dead air - a broadcasting term for silence, perhaps resulting
from a dead mike (inoperative microphone) .... taken from
Webster's New Words: Dictionary of Media & Communication.
Istilah lama dari jaman perang dunia kedua ini masih menjadi "momok"
para pemilik radio atau TV station. Selain karena peralatan yang
malfunction, dead air juga bisa disebabkan oleh 'human factor',
misalnya penyiar yang ketiduran di depan mike, tiba-tiba kena
stroke, atau sekedar tidak menyimak schedule. Apapun penyebabnya,
'dead air' menyiratkan adanya 'somethng wrong', sesuatu yang tidak
beres.
Membaca posting-posting lama, saya temukan pertanyaan dari tetangga
saya, E R Juni, yang waktu itu belum sempat terjawab (1/16/2000):
|btw mas moko, sebagai sesepuh di sini, dulu biasanya seperti apa
|sih diskusi di milis permias ini? mungkin mas moko bisa kasih
|arahan supaya teman2 yang ada di sini tidak bisa melanjutkan provokasi
|nonsense-nya karena sudah ketahuan belangnya ... dan bisa menyadarkan
|yang lain2 supaya tidak mudah terpancing ... dulu2 bagaimana sih ?
Kata yang pertama muncul di kepala adalah 'dead air' --for the lack
of a better term-- ketika saya mencoba memberi deskripsi situasi
mailing list ini ... a state of silence, especially caused by the
absence of *intelligent* postings.
List Permias ini masih bertumbuh, jadi bisa dimengerti kalau masih
jauh dari kematangan, tetapi tidak seharusnya mailinglist seperti
ini mengalami degenerasi sampai level 'dead air'. List ini punya
potensi besar untuk menjadi satu komunitas yang intelligent.
Pertama, jumlah mahasiswa Indonesia di AS cukup banyak, sehingga
cepat tercapainya 'critical mass'. Kedua, dari namanya perMiAS,
majoritas anggota list ini sedikit banyak telah terekspose pada
sistim pendidikan yang baik, pada tatacara masyarakat yang sudah
mapan dan beradab. Jadi bahan dasar untuk posting yang berbobot itu
sudah ada (sesuai dengan interest, keahlian, formal training
masing-masing). Tatacara diskusi yang baik, penggunaan alur logika
dan argument yang 'cogent' juga bukan barang baru lagi -- banyak
buku yang bisa dijadikan acuan kalau memang masih belum memahaminya.
"Sesepuh" mungkin bukan kata yang tepat, karena ukuran senioritas
dalam mailinglist sukar diterapkan ... people come and go. Dari segi
produktivitas [menulis] pun saya juga tidak masuk hitungan, karena
saya memang lebih sibuk dengan list lain. Kalau ukuran produktivitas
dipakai, lae Irwan Ariston boleh ditaruh di tangga paling atas).
Banyaknya tulisan pun tidak selalu bisa menjadi ukuran, karena
kualitas *isi* tulisan lah yang seharusnya menjadi tolok ukur
kecerdasan.
Meskipun tidak terlalu aktif, saya memang mengamati list ini sejak
pertama dibentuk (sebagai forum komunikasi pengurus Permias). Sejak
dulu, jaman email belum dikenal di tanah air, saya sudah mulai
mengamati mailinglist (in fact, I make a study of watching them, to
understand what makes them tick). Sangat menarik menyaksikan adanya
"parallel" antara sebuah mailing list dan komunitas dari mana para
anggotanya berasal. Bisa dibilang, mailinglist merupakan
'mikrokosmos' dari sebuah entitas yang lebih besar, yaitu masyarakat
atau bangsa.
Jadi sesungguhnya tidak usah heran (atau sakit hati) kalau ada yang
mengatakan bahwa mailinglist ini isinya "sampah" (yup, saya dengar
sendiri ketika pak Dubes mengatakan ini di sebuah pertemuan lokal).
I can't agree more. Bahkan beberapa bulan belakangan ini sampahnya
mulai mengeluarkan bau busuk yang menyengat, seperti uap busuk yang
keluar dari timbunan sampah Bantar Gebang.
