Salam Permias,

Saya forward tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Jabat erat,


Ahmad Syamil
Toledo, OH

-----------------------
Republika Online 02 May 1999


Bangga Saya Menjadi Orang Indonesia

oleh Ade Armando

SATU

Ketika kelurahan tempat saya tinggal
terlambat memulai pendaftaran, para
ketua RT terus aktif mempertanyakannya
pada Ketua RW, yang pada gilirannya
bertanya pada Lurah. Akhirnya, hanya dua
hari menjelang akhir masa pendaftaran
tahap pertama, kami mendengar pengumuman
yang disebarluaskan melalui pengeras
suara masjid tentang lokasi pendaftaran
pemilu.

Dan tiba-tiba saja, masyarakat bergerak.
Tanpa komando, antartetangga saling
mengingatkan untuk menggunakan hak
pilih. Rombongan keluarga demi keluarga
terlihat mengalir ke lokasi-lokasi
pendaftaran. Masyarakat berkumpul dalam
suasana penuh gairah tanpa kesan
ketegangan. Perbedaan partai sama sekali
tak penting. Apalagi perbedaan ras,
etnik atau agama. Kekhawatiran bahwa
sistem baru yang mengharuskan warga
untuk aktif akan menekan angka
partisipasi ke titik rendah tak terjadi.

Dan saya melihat langsung bagaimana
warga berdiskusi tentang betapa
pentingnya pemilu. Seorang warga yang
semula skeptis -- dengan alasan ''toh
hasilnya akan sama saja!'' -- akhirnya
mendaftar juga setelah salah seorang
kerabatnya berkeras bahwa, ''kita semua
bertanggungjawab pada Tuhan kalau nanti
pemerintah yang terpilih ternyata sama
zalimnya dengan pemerintah Suharto!''.

Masyarakat antusias mengikuti pemilu --
dan siapapun tahu, itu adalah
tanda-tanda cerah bagi demokrasi.

DUA

Saya percaya anak-anak saya akan tumbuh
dalam Indonesia yang jauh lebih baik.

Tanggal 19 April lalu masjid Istiqlal
dibom. Seorang teman saya di kantor
percaya bahwa aksi balas dendam akan
segera berlangsung. Argumennya: ''Satu
orang Muslim dibacok orang gila saja
sudah cukup untuk menjadikan umat Islam
membumihanguskan toko-toko Cina, apalagi
Istiqlal dibom''.

Sejak awal saya yakin itu tak akan
terjadi. Sebagian umat Islam Indonesia
mungkin adalah orang-orang yang rela
melakukan apa saja untuk membela agama
yang diyakininya, tapi mereka bukan
orang-orang tolol. Terlepas dari segala
tuduhan tentang ketertinggalan,
ketidaktoleranan, atau keradikalan, saya
percaya umat Islam Indonesia adalah
makhluk berpikir.

Dan, Alhamdulillah, paling tidak sejauh
ini, keyakinan saya cukup terbukti.

Tidak ada kemarahan, hujatan, atau
kebulatan tekad untuk melakukan
pembalasan, kecuali kepada si pelaku.
Para pemuka agama segera mendukung
pernyataan Presiden bahwa insiden itu
adalah aksi terencana untuk menciptakan
konflik antaragama. Ahmad Soemargono,
tokoh yang oleh sebagian pihak disebut
secara sinis sebagai 'Bapak
Fundamentalisme Indonesia', di Republika
segera sesudah insiden dikutip
menyatakan: ''Saya kira pemboman masjid
ini tidak mungkin dilakukan oleh kaum
Kristiani. Saya menganalisis pemboman
ini dilakukan kelompok pemecahbelah
antarumat beragama, antara golongan
masyarakat.''

Saya rasa kelompok yang berada di
belakang tragedi Banyuwangi, Ketapang,
Kupang, Ambon, Sambas, Purbalingga, dan
Istiqlal, kini terpaksa memutar otak
lebih keras untuk melanjutkan program
penghancuran Indonesia yang tak kunjung
terpecahbelah ini.

TIGA

Saya optimistis dengan Indonesia.

Salah seorang teman kantor istri saya
menjadi pengurus Partai Amanat Nasional,
dan duduk dalam divisi pemenangan PAN.
Ia sangat percaya pada Amien Rais. Dua
hal perlu dicatat: ia beragama Kristen,
dan ia tinggal di daerah yang dinilai
sebagai basis PDI Perjuangan.

