Irwan:
Sebelum memulai mengomentari apa yg disampaikan oleh
Mbak Ida di bawah, perlu saya jelaskan dulu posisi saya yg
Anti Rokok. Saya dulu memang pernah merokok, tapi sudah
berhenti dan punya keinginan terpendam suatu saat nanti
bisa membantu menggalang kampanye anti rokok.

In a message dated 10/16/99 1:09:47 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Bang Syamil,
>
>  Mungkin saatnya kita serukan "ANTI ROKOK"
>  Kalau dihitung-hitung uang yang dibeliin rokok dan kemudian dibakar,
>  konstribusi Perusahaan Rokok pada kelemahan ekonomi Indonesia besar juga
>  tuh..coba tanya Bang Irwan deh.

Irwan:
Bila dilihat dari sudut kegiatan ekonomi, sebenarnya pernyataan
atau pemikiran uang yg dibelikan rokok akan sama dengan
uang yg dibakar adalah jauh dari kebenaran secara ekonomi.
Hal ini juga senada dengan pemikiran yg mengatakan bahwa
beli petasan sama juga dengan bakar2 duit.

Beli rokok atau pun beli petasan adalah termasuk salah
satu bentuk transaksi ekonomi. Kemana kah sebenarnya
uang yg dibelikan rokok atau petasan tersebut? Apakah memang
benar dibakar?
Jelas tidak. Uang tersebut masuk ke kantong ke penjual
rokok atau pun petasan.  Penjual tersebut sebelumnya
telah melakukan 'pembelian' dari supplier/distributor.
Supplier/distributor ini bisa saja mengambil langsung dari pabrik/
produsen. Produsen dalam membuat rokok atau petasan membutuhkan
tenaga kerja dan bahan baku serta karyawan yg mengelola
perusahaan tersebut.
Kita bisa lihat betapa banyak aktivitas bisnis/ekonomi yg
terkandung dalam sebungkus rokok atau pun petasan.

Semua hal yg saya sampaikan di atas adalah dalam konteks
bicara ekonomi. Jadi jelas, tidak benar ada pemikiran bahwa
beli rokok atau petasan sama dengan bakar uang.

Kalau pun mau dilihat dari sudut pembeli, pembeli
jelas mendapatkan sesuatu atau needs nya bisa
terpenuhi dari transaksi tersebut. Needs yg seperti apa?
Untuk rokok mungkin bisa berupa mendapat ketenangan
berpikir, atau mulutnya ngga berasa asem lagi, mendapat
rasa kebanggaan karena mampu merokok (umumnya
remaja yg masih baru belajar merokok), dll.
Untuk petasan mungkin bisa berupa mendapat kepuasan
karena bisa bersorak-sorak kesenangan, dll.

Bagi yg masih sulit melihat/menerima hal di atas, mungkin
contoh berikut ini bisa sedikit membantu menjelaskan.
Cobalah anda pikirkan, kira2 apa yg didapat orang dari
mengeluarkan uang untuk nonton film Titanic di bioskop atau
mengeluarkan uang untuk nonton konser musik Phil Collins....:)

Ida:
>  Selain itu, Indonesia sangat tidak sehat
>  oleh karena:
>
>  1. Udaranya polusi asap rokok
>  2. Banyak angkatan muda yang terkena Cancer
>  3. Banyak korban second hand smokers
>  4. Belum lagi batuk-batuk yang mengakibatkan TBC

Irwan:
Saya tidak ingin menyangkal pemikiran di atas.
Yang perlu dipikirkan dan diteliti lebih lanjut
sekarang adalah seberapa besar keuntungan secara ekonomi
dibanding dengan kerugian secara ekonomi, ini kalau kita
mau bicara seputar ekonomi lho.

Hal2 yg mungkin dipengaruhi dari merokok terhadap
aktivitas ekonomi:
Positif:
1.Penerimaan pajak.
2.Lapangan kerja mulai dari petani, buruh pabrik, karyawan
   kantor, distributor, supir yg mengantar barang, kalangan
   biro dan media iklan dst sampai juga penjualnya.
3.Meningkatkan produktivitas kerja bagi yg memang sudah
   ketergantungan terhadap rokok.
4.Menambah pendapatan bagi rumah sakit, dokter, farmasi,
   dll yg berkaitan dengan pengobatan terhadap korban2
   negatif dari rokok.

Negatif:
1.Menyebabkan berbagai penyakit yg mengakibatkan korbannya
   harus mengeluarkan biaya yg sebenarnya bisa dialokasikan
   untuk keperluan lain seperti pendidikan, makanan bergizi,
   tabungan hari tua, dll.
2.Menurunkan produktivitas kerja akibat terjadinya penurunan
   kondisi tubuh pada beberapa perokok baik perokok
   pasif atau pun aktif.
3.Dll.

Walau di atas selintas terlihat banyakan poin positifnya
ketimbang negatifnya, tapi hal itu tetap tidak menjamin
bahwa angka keuntungan ekonominya akan lebih besar
ketimbang angka kerugian ekonominya.

Hanya ini saja yg bisa saya sampaikan dari sudut
pandang ekonomi.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke