Sepenggal Duka dari Bencana di Pariaman <http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/02/03125250/sepenggal.duka.dar\ i.bencana.di.pariaman> Jumat, 2 Oktober 2009 | 03:12 WIB
Akmal (39) tertunduk lesu. Lidahnya kelu dan tidak mampu mengucapkan kata-kata dengan lancar. Ketika diajak bicara, dia hanya menjawab sepatah demi sepatah dengan interval waktu cukup lama. Sering dia kehilangan kata-kata dan tidak ingat kalimat apa yang diucapkan sebelumnya. Wajahnya tampak ingin bercerita banyak, tetapi lidahnya tetap terbata-bata mengeluarkan kata. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang keliling itu sebenarnya bukan hanya kehilangan kata-kata. Dalam tempo singkat, dia kehilangan tiga orang terdekat secara bersamaan, dalam bencana gempa, Rabu (30/9). Istrinya, Kambang Manis (37); anak bungsunya, Tri Yudha Rahmatullah (5 bulan); dan mertuanya, Tirajih (75); telah dipanggil Yang Maha Kuasa. "Cobaan ini demikian berat. Saya hanya bisa pasrah, semoga Allah dapat memberi petunjuk bagaimana saya mampu menghadapi cobaan ini," kata Akmal. Saat terjadi gempa bumi berskala 7,6 skala Richter itu, Akmal tidak berada di rumah. Dia sedang menjajakan dagangannya di desa yang cukup jauh dari rumah di Desa Sungai Geringging, Pariaman, Sumatera Barat (sekitar 95 kilometer dari Padang). Ketika gempa mengguncang, dia langsung bergegas pulang. Kekhawatirannya sangat kuat, apalagi rumahnya hanya berjarak tidak sampai satu kilometer dari pantai laut Pariaman. Bayangan tsunami Aceh muncul di kepalanya. Saat tiba di rumah, debaran jantungnya semakin keras karena yang terlihat bangunan rumahnya sudah rata dengan tanah. Tiga anaknya, Cendra (10), Aldi (8), dan Chelsi (4) terlihat sedang menangis dan ditenangkan beberapa tetangganya. Tidak terlihat Kambang, ibu mertuanya, dan anak bungsunya, Tri. Akmal segera sadar, sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Saat gempa, seluruh anggota keluarganya (istri, empat anak, dan mertuanya) sedang di dalam rumah. Kambang langsung membawa tiga anaknya, Cendra, Aldi, dan Chelsi keluar rumah. Mertuanya ikut menyusul. Di luar, Kambang menyadari bahwa anak bungsunya, Tri, masih tertidur dalam ayunan di dalam rumah. Tanpa memedulikan bumi yang berguncang hebat, ibu itu menerobos masuk ke dalam kamar. Entah kenapa, mertuanya ikut menyusul. Tri digendong. Namun, bumi berguncang semakin keras. Ketika baru mencapai pintu samping untuk keluar, dinding rumah roboh menimpa Kambang dan anaknya. Kusen pintu pun menghantam kepala mertuanya. Ketika gempa mereda, tetangga Akmal mencoba membantu mengeluarkan tiga orang yang tertimpa reruntuhan. Namun, Kambang, Tri, dan Tirajih tidak tertolong lagi. Jasad Kambang meringkuk sambil memeluk jasad Tri. Tiga jenazah lalu disemayamkan di rumah orangtua kandung Akmal di Pasar Sei Limau yang berjarak lima kilometer dari lokasi kejadian. "Sore ini jenazah akan dikebumikan," kata Akmal. Tertimbun Tragedi gempa masih menyisakan cerita duka lain. Di Desa Cubadak Air Utara, Kecamatan Pariaman Utara, Pariaman, enam anggota keluarga Rahmat mengalami nasib nahas justru setelah gempa berlalu. Pada saat gempa, Rahmat dan seluruh anggota keluarga berhasil menyelamatkan diri dari reruntuhan rumahnya. Keluarga Rahmat mengungsi ke rumah sekaligus warung kopi milik kerabatnya, yang terbuat dari kayu dan bambu yang