Seorang teman kantor lainnya, juga
beragama Kristen, bahkan mendukung
Partai Kebangkitan Bangsa. Dengan bangga
ia bercerita bagaimana sekarang ia
banyak berhubungan dengan para kyai.
Sebelumnya, ia menanggalkan dukungan
pada PDI Perjuangan karena kecewa. Tapi,
kenapa PKB? ''Ya, cocok saja,''
jawabnya.

EMPAT

Saya percaya Indonesia siap
berdemokrasi.

Saya beruntung tak melewatkan kesempatan
untuk menyaksikan siaran tunda Debat
Antarcalon Presiden melalui SCTV Selasa
lalu. Saya rasa akan banyak orang setuju
bahwa acara itu hadir sebagai tonggak
sekaligus pelajaran penting tentang
keterbukaan yang dewasa di Indonesia --
sesuatu yang tak pernah memperoleh
peluang untuk berkembang sejak Soekarno
memulai Demokrasi Terpimpin pada 1957!

Kita menyaksikan bagaimana acara itu
diselenggarakan oleh panitia, calon
presiden, panelis, hadirin, dan media
yang siap berdemokrasi. Kekhawatiran
terbesar sebelumnya tentunya adalah
kemungkinan bahwa acara itu akan menjadi
ajang 'saling bantai' antarcalon, di
hadapan khalayak yang bukan hadir untuk
mendengarkan argumen, dengan potensi
kerusuhan yang perlu serius
diperhitungkan.

Alhamdulillah, itu semua tak terjadi.
Kita memang menyaksikan konflik yang
menjurus ke arah pribadi antara Amien
Rais dan Yusril Ihza Mahendra, tapi itu
tak pernah mencapai tahap ketegangan
yang siap meletus. Sebaliknya, suasana
utama perdebatan tersebut adalah rileks,
yang ditandai oleh mengalirnya berbagai
joke di sepanjang acara, di hadapan
hadirin yang ternyata tidak haus darah.

Dan SCTV barangkali harus dinobatkan
sebagai TV Station of the Month karena
menyebarluaskan acara itu tanpa potongan
berarti, kendati harus menggeser program
lain yang penayangannya sudah
direncanakan jauh sebelumnya dan mungkin
bisa lebih mendatangkan iklan.

Adalah pelajaran sangat berharga tatkala
Yusril -- pemimpin sebuah partai Islam
-- mengutip contoh tentang bagaimana PM
Mohammad Natsir dahulu mengisi sepertiga
dari pos menteri dalam kabinetnya dengan
tokoh-tokoh Nasrani.

Adalah pelajaran sangat berharga melihat
Didin Hafidhuddin dengan rendah hati
menyebut perlu belajar dari ketiga
kandidat presiden lain, serta
mendinginkan perdebatan Amien-Yusril
dengan menyebut mereka sebagai
putra-putra terbaik bangsa yang justru
perlu bekerja sama untuk menyelamatkan
Indonesia.

Adalah pelajaran sangat berharga
menyaksikan Amien berjanji akan melibas
feodalisme nanti, kendati dia tentu
sangat tahu bahwa ucapannya itu akan
menghilangkan peluangnya untuk didukung
oleh pencinta Sultan Hamengku Buwono X.

Adalah pelajaran sangat berharga
menyaksikan Sri Bintang Pamungkas hanya
tertawa-tawa menerima segenap reaksi
negatif terhadap gagasan-gagasan yang
dilontarkannya.

Itu, dan banyak contoh lainnya, adalah
pelajaran penting tentang keterbukaan,
toleransi, kesediaan untuk mengakui
pihak lain, kesediaan untuk bekerja sama
dan menomorsatukan kepentingan bangsa,
kerendahhatian -- dengan kata lain
pelajaran penting tentang demokrasi.

Dan itu semua terselenggara dengan
diprakarsai dan dipanitiai oleh
sekumpulan mahasiswa yang tergabung
dalam Forum Salemba, kelompok anak muda
yang secara konsisten menyuarakan
reformasi damai, tanpa kekerasan, dan
bahwa perubahan sesungguhnya hanya akan
terjadi melalui perjuangan yang tak
sekadar turun ke jalan.

LIMA

Perjalanan Indonesia masih sangat-sangat
panjang. Namun saya percaya ada banyak
tanda-tanda terang di sepanjang jalan.
Karena itu saya berani berkata: Saya
bahagia menjadi orang Indonesia. Saya
bangga.

Kirim email ke