Inilah salah satu sebab kenapa kita banyak orang pinter, kebal dlsb, tetapi bisa
dijajah Belanda 350 tahun dengan
tambahan bonus 3 1/2 tahun dari Jepang. Karena masih banyak tokoh masyarakat kita yang
lebih mendahulukan berpikir
dengan emosi dan dendam, daripada ketenangan dan kehati-hatian.
Saya sendiri sangat prihatin dengan nasib suku Madura, walaupun perihnya perasaan
saudara-saudara di Madura bisa
lebih dari yang saya bayangkan.
Tetapi apakah benar, suku Dayak dan Melayu yang masih manusia, dan juga banyak
terdapat di Malaysia, yang juga
terkenal ramah dan beradab, benar-benar ingin membunuhi dan menganiaya masyarakat
Madura tanpa sebab? Apakah benar
mereka, suku Dayak dan Melayu tidak punya lagi hati dan perasaan sebagai manusia?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus
menggugat hati saya dan mungkin kawan-kawan yang lain. Segala macam teori konspirasi
atau cara bayar-membayar orang
dan kelompok untuk menimbulkan kerusuhan dlsb bisa saja terjadi, dan kalau ini benar
maka serangan yang jika memang
akan dilakukan oleh pihak Madura ke suku Dayak atau Melayu, akan salah sasaran.
Seperti digugat oleh Gus Dur, bahwa ada tokoh dari pusat yang sedang
menghambur-hamburkan uangnya untuk mengacaukan
negeri ini, termasuk kasus sambas, sangat perlu untuk dipertimbangkan. Seperti kartu
domino, satu kerusuhan diikuti
oleh kerusuhan lainnya, diikuti dengan masalah lainnya, menggambarkan kondisi yang
sulit dan hampir tidak
terkendali. Gambaran umum bangsa menunjukkan bahwa sangat potensial terjadi, bahwa
suku Madura telah dijadikan
tumbal oleh pihak-pihak yang tidak punya perikemanusiaan dalam mencapai cita-citanya,
yang sama halnya dengan yang
terjadi di Ambon ataupun Cina pada pertengahan Mei.
Mudah-mudahan para intelektual dan tokoh Madura akan lebih bersikap hati-hati dan
bijaksana untuk mencoba melakukan
pemecahan lain yang lebih damai. Demikian juga untuk intelektual dan tokoh Dayak dan
Melayu di Kalimantan agar
dapat lebih berpikir jernih dan menenangkan warganya, serta mencari jalan untuk
meminta maaf/ataupun memberi
penjelasan kepada warga Madura.
Semoga damai yang dari Allah menyertai suku Madura, Dayak dan Melayu dalam memecahkan
masalah ini.
Demikianlah pikiran saya yang masih keroco ini.
peace.
FNU Brawijaya wrote:
> Yah, jangan sampe menjadi kenyataan nih....
> Tetapi dendam kesumat tidak akan padam bila
> pelaku pembantaian tidak dihukum. Untuk itu
> sesulit apapun prosesnya, tuntutan peradilan
> mesti dilakukan. Saya takut saja, tidak akan ada
> orang melayu dan dayak yang hidup nyaman di
> wilayah Surabaya atau kantong-kantong lain.
> Berani jamin deh, sampai satu generasipun tidak
> akan ada orang yg mau mengaku-ngaku sebagai
> keturunan dayak yg mau tinggal di Surabaya atau
> Madura.
>
> Entah kapan pemerintah yg sudah abolis kebijakan
> untuk untuk tidak mengutik-utik origin dlsb mempunyai
> efek. Saya rasa, kita masih memerlukan waktu yg sangat
> lama bagi Indonesia untuk mencapai bentuk melting pot yg
> benar-benar mampu membuat isi pot-nya melted. Jangan
> kita bermimpi menjadi seperti AS. Mereka datang dari
> perbagai penjuru dunia dengan status sbg pendatang
> di tanah yg kosong (Native-nya dibantai dulu). Itupun
> masih banyak yg mengklaim kelompok mereka lebih berhak
> tinggal yaitu kelompok kulit putih. Perbedaan bahasa & kultur antar
> mereka dilebur oleh persamaan warna kulit. Proses penyamaan
> memperoleh jalan dengan adanya musuh eksternal berupa kulit
> merah dan kulit hitam. Setelah itu mereka memperoleh musuh
> yaitu Inggris, Meksiko, dan Spanyol. Belum kita hitung pasca 1900.