Manusia memang punya tendensi menyampah, tetapi pengelolaan sampah
yang baik membuat sebuah kota tetap asri dan nyaman ditinggali
(Madison is one of them :-) Kalau kita terima nasib, membiarkan
"parallelism" diatas bekerja, maka list ini ya seperti miniatur
Indonesia saat ini, chaotic, provokasi merajalela, bakar sana bakar
sini ... seakan pikiran sehat sudah punah.
Dalam dunia informasi atau elektronik dikenal istilah
'signal-to-noise ratio' (S/N), yang dipakai sebagai ukuran kualitas
trnasmisi atau broadcast. Istilah yang sama sering dipakai dalam
menilai kualitas mailing list, dimana "signal" adalah posting yang
bermutu, punya 'content value', yang berguna buat publik, dan
sisanya adalah 'noise' alias sampah itu tadi. "Noise" ini sendiri
ditimbulkan dari berbagai sebab, karena 'ignorance' seperti misalnya
penyebaran surat berantai (virus, urban legend, etc), kemalasan
pikir (fenomena "oneliners"), atau kombinasi keduanya ... i.e. plain
stupidity.
Ada juga "noise" jenis lain, noise yang sengaja dibuat oleh para
provokator, mereka yang hidup dari mempertajam konflik,
warmongering, menebarkan uap jahat rahwana. Ini paralel dengan badai
provokasi yang ramai mengobok-obok tanah air belakangan ini, apakah
itu dilakukan 'oknum' tersamar, figur publik, ataupun media massa.
Pertanyaannya adalah apakah list Permias ini 'pasrah bongok',
menyerah begitu saja dipakai sebagai ajang provokasi. Provokator ini
biasanya sangat 'cheap', seperti virus atau parasit yang hidup dari
menumpang diatas resource orang lain.
Mailing list adalah komunitas kecil, dan seperti halnya dalam
komunitas riil, orang masih memerlukan aturan-aturan dan pihak
(individu, lembaga pengelola, pemerintah,) yang tugasnya 'make sure'
bahwa aturan tersebut ditaati. Bagaimanapun, ini adalah komunitas
manusia, species yang masih rentan terhadap uap jahat rahwana --
seperti ditulis oleh James Madison, "If men were angels, no
government would be necessary." Dan dalam mailinglist seperti
Permias list ini, "government" yang dimaksud adalah para
pengurusnya.
Kualitas isi (content) memang sangat ditentukan oleh 'constituent'
(anggota mailinglist) tetapi pengurus list juga punya andil besar,
dalam artian sebagai fasilitator, yang menyediakan dan menjamin
keamanan supaya orang dapat berdiskusi dan melakukan exchange
informasi secara civil. Tugas pengurus ini termasuk misalnya,
mengurus adminstrasi keanggotaan, memelihara server (if applicable),
memberitahu aggota yang melenceng dari aturan dan tujuan list --
kalau perlu mendepak pantat mereka yang sengaja mengacau atau tidak
tahu aturan. Pengurus bisa saja ikut dalam diskusi, atau mengarahkan
jalannya diskusi, tetapi tidak melarang atau membatasi ekspresi
seseorang atau suatu topik. Saya bisa lebih lanjut tentang ini kalau
ada yang berminat (para pengurus atau yang ingin jadi pengurus).
Ada satu hal yang ingin saya tambahkan ... sehubungan dengan issue
'jati diri' yang sempat dibicarakan pada posting yang lalu. Satu
ciri esensial dari sebuah komunitas yang sehat adalah "trust" --
yang sering diwujudkan dengan konsep "everybody knows everybody"
(ini masih terjadi dalam komunitas kecil, di desa, kampung, company
kecil). Dalam dunia virtual, konsep ini mau tidak mau harus sedikit
dimodifikasi.
Banyak yang berpendapat perlunya anggota mencatumkan nama lengkap,
alamat, organisasi, bahkan kadang mengharuskan orang mengisi semacam
"intruction form". Ini tidak jelek, tetapi harus diingat bahwa
semuanya itu superficial, seperti pakaian luar saja, tidak ada
jaminan bahwa informasi itu benar atau merupakan representasi yang
baik. Siapa yang bisa dan punya waktu untuk verifikasi satu per
satu. Di lain pihak, isi tulisan --terutama buat mereka yang secara
'regular' menulis--lebih mencerminkan 'the real self', lebih
mewakili pribadi, cara pikir, maupun 'ulterior motive' dari si
penulis.
