Dari koran Waspada kemarin (dan masih belum diganti saat ini) diperlihatkan bagaimana seorang dari kelompok kafir AGAM menggenggam senapan otomatis. Si penggenggam senapan mengawasi pengungsi hasil taktik ethnic cleansing mereka terhadap kelompok pendatang, khususnya dari suku Jawa. Setelah muncul amaran dari Panglima Perang AGAM yang fasis beberapa hari yang lalu, hari ini AGAM hendak mengganti/meralat ucapannya. Dalam amaran terdahulu, kaum pendatang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kaum pendatang dari Jawa yang harus meninggalkan Aceh, kaum pendatang dari mana saja yang menikah dengan orang Aceh sehingga boleh tinggal, dan kaum pendatang dari wilayah Sumatera yang juga harus keluar dari Aceh untuk mendirikan negara sendiri. Saya tidak jelas bagaimana dengan pendatang dari wilayah di luar Jawa dan Sumatera. Mungkin dikelompok sebagai kambing sehingga tidak perlu keluar dari Aceh? Atau dikelompokkan sebagai orang Jawa sebagaimana sering dilakukan terhadap kaum pendatang di Timtim. Hari ini AGAM sang fasis berusaha meralat ucapannya bahwa AGAM tidak memusuhi suku Jawa, tetapi memusuhi pemerintahan Jawa. Suatu ralat yang jelas dibuat-buat dan menggelikan. Ludah yang sudah keluar dari mulut tidak dapat ditelan kembali. Seorang muslim tidak akan pernah mengkafirkan muslim lainnya, dan bahkan tidak akan mengkafirkan non-muslim yang tidak mengancam umat Islam. Dalam kehidupan di Amerika Serikat sendiri antar muslim selalu diawali dengan brother atau sister untuk memanggilnya. Umat muslim di AS juga selalu tolong menolong. Memberi makanan buat muslim yang lainpun menjadi budaya yg menonjol. Tidak perduli kulitnya hitam yg misal datang dari Sudan, putih yg dari Turki, atau yg coklat dari Malaysia dan Indonesia, semua akan saling memeluk bila berjumpa. Kelompok kafir AGAM yang dilatih oleh Libya bukannya menerima kaum pendatang, malahan mengusiri para pendatang yang hanyalah para petani teraniaya di kampung sendiri. Kaum petani yg dijarah tanahnya oleh pemerintahan yang lalu. Bukannya mereka dilindungi, tetapi malah ancaman, pukulan, siksaan, dan pembunuhan yang ternyata berlangsung di lingkungan wilayah transmigrasi. Kelompok kafir AGAM selalu mempunyai alasan untuk membela diri. Pembunuhan besar-besaran terhadap kaum pendatang dikatakan sebagai korban ABRI yang membunuhi para Cuwak untuk menutup mulut mereka. Suatu alasan yg menggelikan dan demikian bodoh. Isu yang ditiupkan ini mirip sekali dengan isu pembunuhan para pimpinan milisi di timtim oleh TNI. Saya sangat curiga jangan-jangan AGAM dilatih oleh LSM-LSM itu untuk berpropaganda. Tindak pengusiran pendatang oleh kelompok kafir AGAM mempunyai modus operandi yang berkebalikan dengan pendudukan daratan AS oleh kaum kulit putih. Bila kaum kulit putih membunuhi dan mengusir orang Meksiko dan Indian lalu membuat pernyataan bahwa mereka pemilik sah wilayah tersebut, maka Kafir dan fasis AGAM mengusiri dan membunuh kaum pendatang agar menang dalam referendum nanti. Tindakan AGAM ini mirip sekali dengan kelakuan busuk Serbia di Bosnia. Untuk itu, pembentukan milisi untuk mempertahankan diri terhadap keganasan AGAM sangat diperlukan. Sudah cukup dipukuli dan dibunuhi. Saatnya sudah datang untuk membela diri. Memerangi AGAM yang membunuhi muslim lainnya hukumnya adalah wajib. Memerangi AGAM adalah memerangi kebatilan dan kemungkaran. Hanya ada satu jawaban untuk AGAM yaitu perang sabil. Jeffrey Anjasmara ----------------- BELAWAN (Waspada): Komplek penampungan sementara (Transito) Departemen Transmigrasi Sumatera Utara di Medan Labuhan penuh sesak hingga tak mampu menampung ribuan warga transmigrasi asal Aceh . Menurut pantauan Waspada di lokasi transito, Kamis (18/11) melihat warga transmigrasi mengungsi dari Aceh membludak hingga ke kaki lima bangunan. Membludaknya lokasi transito karena warga transmigrasi dari berbagai daerah lokasi trans di Aceh terus berdatangan meminta perlindungan. Kondisi warga transmigrasi terlihat menyedihkan, anak-anak mulai kekurangan gizi karena makanan mereka miliki mulai menipis. Sementara bantuan makanan dari Departemen Transmigrasi sangat minim. Warga transmigrasi kondisinya sangat memprihatinkan adalah warga trans pola PIR menempati areal SP VI di Desa Petee, Aceh Barat. Sesuai program transmigrasi pola PIR, setiap KK diberikan areal bercocok tanam 0,5 hektar. PIR masih dalam pembenahan oleh Inti. Mereka terpaksa meninggalkan lokasi transmigrasi karena keselamatan terancam, bahkan puluhan rumah warga transmigrasi dibakar kelompok tak dikenal. Kondisi di lokasi transmigrasi di Patee menurut warga trans sangat mencekam. Warga Trans menempati bangunan Transito tiba di lokasi tersebut dua bulan lalu . Sementara warga transmigrasi pola PIR tiba di lokasi transito Medan Labuhan Senin (15/11). Jumlah mereka seluruhnya mencapai 40 KK dengan jumlah jiwa sekirat 400 orang lebih. Kondisi mereka sangat memprihatinkan dan hanya mengharapkan makanan dari bantuan pengurus kompleks transmigrasi. Mereka tetap bertahan di lokasi ini menunggu keputusan pemerintah untuk mencarikan lahan transmirasi lainnya, karena mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi kecuali penempatan baru.(m37) ----------- ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
