Ada yang ingin wacana planologi / perencanaan kota masuk dimedia……
Tapi apa jadinya kalau media memilih menulis  sendiri dengan selera sendiri dan 
seperti assaal?........
Sepotong-sepotong dan serba tak jelas konteksnya….
Mencerdaskan masyarakat?....Atau bukankah malah membingungkan 
masyarakat?........Atau jangan2 Kompas malah seperti mengobok2 
planologi?........
 
Pada dasarnya ‘kota penyangga’ bukanlah  konsep ruang  yang  “akan selalu 
pasti  salah”…..
Ketika pertamakali Indonesia menggeliat dari ‘negara agraris’ ingin menjadi 
‘negara industri’….. atau itu artinya dari mayoritas masyarakat agraris  
sebagian dari masyarakat Indonesia ingin bergeser menjadi ‘masyarakat 
industri’…… 
Jelas bahwa untuk itu  sebagai “langkah  awal”  strategi industrialisasi yang 
praktis diperlukan “kebutuhan ruang” berupa “konsentrasi  perkotaan” (untuk  
langkah awal strategi pengembangan potensi pasar serta efisiensi industri) … 
dimana untuk itu diperlukan city size tak hanya ‘metropolitan’ namun juga  
nyatanya bahkan juga ‘megapolitan’..……..  
Benar bahwa ketika (megapolitan)  Jakarta  telah berkembang pesat namun tak  
kunjung dikembangkan pusat pertumbuhan baru lain “yang setara”…… utamanya 
diluar Jawa….. maka sejak itu “sistem kota kita secara nasional” menjadi tidak 
sehat… dan saya sepakat kalau Kompas mengatakan itu sebagai “ketidakmampuan 
pengambil kebijakan mendistribusikan pusat pertumbuhan”…….
Tetapi selanjutnya ketika “para pendapat” mulai  dan  masih tetap  saja  bicara 
“jawa sentrisme” terus….. maka itu menjadi tak tepat lagi kalau dikaitkan 
dengan “sistem kota secara nasional”….. karena Jawa hanya 6.7% saja luas 
wilayah nasional kita……
Bicara “sistem kota secara nasional”  logikanya harus lebih  bicara tentang 
ruang nasional yang  93.3% itu........ 
Kalau tidak ini tak bedanya pola pikir jawasentrisme itu juga sama saja seperti 
"meng-obok2" sistem kota secara nasional juga........
Berikut  dibawah adalah satu kutipannya dari Kompas…….
 
aby
 
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .
 
PEMBANGUNAN
Kota Penyangga Kekeliruan Berkota
Rabu, 20 Agustus 2008 | 03:00 WIB 
 
Bogor, Kompas - Perpindahan penduduk dari desa ke kota, khususnya ke ibu kota 
Jakarta, yang terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan pengambil kebijakan 
mendistribusikan pusat pertumbuhan.
Penciptaan kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang 
untuk metropolitan Jakarta juga menunjukkan kekeliruan cara berkota. Demikian 
dikemukakan pengamat masalah ekologi Emil Salim yang juga mantan Menteri Negara 
Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Jakarta saat dihubungi Kompas, Senin 
(18/8).
”Urbanisasi tidak terbendung mengakibatkan daya dukung ekologi kota penyangga 
juga makin terbatas. Kalau pengembangan kota seperti itu diteruskan, akhirnya 
nanti kota-kota penyangga itu juga membutuhkan kota penyangga lainnya,” kata 
Emil.
Emil mencontohkan, ketika daya dukung ekologinya melemah, Bekasi akan butuh 
Cirebon sebagai kota penyangga. Demikian halnya, Bogor juga butuh kota 
penyangga Sukabumi dan Tangerang membutuhkan kota penyangga Rangkasbitung. 
”Apakah akan seperti itu?” kata Emil.
 
Planolog perkotaan Budhy Tjahjati S Soegijoko dari Institut Teknologi Bandung 
(ITB) secara terpisah mengungkapkan kekeliruan para pengambil kebijakan masalah 
pertumbuhan perkotaan, khususnya di Pulau Jawa.
Rencana pengembangan jalan tol trans-Jawa dari Merak hingga Banyuwangi memicu 
pertumbuhan sejumlah wilayah yang dilaluinya menjadi daerah permukiman dan 
industri baru.
”Pada akhirnya terbentuk island city atau kota-pulau Jawa dengan lahan 
produktif pertanian di Jawa menyempit. Dari keinginan untuk meningkatkan 
produktivitas sejumlah daerah melalui rencana tol trans-Jawa, yang terjadi 
kondisinya bisa berbalik. Berbagai krisis masyarakat akan terjadi,” kata Budhy 
Tjahjati.
 
Kesuburan tanah
Emil Salim mengungkapkan hal senada. Tingkat kesuburan tanah di Jawa sangat 
tinggi. Kesuburan tanah di Jawa delapan kali lipat tanah di Kalimantan dan enam 
kali lipat jika dibandingkan dengan kesuburan tanah di Sumatera.
”Kalau lahan pertanian di Jawa hilang 1.000 hektar untuk konstruksi jalan tol 
trans-Jawa, dibutuhkan pengganti 8.000 hektar di Kalimantan atau 6.000 hektar 
di Sumatera,” kata Emil.
Emil mengatakan, jangan meniru proyek Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman 
Willem Daendels (1762-1818) yang pernah membuat Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. 
Jalan raya itu dibuat sebelum kereta api ada.
”Setelah pembuatan Jalan Raya Pos itu, pertumbuhan kota di Jawa diarahkan 
Hindia Belanda dengan kereta api,” katanya.
Pengembangan, kata Emil, sudah benar. ”Semestinya sekarang yang dilakukan itu 
meningkatkan fungsi kereta api yang lebih hemat tanah,” kata Emil.
Menurut Emil, kita hanya perlu meneruskan atau menambah intensitas jalur-jalur 
yang pernah ada jika mau mengembangkan perkeretaapian di Jawa.
Pilihan pengembangan jalan tol hanya akan memakan tanah dan menyiapkan 
masyarakat di Jawa menghadapi krisis pangan, air bersih, dan krisis energi 
listrik maupun bahan bakar minyak.
Budhy Tjahjati menambahkan, wujud sistem kota harus menunjukkan keterkaitan 
yang bermanfaat bagi semua pihak. Berbeda dengan pengembangan kota penyangga, 
pengembangan kota semestinya menjalin keterikatan dengan pedesaan untuk 
mendukung kota. (naw)
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . .  .  .  .  .  .  .
 
 
 
 
 
 


      

Kirim email ke