tidak rusak akibat gempa. Pada Kamis (1/10) pagi, Sumbar, termasuk Pariaman, diguyur hujan deras. Saat anggota keluarga Rahmat menikmati sarapan pagi di warung, dari arah belakang rumah terdengar gemuruh dahsyat. Tiba-tiba dinding tebing yang di belakang warung longsor dan menimbun bangunan warung. Enam anggota keluarga Rahmat tertimbun longsor. Veramita (13), anak gadis Rahmat, yang masih duduk di kelas II sekolah menengah pertama, meninggal dunia dalam kejadian itu. Rahmat dan lima anggota keluarga lainnya masih sempat diselamatkan dan dirawat di RSUD Pariaman. Sumiati (39), istri Rahmat yang terluka cukup parah, dibawa dari rumah sakit untuk mengikuti prosesi pemakaman anaknya. Sumiati tidak mampu berjalan dan harus dipapah. Ketika melihat jenazah Veramita, jerit tangis Sumiati langsung pecah. Darjis Mansyur, Kepala Desa Cubadak, menyebutkan, kerusakan di daerahnya terbilang parah jika dibandingkan dengan desa lain. Ratusan rumah rata tanah, termasuk bangunan sekolah, masjid, dan kantor desa. (Syahnan Rangkuti) http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/02/03125250/sepenggal.duka.dari\ .bencana.di.pariaman <http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/02/03125250/sepenggal.duka.dar\ i.bencana.di.pariaman> Beberapa informasi dari lapangan: From: "Nofrins Napilus" <[email protected] <http://us.mc562.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Tambahan, bahan bakar bensin dan minyak tanah jg sdh habis stok. Ini genset di Ktr Bupati mau di matiin krn kebahisan bahan bakar... Saya ketemu dg bbrp dokter dtg dr Medan bw ambulan. Mrk malah tanya kita, siapa yg bisa mrk hubungi di Pariaman ini? Kita kaget jg, krn sama2 br nyampe... Krn di Posko gak ada yg bisa ditanyain, mrk lalu ke RS aja. Krn udh gelap, kita jg mau nyusul ke RS. Data yg tertulis di papan putih rasanya terlalu kecil dibanding kenyataan yg ada. Rumah yg rusak yg terlihat oleh kitya dijalan sdh jauh lbh besar dr data di Posko ini. Blm msk data warga Tandikek dan sungai Limau yg jd Korban... Toloonnggg... Wass, Nofrins Pariaman, jam 02.50 pagi -----Original Message----- Kondisi terparah ada antara Sungai Limau dg Pariaman. Di arah ke bukit, salah satu Desa Tandikek, dr 50 kelrga, tinggal 7 kelrga. Yg lain hilang tertimbun longsoran bukit. Tp sampai jam 2 pg ini blm ada bantuan apa2. Pd hal mrk butuh tenda dan selimut. Krn 90% rmh2 mrk gak bisa dihuni lg dg aman. 50% malah rubuh. Sy call ke salah satu Call Center Bencana di Pdg, mrk malah blm punya data sm skl. Di Pdg yg kenan bencana banyak pilihan sedangkan disini mrk mau makan dan masaka apa? Bgmn tidurnya? Rumah2 di sepanjang jln mayoritas atapnya sdh hampir rata dg tanah. Klo ada bantuan, baiknya lgs ke Pariaman ini. Kota Pariaman jam 2 pagi ini spt kota mati. Pasar hancur gak bisa digunakan lagi. Deket stasiun KA bau bangkai dimana-mana? Krn gak tahu mau nginap dmn, yg agak terang di Ktr Bupati yg dijadikan Posko Bantuan Bencana. Ada mahasiswa STSI Pdg Panjng yg ngirim bntuan kesini. Katanya td siang jmlah korban 20 org yg br diketahui di Kota ini. Mohon bantuan dunsanak utk arahkan lgs ke Pariaman dan Sungai Limau. Bsk pg sy dg 6 org fotografer akan coba liput rumah2 dan pasar yg sdh hampir rata dg tanah. Wass, Nofrins From: [email protected] <http://us.mc562.