Hi there, Persisnya pergantian nama tentu para dosen dan Institut yang tahu. Karena regrouping itu juga berlaku untuk semua jurusan ITB, seperti elektro dan informatika tergabung dalam STEI (sekolah tinggi elektro dan informatika)...jangan keliru dengan STIE (...ilmu ekonomi). Ada Fakultas, ada Sekolah, konon katanya kalau isinya dua jurusan Sekolah, kalau tiga jurusan lebih Fakultas....Tapi London School of Economic itu universitas ya? Nama PWK setahu saya sudah dipakai sejak awal program S-2 Perencanaan Wilayah dan Kota. Tapi...ini nostalgia...pertengahan 70an, nama tak resmi PWK sudah dipakai ...(ada papan nama besar di antara ruang kuliah) tertulis "Tata Pembangunan Kota dan Daerah", sementara papan nama Planologi papannya kecil menghadap ke parkiran, sehingga jarang dilihat mahasiswa (kecuali yg kebetulan bawa mobil ortunya dan parkir disitu). Seingat saya waktu pertengahan 70an itu dalam bahasa umum Planologi itu dikenal sebagai Tata Kota....dan terminologi "tata ruang" seingat saya belum dipakai. Bahkan produknya Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah (DTKD-DPU) waktu itu namanya Masterplan. Lalu ada RUK, RIK, RSTRP, hingga RTRW sekarang.... Sempat juga ada semacam "rivalitas", antara produk rencana kota dari PU dengan rencana kota dari DDN. Planologi, ternyata oleh Belanda tidak dipopulerkan di bidang perencanaan kota saja ya. Di bidang kehutanan mereka juga familiar dengan Planologi (tata guna hutan?). Saya dulu sering dikira ahli kehutanan kalau mengaku dari planologi. Pengajar awal Planologi, yang saya tahu kok kebanyakan bukan dari Belanda, tapi dari UN yang mengambil pengajar dari Harvard/MIT. Kalau yang dari Belanda kayaknya itu mungkin embrionya dulu di Jurusan Arsitek. Dan, sejarah planologi kayaknya bukan "pecahan dari arsitek". Ada kebutuhan yang dirasa tentang perencanaan pembangunan fisik skala kota, lalu dibentuk jurusan yang tenaganya diambil dari jurusan arsitek (Pak Wawo, dkk), juga dari Sipil (Abukasan A, dkk). Sewaktu PYM PBR PT Presiden RI Dr. Ir. H. Soekarno menyatakan kita berdikari, yang diminta pergi dari planologi ya tenaga-tenaga dari UN itu. Tadinya bantuan UN untuk pembentukan PL itu kan sejajar dengan pembentukan AIT di Thailand dan AIM di Filipina. Jadi pergeseran dominasi Belanda ke team UN sudah terjadi sebelum policy Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) itu. Lalu Planologi dikendalikan oleh Pak Wawo (ITB, Univ Hawaii), Pak Hasan Poerbo (ITB, Univ Hawaii?), Pak SS (UGM, UPen, Harvard, MIT?) dan Pak Abukasan (ITB, UC Berkeley?) dan kawan-kawan. Gitu kayaknya....he he he....tapi yang bener kita tunggu tulisan pak Wawo di Plano-50 tentunya. Waktu saya kuliah masih ada di tata usaha jurusan dijual stensilan tulisan tim UN itu a.l. "Hawker & Peddler" (?). Saya kira itu wasiat yang tak pernah dilaksanakan oleh alumni....Dari awal Planologi didirikan ada empathi kepada mereka yang tak punya tanah. Tapi sungguh memprihatinkan Rencana kota sekarang bukan menolong PKL, tapi jadi alat "pengusir, penggusur" dan jadi justifikasi untuk "memukuli" kaum yang tak punya tanah itu. Rencana kota hanya untuk mereka yang mampu punya/sewa lahan....???? Ini mungkin yang masih perlu jadi agenda, terutama di masa kini, dimana kemiskinan dan pengangguran menjadi agenda utama. Ini peluang bagi sarjana PWK dan kita untuk berkontribusi kepada bangsa. Mungkin kita perlu belajar dari tokoh seperti Jokowi dll. Salam, Risfan Munir
--- On Sun, 10/25/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot __ Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis To: [email protected], "plitb-abroad" <[email protected]>, [email protected], [email protected], [email protected] Date: Sunday, October 25, 2009, 12:17 PM Sorry X-posting... Menyambut 50 tahun, its appropriate to be nostalgic. Dulu Planologi, lalu menjadi Perencanaan Wilayah dan Kota.. Resmi dianggap berdiri tahun 1959 (kalao gak, ya gak Dies Emas sekarang.. hehe..). Menurut catatan saya yang belum tentu sahih; jaman pra-Soekarno, ilmu tata kota sudah diajarkan di THS, antara lain oleh Ir. H. Thomas Karsten.. Mengikuti terminologi Belanda; Planologie .. maka diserap dalam bahasa Indonesia; Planologi. Lalu, suatu ketika, the Groote Bung; Soekarno marah besar dan kalap sama orang Belanda perkara sengketa Papua (was Irian Barat) dengan Pemerintah Belanda.. tahun 1957 semua orang Belanda, dan yg 'berbau' Belanda (yg belum tentu mendukung keputusan Pemerintah Belanda tersebut) diusir paksa, digusur, ... Lalu didatangkan Profesor-2 dari Kentucky, USA (jauh sebelum Kentucky Fried Chicken pertama buka cabang di Jakarta tahun 1979) .. (untung yg dateng Professor, kalao Kolonel, malah buka restoran..) Di USA, tidak dikenal Planologie.. . yg ada adalah Urban&Regional Planning, City&Reg Planning, Regional&City Planning. etc.. yang kalao diterjemahkan (bukan