Pak Wawo ysh,

Saya bukan Eko pak, tapi ingin menanggapi sedikit pandangan bapak. Saya
tertarik dengan `pengakuan dosa', untuk sesuatu hal adalah
`kesempurnaan' dari `a perfect mistake' yang pernah
bapak sampaikan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/367> 
(…son if you have to make mistakes, you might as well make some good
mistakes perhaps even a perfect mistake …)



Salah satu `mistake' itu menurut hemat saya adalah time duration
yang terlalu dekat, 10, 15, 20, atau 25 tahun; adalah `suatu
masa' yang masih terjangkau oleh `satu generasi'. Sehingga
varia[n]si mistake itu mudah dimodifikasi sehingga menjadi `a
perfect mistake'. Kita tokh tidak ingin terjebak dalam konspirasi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/433>  ini.



Karena bapak telah mengalami masa yang panjang, saya terilhami dari
`a glorious weekend
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1037> ' untuk suatu
penerawangan yang lebih jauh; setidaknya ukuran minimal 50 tahun
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4179> . Kiranya
berkenan bila saya mengajak bapak dan rekan-rekan yang berminat untuk
saling berbagi dalam pandangan-pandangan masa depan ini dalam wacana
baru <http://groups.yahoo.com/group/futurologi> . Mudah-mudahan tahun
depan sedikit komunitas ini dapat berkontribusi dalam Plano50. Salam.



-ekadj



Subscribe to futurologi        Powered by tech.groups.yahoo.com
<http://tech.groups.yahoo.com/>

--- In [EMAIL PROTECTED], Hannie Waworoentoe
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang
sebenarnya sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya
sepenuhnya menyokong atau pertahankan pendirian dan keyakinan Eko.
Memang saya kira birokrasi dan sekaligus para konsultan yang tidak resmi
dalam birokrasi tapi bagaimanapun juga harus ikut dalam permainan yang
jelas munafik ini. For the time being mungkin mereka yang masih punya
ideal atau keyakinan bahwa somewhere there there must be a truth, yah
mereka termasuk kita tidak banyak yang dapat kita harapkan. Ini bukan
hiburan tetapi kenyataan.  Jadi tetap bikin rencana-rencana netral yang
engga ada risiko dan juga tidak ada musuh (kecuali yang ngerti),  itulah
birokrasi atau governance atau pemerintah sekarang, yah jangan
digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah kita semua? well 
barangkali memang tidak semua, dan lebih celaka memang tidak selamat,
what we are doing is just postponing the problems, jadi kalau
> engga besok yah pasti nanti semua dosa-dosa ini harus dibayar,  ini
diseluruh dunia, coba kita lihat si Soros yang bisa mengatasi pelbagai
krisis katanya begini: do you want to hear the bad news, yes we lost a
lot of money (pokoknya semua bank-bank di dunia ini pasti lugilah) but
do you know the good news , .. well it was not our money we lost (ja
jelas semua pemegang saham yang atau kata gede  stupid stakeholders yang
betul-betul lugi - engga apa sih kalau dia pinjem duit lagi, yah dari
pemerintah bukan, nah si pemerintah dia dapet duitnya dari mana, yah
kalau bukan dari pembayar pajak PBB segala, the problem is that these
taxpayers do not revolt since they are just as stupid.  Ini gambaran
gedenya, tapi saya sekarang persis dalam situasi semacam ini:....
kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang dahulu adalah mantri
cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan lagi si opa yang
diberi nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang
> tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi dengan segala akalnya
telah ia jadikan kobong pece atau sawah. Nah sawah ini rupanya oleh
Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota
kabupaten itu perlu ada ringroad, whatever that means, malahan si kepala
dinas PU sudah berhasil mendapat allokasi untuk membikin ringroad itu,
walaupun belum ada RTRW atau apa saja yang dapat membenarkan ringroad
itu. Well so I just asked that basic question  what do you need that
ringroad for, dan pertanyaan yang lebih sukar tapi pantes untuk setiap
planolog, dimana ringroad itu mau dibangun, yah rupanya pertanyaan ini
rada sukar saya dapat jawaban. Secara kebetulan saya juga diminta untuk
ikut rapat di PU Jakarta wah this not often happens, tapi waktu saya
lagi nunggu tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat saya koq ketemu
salah seoarang Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, who said
that he was jyust back from a rapat PU di Makassar, wah
> kebetulan nih lantas saya tanya soal ringroad di Ratahan ibukota
kabupaten Mitra itu, well jelas jawabannya straight from the textbook,
engga bisa tuh harus ada RTRW atau ada rencana yang jelas, oklah saya
pulang cukup puas. Nah sekarang sudah tiga bulan lewat dan rencana
ringroad itu kelihatannya engga dilanjutkan, tapi ada perkembangan baru
yang tidak begitu aneh, kabupaten Mitra atau Minahasa Tenggara itu
kebagian BANTEK, whatever that means pokonya you have to swallow it,
datanglah konsultan dari Bandung PT Reka Spasia Indonesia yang dalam
waktu singkat akan menghasilkan  suatu RTRW. Nah saya sudah tiga kali ke
kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun juga rada susah.
Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah turun dan
biaya BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at square
one. Jadi kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah
hampir 50 tahun lalu saya mulai ngajar di planologi
> itb,  akhirnya dosa-dosa ini saya harus tanggung juga.
> Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang
masih mau nulis, kenyataannya  all that knowledge is just considered
buulshit by the birokrasi.  Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi
tapi jelas ikut prihatin, mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan  tapi
for the time being it is governments that take all the burden. Sudah
lama saya coba keluar dari kemelut ini tapi hanya satu yang mungkin
masih bisa jadi penyelamat:  kata orang tentang Benyamin Franklin.... he
made himself rich by making his wants few..... kalau begitu kita bertapa
saja kan.  Pak Wawo.
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Eko Budi Kurniawan [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, July 9, 2008 10:42:24 PM
> Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or
Job Creation Preferred?
>
>
> Bos, saya tidak gusar hehe saya hanya memberi masukan dan umpan
diskusi...
>
> Tapi soal kekuatiran saya itu benar... sejauh ini, walau hanya
berbekal pengalaman kerja yg masih di bawah pak Eka, tapi saya amati
kita para planners baik di birokrasi maupun di konsultan cenderung lebih
suka membuat RTRW yg "netral"2 saja, dan "aman2" saja... apalagi kalau
dipertimbangkan soal waktu dan biaya...
>
> Kalau menyusun kebijakan (RTRW) yg berisi kebijakan2 yg membantu
mereka yg "tidak beruntung" itu pasti membutuhkan waktu dan biaya studi
yg besar... nanti pemilik konsultan tidak bisa untung banyak, tenaga
ahli tidak bisa mengerjakan proyek2 lain, dan birokratnya jadi
ketambahan kerja... tapi kalau menyusun RTRW yg netral kan enak, di
lapangan cukup 2-3 hari, kumpul data sekunder plus foto2.. analisis
standar, gampang, mahasiswa tingkat akhir pun bisa, cukup diberi contoh
dari RTRW sebelum2nya atau RTRW daerah2 lain yg sudah jadi...isi rencana
nya juga standar, tinggal copy paste dan penyesuaian nama lokasi dan
peta... beres deh... semua senang... setelah itu RTRW nya cukup jadi
pajangan di rak kantor2 Bappeda atau Dinas2 terkait, untuk memenuhi
arahan UUPR bahwa setiap pemerintah di berbagai level harus punya
RTRW...
>
> salam...


Kirim email ke