Selasa, 20 April 1999

                          Gus Dur Soal Pengeboman Istiqlal
                          Pelakunya ABRI Non-Aktif
                          Reporter: Hestiana Dharmastuti

                          detikcom, Jakarta-Gus Dur bikin heboh lagi. 
Kali ini dia
                          mengeluarkan "tuduhan" baru berkaitan dengan 
peledakan bom
                          di Masjid Istiqlal, Senin (19/04/1999). Menurut 
dia, pengebom
                          masjid itu adalah massa mengambang ABRI. Yang 
dimaksud
                          massa mengambang ABRI itu adalah ABRI non-aktif 
yang
                          berada di luar struktur ABRI 

                          "Pelakunya adalah massa mengambang ABRI. Polri 
tidak
                          terlibat dalam peledakan itu," kata Gus Dur 
dalam jumpa pers di
                          kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, 
Selasa
                          (20/04/1999). "Dan hukuman paling bagus bagi 
pelaku
                          pengeboman itu adalah hukuman mati," sambung 
dia. 

                          Gus Dur sendiri tidak bisa mengindentifikasi 
apakah
                          pengeboman itu dilakukan oleh kelompok 
Soeharto. "Pelaku
                          pengeboman itu campuran. Jadi, tidak dapat 
dilihat mereka
                          pengikut Soeharto atau bukan. Sebab tidak ada 
bukti kuat yang
                          dapat membuktikan mereka pengikut Soeharto," 
kata deklarator
                          PKB ini. 

                          Dia juga mengatakan,"Dari cara kerjanya, mereka 
adalah teroris
                          yang dibayar. Pelaku pada waktunya akan 
ditangkap. ABRI
                          dalam hal ini tidak dapat menangkap orang 
sembarangan,
                          karena harus ada bukti yang konkret." 

                          Sebagaimana tokoh-tokoh lain, Gus Dur juga 
meyakini
                          pengeboman Istiqlal bertujuan untuk menggagalkan
                          pemilu."Mereka mencoba mengadu golongan 
Islam-Kristen. Ini
                          usaha untuk membuat orang Islam marah. Arahnya, 
untuk
                          menggagalkan pemilu." 

                          Gus Dur sendiri menyerukan umatnya untuk tetap 
mensukseskan
                          pemilu."Yang terpenting, kita harus menjaga 
kelangsungan
                          pemilu. Ini kesempatan kita untuk menunjukkan 
bahwa
                          penggagalan pemilu melalui isu agama tidak ada 
artinya. Kasus
                          ini mungkin meluas ke tempat lain. Tapi yang 
terpenting, tidak
                          mengenai sistem saraf politik kita," tegas Gus 
Dur. 

                          Cucu pendiri NU ini juga memprediksi kerusuahan 
susulan akan
                          terjadi. Kerusuhan itu akan ganti bernuansa 
rasial. Kerusuhan itu
                          akan terjadi sebelum pemilu. "Sebelum pemilu, 
harus sudah
                          kacau balau. Orang Cina nanti digebuk. Dan 
mereka akan
                          membawa uangnya ke luar negeri. Ini yang 
sulit," ramal Gus Dur.

                          Meski bakal kian rusuh, Gus Dur yakin 
pemerintah dan rakyat
                          Indonesia akan mampu mengatasi semua masalah 
yang muncul.
                          Gus Dur juga menyerukan pada warga NU, untuk 
tidak
                          terpengaruh melakukan balas dendam. "Semua 
sudah tahu ini
                          buatan. Dan kita meminta rakyat dan warga NU 
jangan
                          terpengaruh," seru Gus Dur. 

                          Selain itu, Gus Dur juga mendesak aparat 
keamanan untuk
                          segera menuntaskan peristiwa pengeboman 
Istiqlal. "Kesabaran
                          bangsa ada batasnya. Kalau Wiranto tidak 
memberikan hasil
                          dan pembuktian, kesabaran itu akan menguap," 
komentar Gus
                          Dur tanpa merinci lebih lanjut.. 

                                 Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999

Kirim email ke