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> Assalammu'alaikum ww, Ini adalah kesempatan pertama saya online sejak gempa kemarin sore melanda kota padang dan sekitarnya. Alahmdulilah ada tetangga yang berbaik hati menghidupkan generator set-nya sehingga bisa mengisi batrai laptop dan hp (untuk modem darurat) sehingga saya bisa online. Dua malam ini seperti pengalaman saya di banda aceh di penghujung tahun 2004 lalu, listrik PLN mati karena banyak kabel listrik yang putus, PDAM mati krena banyak pipa yang meledak akibat gempa. Warga mulai antri di SPBU2 yang ada, kebutuhan pokok mulai sulit didapat di toko2 terdekat. Eksokus ke luar kota, terutama ke jakarta banyak jumlahnya. Sinyal telkomsel lenyap sejak gempa terjadi. Hanya flexi dan XL yang masih berfungsi (karena saya memakainya). Kabarnya indosat dan esia bisa juga berfungsi. Esia saya lihat membuka akses telepon gratis di parkiran rs M Jamil, persis di sudut gedung Poliklinik dan rawat jalan yang ikut ambruk. Tadi sore, saya masih sempat keliling kota. Mengisi batrai di XL mobile yang stand by di depan Balai Kota padang yang ikut rusak berat. Bejibun warga yang antre untuk dapat giliran mengisi batra hpnya. Saya sendiri dan beberapa orang lainnya dengan inisiatif sendiri membawa gulungan round cable kesana. Evakuasi masih terus berlangsung sampai saat ini di tempat2 seperti yang diberitakan di TV. Beberapa titik kebakaran masih dibiarkan karena banyak sekalii lokasi kebakaran sehingga armada pemadam kebakaran yang terbatas harus menentukan prioritas mana yang harus segera dipadamkan terlebih dahulu. DI RS M Jamil padang mayat-mayat yang berhasil di evakuasi terus berdatangan dibawa ambulan. Mereka dibujurkan di lantai teras gedung pusat informasi keselamatan kerja karyawan rumah sakit. Sudah tiga kali saya datang ke sana. Terakhir selesai magrib tadi. Mayat-mayat yang belum diambil keluarganya mulai mengeuarkan bau karena sebagian kondisi mereka yang mengenaskan ditambah basah karena air hujan. Hujan mengguyur kota padang sejak malam setelah gempa hingga tadi siang. Pejabat pusat mulai bedatangan (terutama Bapak Presiden RI dan rombongan), bantuan melalui pesawat cargo komersil dan hercules milik TNI juga saya lihat terbang diatas kota padang dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Media asing terus berdatangan. Tadi dua orang bule dengan tentengan camera datang diantar mobil angkot yang disewa dari bandara dan turun dekat kantor pos, selanjutnya mereka bergegas menuju gedung bimbingan belajar Prima Gama yang sedang mengevakuasi korban yang rata2 anak sekolah. Sewaktu saya tanya, mereka mengaku wartawan Inggris. Saya belum tahu nasib keluarga di pariaman karena akses telepon tidak berfungsi. Di pariaman, sebagian besar wilayah hanya bisa dijangkau telkomsel, sementara telkomsel mati total sejak kemarin. Mengingat pusat gemmpa yang dekat dengan pariaman, saya memperkirakan rumah kami dikampung telah robih karena terakhir saya masih sempat bicara dengan orang tua waktu lebaran kemarin bahwa kondisi rumah yang terus digoyang gempa sejak beberapa tahun kemarin terlihat sudah memprihatinkan. Bagian-bagian tertentu sudah retak. Mohon maaf posting ini tidak pada tempatnya atau kurang lengkap, saya hanya bisa berbagi dengan dunia luar padang. Yang pasti warga padang dan sekitarnya sangat membutuhakn bantuan. Wassalammualaikum wr, wb Nanang Staf KPMM