diserap); menjadi Perencanaan Wilayah & Kota.. Lalu semula masuk FSTP-Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (School of Civil Engineering and Planning) lalu sekarang SAPPK - Sekolah Arsitektur dan Perencanaan Pengembangan Kebijakan (School of Architecture, Planning and Policy Development (?)) Di USA, Planning masuk ke School of apa? Bagaimana di Belanda? Apakah ini hanya sekedar perubahan nama ? atau perubahan nama itu adalah pertanda reformasi (perubahan) cara pikir, cara-kategorisasi dan sekaligus penegasan statement maksud dan tujuan yang diharapkan dari perubahan nama tsb? Mohon diskusinya.. Salam hangat, -K- NB: apperently, Shakespere sedang menggambarkan seorang yg sedang dimabuk cinta ketika berpuisi mengenai nama sekuntum mawar.. awal pemikiran semiologi (atau semiotika, atau.. gak penting namanya apa.. haha). Dalam kebudayaan kita, nama adalah doa.. memberi nama pun pakai upacara dan doa.. Perubahan nama dari Planologi ke PWK mungkin memberi isyarat bahwa soko-guru perencanaan Indonesia atau kiblat pembangunan; pindah dari Belanda.. ke USA .. (for better or worse..) ============ ==== Harya Setyaka 973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603 Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978 Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4 2009/10/24 Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Uda Ekadj, Penggunaan istilah Planologi menunjukkan usia Anda. Pada jaman (saya he he he) sekarang ini namanya sudah lebih eksplisit "Perencanaan Wilayah dan Kota". Jadi tak perlu gothal-gathuk nama. Salam, Risfan Munir From: ffekadj <4ek...@gmail. com> Sent: Saturday, October 24, 2009 7:15 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis Rekan-rekan ysh. Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi dari Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin familiarlah kita dengan berbagai –grafi. Secara bebas saya maknakan –grafi merupakan penyajian deskripsi (how) atau eksplanasi (why) tentang suatu informasi tertentu. –grafi berbeda dengan –logi, karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem keilmuan yang terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan kebumian disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai informasi disebut geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut geodesi. Apa begitu?, sepertinya kita perlu kajian post-professoronal. Memang sulit untuk memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang menggunakan metode biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan istilah 'sistem informasi geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah seharusnya 'geografi' saja Boss? Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan dan menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang disebut Pak Djarot dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan informasi penduduk, migrasi, dan proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak Aby dengan 'demografi'. Juga dijelaskan dengan peta-peta atau 'kartografi'. Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan dengan 'fotografi'. Kemarin kita menambahkan perlunya 'etnografi'. Dan seharusnya kan perlu ada 'ekonografi' dan 'ekolografi', supaya selaras? Tentunya ada yang tidak boleh walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 'pornografi'. Dengan demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 'disain –grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya itu yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai sebagai 'planografi'. Terlepas apakah mereka lulusan universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun bisa kita rangkul untuk menjadi planografer. Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote: > > Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh. > > Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak > Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan > Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu > dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg > dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics > bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah > usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... > Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non > Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi > dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream > Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan pendekatannya > tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg ditulis oleh Ostrom lah > yg cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg > dikutip Koko)... > > Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd > pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, > tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat > dibandingkan pendahulunya. .. > > salam.. \
