In a message dated 6/20/99 12:07:20 AM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED] writes: > Irwan Ariston Napitupulu wrote: > > > Irwan: > > Lha, dinegara2 lain itu ya capres dari pemenang pemilu lah yg > > naik jadi presiden. Jaya: > Lha kan kemaren juga udah dikasih conto kejadian di turki. Jadi ndak > perlu ngengkel. Irwan: Lha, ente pan juga udah tahu kejadian yg di Turki itu buntut2nya ngga beres. Apa ente pengen ngelihat lagi Indonesia ngga beres dengan memilih presiden yg ngga mendapatkan legitmasi dari rakyat? Kalau gitu, ya pilih lagi aja deh Soeharto atau Habibie. Toh mereka berdua sudah punya pengalaman dalam menjabat sebagai presiden....:) > > Irwan: > > Lho, emangnya yg 700 itu sudah pasti bisa mewakili 200 juta orang? > > Yg bener aja dong. Apa memang sudah ada jaminan 700 orang itu > > bebas dari money politics? Bentuk yg ideal dalam memilih presiden itu > > yg pemilihan langsung. Rakyat yg menentukan presiden yg mereka maui. > > Itu bentuk idealnya menurut saya. Jaya: > Kok muter-muter lagi. Kan sistem kita sampe sekarang memang memilih > orang-orang di DPR itu. Kok sekarang acaranya mempertanyakan wakil > yg di MPR? Jelas money politics bisa terjadi, dan ini bisa dilakukan baik > oleh Golkar maupun PDIP. Kemarin ane dapat email bahwa MS ke Singapura > bahkan mengorbankan pertemuan PDIP. Ya ini sih mungkin junk mail, tapi > di situ diberitakan bahwa PDIP via MS sedang menggalang dana dari pengusaha- > pengusaha untuk kepentingan "sangu" para anggota MPR sebelum pemilihan > presiden. So, money politics dapat dilakukan oleh kedua belah pihak. Irwan: Yuk....bikin isu baru lagi yuk. Hmmm...kenapa ngga sekalian aja bilang dana dari CIA....hahahahaha. Jaya: > Kalau anda ingin pemilihan presiden secara langsung, MS tidak pernah men- > janjikan hal ini di pemilu 2004. Hanya AR yang berani menjanjikan hal > demikian. > Saya agak ragu apakah MS berani memprogramkan hal ini. Irwan: Tidak menjanjikan bukan berarti menentang toh?....:) Jaya: > Lho iya emang banyak yg keberatan dengan tak-tik PDIP yang menyembunyikan > caleg-calegnya. Apa anda merasa yakin bahwa para pendukung ini sudah > sadar dengan konsekuensi dari yang sudah dilakukannya. Coba saja lihat > nanti ah.... Boleh-boleh saja sekarang muter-muter, nanti kan ada hasilnya... Irwan: Haa???? Apa memangnya PDIP menyembunyikan daftar calegnya? Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Alex Litaay, Theo, khan nama2 yg selama ini sering muncul dari PDIP dalam pembicaraan umum. Apa itu kurang diketahui oleh masyarakat? Ah, bung Jaya jangan mengaburkan fakta dong, ngga baik....:) Irwan: > > Presiden Soeharto pada periode terakhir jelas2 adalah presiden terpilih > > dari MPR 1998-2003 tapi sayangnya dia tidak mendapatkan dukungan > > mayoritas rakyat. Akibatnya? Negara berantakan, rakyat protes mulu, > > demo dimana2. Pembangunan jadi susah dilakukan karena stabilitas > > keamanan sangat rendah. Jaya: > Hehe.... ini anda mengambil fakta secara salah. Stabilitas keamanan > sebelum peristiwa Mei sangat tinggi karena strategi militer (otoriterisme > Suharto). Kok sekarang anda bilang bahwa pembangunan susah karena > stabilitas yg rendah. Irwan: Lha, apa ente ngga ngikutin perkembangan di tanah air dimana para pakar bilang (waktu jamannya Habibie), kalau kepala pemerintahan tidak mendapat dukungan dari rakyat, ya susahlah untuk membangun kembali ekonomi ini. Yang pas itu selain memperoleh dukungan dari rakyat (legitimasi) juga perlu didukung secara peraturan (legalitas). Nah, saya lihat saat ini Megawati telah memiliki legitimasi (paling tidak sampai perhitungan suara terakhir) tapi dia sedang menunggu proses legalitasnya yaitu terpilih dalam proses pemilihan suara di MPR. Yang paling penting dari kedua itu adalah memiliki legitimasi dari rakyat. Irwan: > > Habibie kemudian naik menjadi presiden. Dia juga tidak mendapat > > dukungan mayoritas rakyat. Akibatnya seperti yg sudah kita lihat > > sendiri, rakyat minta diadakan pemilu. Jaya: > Mas...mas... orang nggak pengen