Semakin dalamnya Pengkajian Ilmuwan tentang
Hutang Peradaban Eropa kepada Dunia Islam
-------------------------------------------------------------
Oleh : Fauzi Lubis dan Nasrullah Idris
Bila peradaban diartikan sebagai hasil pemikiran yang mengkristal, yang
membentuk suatu masyarakat, baik di seberang maupun sekitarnya, kemudian
berkembang dari generasi ke generasi secara berkesinambungan, maka sulitlah
dihitung, berapa besarnya sumbangan dunia Islam terhadap peradaban Eropa.
Para pemikir Islam pada abad pertengahan telah menarik bangsa Eropa dari
panggung kegelapannya, yaitu dengan membangun pemikiran baru, sehingga
muncul titik terang sebagai pembuka cakrawala baru. Melalui penelitian,
pembaruan, dan pengembangan dengan bereferensikan dari sana, bangsa Eropa
berhasil menemukan konsep- konsep monumental, khususnya penunjang
kesejahteraan manusia yang bernilai apresiatif dan global.
Itu ibarat bajak yang menguakkan jalan bagi bangsa Eropa yang sedang
tidur, dengan membangkitkan potensinya yang selama ratusan tahun mati tidak
keruan. Antara lain dengan menyadarkan mereka untuk melihat kenyataan yang
ada dan menyebarkan benih-benih pengetahuan yang sangat sederhana, yang
melalui kurun waktu tertentu menampakkan hasilnya yang berlipat-lipat,
sehingga terbentuklah peradaban yang disegani, sebagaimana nyatanya
sekarang.
Masuklah pemikiran ilmuwan Islam telah memberikan pengaruhnya pada
segi-segi tertentu dalam kerja pemikiran bangsa Eropa, yang gilirannya
mempengaruhi kehidupan masyarakatnya sehari-hari secara estafet. Karenanya,
suka tidak suka, ilmuwan Eropa mana pun dalam karirnya umumnya mengkaji
teori-teori yang dalam sejarah perjalanan perkembangannya bertitik-tolak
dari pemikir Islam yang banyak diilhami oleh kandungan Al-Qur'an. Hanya
bereferensikan surat Al-Alaq (Segumpal Darah) ayat pertama, misalkan, berapa
banyak temuan ibnu Sina tentang kedokteran, yang kemudian dijadikan pedoman
oleh para tabib di Eropa, terutama dalam menangani penyakit yang mewabah.
Sayangnya kenyataan itu ditenggelamkan. Dengan keangkuhannya, bangsa
Eropa melalui apresiasinya, khususnya pada masa kolonialisme menciptakan
opini keliru tentang siapa yang berjasa atau menemukannya. Beragam literatur
jasa ummat Islam disingkirkan sampai dibakarnya, termasuk yang tidak mungkin
lagi dicetak ulang. Semua ini semata-mata untuk mengerem motivasi ummat
Islam yang terjajah, agar jangan sampai terjadi gejolak untuk mengulanginya.
Diperkuat lagi dengan kemampuannya memanipulasi kalimat, mereka rendahkan
ummat Islam sebagai masyarakat yang mustahil bisa menumbangkannya sampai
kapan pun. Hampir tidak adanya ilmuwan muslim meraih hadiah Nobel pun
dijadikan alat untuk menganggap dirinya sebagai bangsa kelas satu.
Ummat Islam memang sudah sering merasa terganggu oleh cara pandang
seperti itu yang berlangsung sejak munculnya sistim kolonialisme di
Asia-Afrika. Akibatnya serius : cukup banyak sekarang persepsi bernada
pesimis di kalangan ummat Islam. Celakanya lagi, masih banyak dari ummat
Islam yang terheran sampai ragu bila dikatakan sumbangsih Islam tersebut.
Seakan mereka mengidentikkan apa yang dinamakan fisika, kimia, dan biologi
itu dengan budaya barat. Bisa kita buktikan, bukan ?
Padahal peradaban bangsa Eropa itu tidak berdiri sendiri. Bukti sejarah
pun ada bahwa peradabannya jauh lebih kemudian dibandingkan bangsa timur.
Hanya saja ketika mereka memegang supremasiinternasional, semua akar dari
timur, khususnya dunia Islam, dicoba ditiadakan melalui sarana media massa
dan pendidikan.
Memang bangsa barat selama ini melalui berbagai bentuk propaganda,
sering menganggap peradabannya berlatar belakang kemandirian yang murni. Ini
diperkuat oleh kenyataan munculnya seribu satu ilmuwan dari sana yang memang
telah mengubah peradaban dunia dan pemikiran manusia. Maka tidak heranlah
bila timbul godaan pada segelintir dari mereka untuk menganggap bangsanya
sebagai manusia pilihan serta berhak berkuasa di atas semua bangsa lain.
Dengan gencarnya apresiasi terselubung itulah, terbentuklah opini yang
akhirnya mendorong munculnya tradisi kolonialisme.
Padahal sebuah bangsa yang beradab akan berpandangan : setiap bangsa
harus menjunjung tinggi bangsa lain berdasarkan persamaan derajat. Ini
dengan kesadaran, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga
untuk mencapai sumber daya manusia yang maksimal, diperlukan kerjasama yang
menguntungkan. Bila sebuah bangsa sudah merendahkan bangsa lain, justru
identitasnya sebagai manusia patut untuk diragukan. Karena perilaku semacam
itu tidak pantas dilakukan oleh manusia yang beradab. adanya tragedi Bosnia,
Zionisme, Apartheid, dan NAZI dalam abad ini, yang semuanya berarsitekkan
bangsa kulit putih, bisa dijadikan contoh, bagaimana sebuah bangsa
merendahkan bangsa lain.
Sampai sekarang masalah peradaban barat, efek maupun dinamikanya,
semakin merangsang para ilmuwan untuk mengkaji perjalanannya secara evolusi,
yang gilirannya telah memberikannilai historisitas di seluruh dunia.
Pasalnya, apa yang dinamakan peradaban barat melalui serangkaian penelitian
seksama ternyata telah dinodai dengan beragam bentuk manipulasi intelektual.
Sehingga jatidirinya yang sering digembar- gemborkannya selama ini tidak
bisa lagi dipertanggungjawabkan. Sementara semakin banyak ilmuwan, termasuk
yang berasal dari Eropa, yang merasa nuraninya dituntut untuk terus mencari
kebenaran tersebut. Mereka merasa terpanggil untuk membongkar misteri yang
terkandung di dalamnya, agar ummat manusia benar- benar disuguhi produk
sejarah dengan kronologis yang objektif. Yaitu melalui pengamatan ilmiah
secara aktif, kritis, dan kreatif, tanpa ditunggangi pendekatan etnis,
politis, maupun sentimen sedikit pun, sesuai dengan tuntutan sportivitas
akademis. Hasilnya pun sudah banyak berupa buku yang isinya mengandung
koreksian terhadap sejarah peradaban, serta diterjemahkan ke berbagai
bahasa. Untuk edisi Indonesia pun sudah bermunculan, meskipun dirasakan
belum cukup. (FAUZI LUBIS, alumnus arsitektur di Technische
Universiteit dan NASRULLAH IDRIS, bidang studi : Reformasi Sains Matematika
Teknologi)