> Kita tidak mempunyai hal yg demikian.
>
> Sudah hukum alam bila tidak ada musuh eksternal, maka
> perbedaan internal menjadi menajam. Tidak mengherankan
> bila pemimpin kita di masa lalu menciptakan musuh eksternal
> untuk memperkuat bonding di dalam negeri. Sukarno membuat
> musuh berupa kolonialisme (kulit putih, dan terakhir Malaysia).
> Suharto membuat musuh imajiner yaitu PKI. Mereka nyata ada,
> namun sudah punah, tetapi untuk keperluan persatuanlah
> musuh ini tetap dihidupkan. Apakah sikap ini cuma produk
> Indonesia? Tidak. Bahkan AS pun selalu menciptakan musuh
> eksternal agar bonding antar mereka tetap kuat. Justru mereka
> yg paling hobi. Bagaimana dengan negara-negara lain. Lihat
> Spanyol yg sebetulnya seragam (cuman punya beberapa gelintir
> etnik) tidak pernah mampu membereskan Basque. Lihat pula
> Inggris yg Irlandia Utaranya belum juga beres (Sein Feinn udah
> tanda tangan kontrak damai belum ya?). Contoh populer ya
> mana lagi kalo bukan Yugo. Keberadaan Broz Tito sama dengan
> Sukarno dan Suharto. Era perang dingin Tito juga berbagi
> ide dengan Sukarno dg ide Nonblok yg sebetulnya juga merupakan
> blok tersendiri. Era pasca perang dingin, Tito sudah terlanjur di
> anggap sebagai pahlawan, dan terbantu dengan bentuk sosialisme
> repressif (mirip dg Suharto, dalam hal represif-nya).
>
> Saat ini Indonesia kehilangan harta berupa musuh eksternal.
> Saya tidak heran bila pertentangan demi pertentangan akan
> muncul.
>
> Makanya saya rasa AR ataupun siapa saja yg berkuasa
> nanti, lakukan analisis yg sangat-sangat mendalam untuk
> melakukan perubahan bentuk negara. Jangan sampe menjadikan
> RI sebagai objek untuk bereksperimen. Pemerintahan yg mendatang
> juga harus mampu mengidentifikasikan kelemahan kita dan mampu
> men-dongker (menggali?) akar masalah dan mensosialisasikan
> penyelesaiannya. Tidak cukup meredam akar masalah dengan
> sebutan persatuan dan kesatuan yg semu sebagaimana dilakukan
> oleh pejabat rejim lama dan juga secara tak sengaja dilakukan
> oleh para mahasiswa bahkan di milis Permias ini. Mengapa? Kita
> tidak punya harta berupa musuh eksternal tadi. Kita harus sadar
> atas masalah besar yg dihadapi mengenai kemajemukan yg tiada
> duanya di negara lain.
>
> Cina dan India mempunyai ratusan etnik, jauh melebihi jumlah etnik
> di Indonesia. Demikian pula Rusia. Namun terdapat perbedaan yang
> sangat mendasar. Tempat bermukim etnik-etnik ini ada di dalam satu tanah,
> tanpa batasan laut. Perbedaan antar etnik terjadi secara berangsur-angsur.
> Perbedaan bahasapun terjadi secara berangsur. Tidak demikian dg di
> Indonesia. Berbeda pulau, maka perbedaan yg terjadi demikian drastis.
> Ikatan sebagai satu bangsa menjadi relatif lebih lemah dibandingkan yg ada
> di daratan seperti India, Cina, dan negara-negara multietnik lain (maksud
> saya yg lebih dari 50 etnik deh). Padahalpun, di beberapa tempat di Indonesia
> yg mestinya mempunyai perbedaan antar etnik bertetangga tidak menyolok,
> ternyata masih sering timbul pertentangan yg mengherankan.
>
> Apakah perbedaan-perbedaan ini dapat diselesaikan oleh kebijakan
> anti diskriminasi yg luas. Kebijakan tsb patut dicoba dan harus.
