiang monorail atau sudah ada lelucon baru :
there must still be some fun left in this sadly serious world.
Rasanya saya bisa terhibur dengan kata-kata Pope Benedict:
Mystery cannot be proven by reason:.... but it is extremely reasonable.
Pak Wawo