Habibie naek bukan berarti pengen > MS yang naek. Irwan: Silahkan kalau kepingin seperti Turki atau Korea seperti pemaparan Chritian Wibisono dalam tulisannya di SP. Lagian, lihat kembali deh pemaparan saya. Kalau para wakil rakyat itu milih sesuai janji kampanye, toh PDIP yg akan memiliki suara terbanyak. Dengan kata lain, dari pemilu lalu rakyat ingin menyampaikan bahwa mereka lebih bisa menerima capres PDIP menjadi presiden ketimbang capres dari partai2 lainnya. Irwan: > > Nah, bukankah aneh kalau pemerintahan berikutnya jatuh kembali ke > > Habibie padahal jelas2 suara yg didapat Golkar sangat jauh dibawah PDIP? > > Tapi Golkar masih punya kekuatan, punya uang untuk menggolkan > > calonnya tersebut. Apakah akan kita biarkan nasib rakyat 5 tahun mendatang > > di tangan orang yg tidak diingini oleh mayoritas rakyat Indonesia? Jaya: > Wah, ya kita tunggu saja lah. Capek ngomongin mayoritas. Anda jelas > memanipulasi arti dari mayoritas itu. Tapi ya monggo lah.... wong MS nyang > naek ataupun BJH nyang naek nasib ane juga tetep...hehe.... Irwan: Ah...masa saya memanipulasi suara mayoritas? Di kamus saya tertulis: majority: [U] the greater number or amount. Ngga dibilang tuh harus lebih besar dari 50%. Lha, sekarang saya atau anda nih yg memanipulasi?....:) Nasib ente mungkin saja tetep, tapi nasib jutaan rakyat itu yg berabe. Hmm...tapi susah juga sih ya, hal ini soalnya cenderung bersifat subyektif. Anda merasa Habibie ngga masalah, tapi sepengamatan saya banyak tuh yg di tanah air mempermasalahkan Habibie. Yah...mungkin anda sudah rada mapan sih ya, jadi ngga begitu peduli lagi dengan kondisi orang lain. Yes...yg penting diri dulu selamat....hahahahaha....:) Irwan: > > Ada satu kutipan dari pujangga besar India, Swami Vivekananda, > > yg sempat dikutip oleh Megawati tahun 1993 dulu: > > http://www.detik.com/berita/199906/19990619-1245.html > > > > "Sudah cukup lama kita menangis, jangan menangis lagi. > > Tegakkan mukamu menjadi manusia sejati untuk > > menegakkan kebenarannya." Jaya: > Iya deh ane solider ikutan nangis... > > > Irwan: > > Bila semua wakil partai yg duduk di MPR tersebut konsisten > > dengan memilih ketua partainya menjadi capres seperti pada > > kampanye2 pemilu, maka sudah jelas toh yg menang adalah PDIP > > karena capresnya lebih dipilih oleh rakyat. Ini kalau kita mau konsisten > > dengan suara rakyat. Jaya: > Hehehe.... tipikal ngotot ini persis ngototnya Agus Miftah kalau > kepentingannya terancam. Irwan: Haaa???? Koq bisa dibilang ngotot? Yang ngotot itu sebenarnya sapa sih? Wong partai jelas2 kalah (Golkar), koq masih ngotot mau jadi presiden. Kalau yg menang nuntut haknya mah itu wajar2 saja menurut saya. Wah, gue pratiin loe udah mulai suka bolak balik fakta nih dari setadian. (hancur2 dah bahasa gue....hehehehe) Ini mah tipikal gaya berpikirkan Golkar. Moga2 loe bukan kadernya Golkar ya...hehehe. > > Jaya: > > > Angka 50% cuman perjanjian umum. Kalo milih presiden endak tahu > > > berapa sih? 60%? Yang jelas ndak bisa kurang dari 50% tho? > > > > Irwan: > > Saya belum bisa menjawab karena link yg memuat UUD 45 tidak > > bisa dibuka walau sudah saya coba beberapa kali: > > http://www.mil.id/uud45.html > > Jaya: > Iya lah...kita lihat mekanisme yg akan dijalankan. Menurut saya sih > mestinya harus lebih dari 50% suara. Bila kurang dari itu berarti > presiden itu tidak diterima oleh mayoritas wakil rakyat. Irwan: Sayang, pengertian mayoritas anda dan saya berbeda. Bakalan mentok kalau dipaksain ngebahasi dari sudut itu. Udah lihat penjelasan tambahan dari saya soal ini? > > Jaya: > > > Selain itu Bung Irwan kelihatannya memandang pemilu sebagai > > > pertarungan antara: > > > > > > --> Partai reformis) vs Partai pro status quo > > > > Irwan: > > Anda yg menyimpulkan demikian. Saya tidak mengatakan demikian. > > Kalau pun mau disebut, saya lebih kepada partai Golkar cs vs > > non Golkar cs. Anda bisa lihat kembali posting2 saya sebelumnya. Jaya: > Kalopun anda mengatakan Golkar vs Non Golkar, itu ya terserah anda. > Kalo