> Hanya saja saya meragukan apakah mampu menyelesaian perbedaan
> sampai ke dasarnya. Mengapa? Mobilitas penduduk masih minim. Asimilasi
> antar etnik baik asimilasi budaya maupun acara kowan-kawinan juga minim.
> (hehe...ndak tahan ngomong serius euy). Ini saya baru membicarakan
> perbedaan antar etnik, belum lagi antar ras.
>
> Sudah panjang euy....
>
> '-----------------------------------
> Jihad Madura Sudah di Ubun-ubun.
> Dua Kiai Madura Siap Pimpin Milisi ke
> Sambas
>
> WALAUPUN Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid sudah
> mewanti-wanti agar warga Madura tidak melakukan balas dendam,
> akibat pembantian suku Madura di Sambas, namun semangat jihad
> itu makin menyala-nyala. Sejumlah kiai terkemuka, menyatakan siap
> menjadi panglima di medan Jihad Sambas.
>
> PEPATAH Madura bilang Etembang pote
>mata angoan pote tolang
> (dari pada putih mata, lebih baik putih
>tulang). Maksudnya, warga
> Madura lebih baik mati daripada
>dipermalukan. Harga diri warga
> Madura, sangat dipermalukan karena
>saudaranya mengalami
> penderitaan terusir dari Sambas.
>
> Memang, di kalangan warga kelas bawah,
>pernah tersiar berita
> kesiapan warga Madura menyerang ke
>Kalbar, tetapi niat itu dapat
> dicegah. Akan tetapi, KH R. Fawaid
>Syamsul Arifin, pengasuh ponpes
> Salafiyah Syafiiyah Asembagus
>Situbondo, dan KH Yusuf Nasir dari
> Bangkalan, malah terang- terangan siap
>menjadi panglima milisi
> Madura di Kalbar.
>
> Pertanyaan terbuka itu, bukan
>sembarangan. Usul itu disampaikan
> pada pertemuan ulama Madura di Surabaya.
>
> Berdasarkan hasil investigasi ulama
>Madura yang diterjunkan ke
> Sambas, ribuan warga Madura tidak tahan
>meredam kegeramannya,
> akibat perlakukan tidak manusiawai
>terhadap etnis Madura di
> Sambas. Sehingga Kiai Fawaid dan Kiai
>Yusuf langsung mengirimkan
> secarik kertas ke pembicara, yang
>isinya dirinya siap menjadi
> panglima milisi itu.
>
> Kalau saja ulama dan tokoh masyarakat
>Madura yang Minggu (2/4)
> lalu berkumpul dalam acara dialog
>silaturrahmi nasional menyikapi
> kasus Sambas di Islamic Center
>Surabaya, tidak melarangnya. Bisa
> dibayangkan, balas dendam warga Madura
>bakal menjadi
> kenyataan.
>
> "Andaikan ulama memberikan izin kepada
>KH Fawaid dan KH Yusuf,
> apa yang akan terjadi?" tegas KH Imam
>Buchori Cholil ketua NU
> Bangkalan yang diutus ke Sambas, saat
>tampil dalam acara
> tersebut.
>
> Untuk mencari solusi persoalan
>penyelesaian kasus Sambas
> tersebut, ulama Bangkalan KH R. Fuad
>Amin Imron bersama Ikatan
> Keluarga Madura Indonesia (IKMI)
>menggagas acara agar dihadiri
> Menhankam/ Pangilama TNI Jendra TNI
>Wiranto.
>
> Saat dialog tersebut, hampir sebagian
>besar audiens tidak sabar
> untuk segera membentuk milisi. Bahkan
>Ahmad Jam'an dari
> Pasuruan langsung menginterupsi. "Kalau
>memang hasil dialog ini
> sepakat, kami warga Madura di Pasuruan
>siap mengirimkan milisi
> sebanyak 2.000 orang ke Sambas,"
>tegasnya.
>
> --
> Salam,
> Jaya
>
> --> I disapprove of what you say, but I will
> defend to death your right to say it. - Voltaire
>
> \\\|///
> \\ - - //
> ( @ @ )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
> oooO ( )
> ( ) ) /
> \ ( (_/
> \_)