saya memandangnya sebagai persaingan antar partai biasa. > Bila PDIP memandang Golkar sebagai musuh, itu sudah tentu sesuai > dengan apa yg dilakukan oleh Golkar di masa lalu thd mereka. Irwan: Tuh khan anda lagi2 suka ngalihin topik pembicaraan. Lha gue lagi mau ngelurusin kesimpulan loe yg ngawur itu (baseless) tentang gue koq loe tiba2 ngomong "ya terserah anda". Gimana sih caranya loe diskusi, aneh juga gue ngikutinnya. Mbok ya kalo bisa konsisten atuh....:) > > Jaya: > > > Bung Irwan lupa bahwa pemilu ini diikuti oleh 48 partai dan terdapat > > > tak kurang dari 16 calon presiden. Dan 16 orang ini semua pengen jadi > > > presiden. Rak terlalu lugu kalo kita nganggepnya ya sudah... berhubung > > > perwakilan dari parte so called reformis yaitu MS mencapai suara > > > TERBANYAK, maka marilah kita dukung agar menjadi SUARA MAYORITAS. > > > > Irwan: > > Asalkan partai2 lain konsisten menyuarakan suara pemilihnya dimana > > memilih capres masing2 untuk menjadi presiden maka bisa dipastikan > > capres dari PDIP yg menang karena memang suara mereka mayoritas, > > suara rakyat yg dikumpulkan paling banyak diantara capres2/partai2 lainnya. Jaya: > Ah, anda ngomong gini kan karena PDIP menang. Ya boleh deh.... Kita lihat > saja > lah... Sekali lagi, siapapun yg menang ndak ada untungnya secara pribadi sih. > ... Irwan: Buat anda yg tampaknya sudah mapan memang ngga ngaruh. Buat sebagian besar rakyat Indonesia, ya ngaruh. Makanya banyak rakyat yg mau capek2 kemarin ikut pemilu karena mereka tahu nasib mereka turut dipertaruhkan dalam pemilu kali ini. Beda dengan pemilu2 lalu dimana setahun sebelum pemilu orang sudah tahu siapa yg bakalan menang dan siapa presiden terpilihnya nanti....:) > > Irwan: > > Apakah hal itu disampaikan pada waktu kampanye pemilu kemarin? > > Toh janji2 yg disampaikan adalah kalau PKB menang maka capres kita > > Gud Dur yg akan maju. Kalau PAN menang maka capres kita Amien Rais > > yg maju. Kalau PPP menang, maka capres kita Hamzah Haz yg akan maju. > > Kalau PDIP menang, maka capres kita Megawati yg akan maju. > > Gitu toh waktu kampanye kemarin. Apa ada teriakan kampanye, > > kalau PPP menang maka PPP akan memilih Habibie menjadi presiden. > > Tidak toh? Jaya: > Apa di saat kampanye ada penyampaian caleg-caleg PDIP yang seperti itu? > Sudahlah lihat saja gimana nanti. Nyang jelas ane cuman sekrup, ndak > pengaruh > lah buat ane....mau MS, mau BJH, mau AR, mau Gus Dur....podo wae..... Irwan: Hahaha...anda ini pura2 tidak tahu atau memang ngga tahu? Apa anda ngga tahu tuh edaran caleg PDIP yg dibilang mayoritas non muslim sudah banyak beredar sebelum penusukan dimulai? Dan anda lihat sendiri, apakah rakyat terpengaruh akan hal tersebut? Ngga toh. Kenapa? Karena rakyat sudah capek dibodohi seperti itu. Ini kesimpulan saya pribadi. Dan dari awal PDIP sudah mengatakan bahwa mereka bukanlah partai yg mempermasalahkan latar belakang agama. Dan ini konsisten mereka jalani. Para pemilihnya pun tahu akan hal ini. > > Jaya: > > > Jangan lupa pula, kalaupun PDIP memegang tampuk pemerintahan, orang- > > > orang Golkarpun bisa tetap ikut duduk di pemerintahan tanpa berkoalisi. > > > Ya namanya politik mas..... Kalo kejadiannya kayak gini jangan kecewa > lalu > > > bunuh diri lho ya.... > > > > Irwan: > > Tidak kecewa, selama partai pemenang yg memimpin jalannya pemerintahan. > > Saya akan sangat kecewa sekali kalau partai yg kalau malah jadi pemimpin > > pemerintahan. Jaya: > Iya deh....ngotot amat.... mau jadi menteri ya mas? Kayak Akbar Tanjung > waktu muda... Irwan: Saya mau jadi orang biasa saja yg bisa memberikan arti buat masyarakat. Apalah artinya hidup kalau hanya untuk mementingkan diri sendiri. Kepuasan saya hanyalah kalau saya bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. Itu yg secara konsisten sedang saya lakukan dan perjuangkan. "Sudah cukup lama kita menangis, jangan menangis lagi. Tegakkan mukamu menjadi manusia sejati untuk menegakkan kebenarannya." jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