Jadi pokok masalahnya bukan apakah buntut emailnya itu .edu, .com,
net, org ... itu hanya menunjukkan klasifikasi organisasi yang
empunya server, dan klasifikasi inpun tidak terlalu strict diikuti.
Penggunaan alamat 'gratisan' seperti yahoo.com, hotmail.com juga
tidak selalu harus dicurigai sebagai 'midnight dumping' (sorry guys,
I can't help but ... but we're talking about "garbage", aren't we?).
Sebaliknya, tulisan yang berasal dari alamat pakai .edu juga tidak
selalu mencerminkan kualitas tulis yang bisa diharapkan dari lembaga
pendidikan tinggi.
Idealnya memang kalau saling tahu siapa lawan bicara kita --ini
bagian dari *trust* dalam sebuah komunitas-- tetapi ada kalanya
anonimitas diperlukan, terutama dalam sebuah tatanan masyarakat yang
represif, otoriter. Anonimitas merupakan "peluang" bagi munculnya
ekspresi (yang mungkin saja bermanfaat bagi kepentingan umum) dari
mereka yang kuatir akan 'hukuman' karena menyatakan ekpresi
tersebut. Dilain pihak selalu ada sisi lain, selalu ada pihak yang
menyalahgunakan (abuse) peluang ini untuk halk-hal yang negatif atau
destruktif. Dan mailinglist ini tidak menjadi perkecualian.
Sangat menarik memperhatikan bagaimana, di mailing list ini,
seseorang bisa berlindung dibalik anonimitas (tepatnya dibalik nama
samaran), dan kemudian sifat postingnya berubah drastis menjadi
abusive, beringas, kasar, mengancam ... pokoknya "keluar aslinya."
After all, you are what you write! Gaya bicara/tulis seperti ini
tidak akan dilakukannya dalam keadaan 'normal', seandainya dia masih
memakai identitas diri yang sebenarnya. Para pembaca setia list ini
mungkin masih teringat "kata-kata mutiara" berikut:
"saya bersedia menjadi jagal untuk membelah batok kepala"
"minum darah es setrup alias SS"
"Si 'Picek' CW [yang] rasist, separatis, atheis"
"hukum mati semua anggota dewan gereja di Maluku"
"Biarkan pasukan jihad masuk ke Maluku"
"Mardhika itu ... ngaku-ngaku muslim dan non-chinese ya"
"si yahudi Alwi Shihab ...
"kiai [AS] kok mau membiarkan potensi maraknya pelacuran"
"mending orang cina diusirin saja dari Indonesia"
"Kelompok kafir AGAM"
"gerakan Islam tetapi berisi ajaran komunis dan atheis"
"Gus Dur alias Mr. Wa-Hyde memang benar-benar buta dan bebal"
"santri [Tebu Ireng] mesti nyingkir ke kebon binatang"
"[NM] sya angkat sebagai ratu bullshit se-AS"
Sepintas kedengaran seperti omongan orang, yang tidak terlalu pintar,
tetapi harus diakui sangat berani. Tetapi keberanian tanpa kuatir
akan resiko --karena menganggap tidak ada yang tahu identitas yang
sebenarnya-- itu sesungguhnya justru menunjukkan sifat kepengecutan
dan kekerdilan. Tidak ada yang patut dibanggakan dari perilaku rendah
seperti ini.
So, it's up to you guys. The list is NOT dead yet. It's up you to
contribute the best of your thought, to give the best of yourself.
It's up to the admin (pengurus) to maintain a healthy environment
for discussion and information exchange. Don't let the list ends up
in "the blond leading the blonds" (seorang temen keluar dengan
plesetan "the blo'on leading the blo'ons :-). It's your list, it is
your community. Only YOU, together, can change it for the better.
"The voice of intelligence ... is drowned out by the roar of
fear. It is ignored by the voice of desire. It is contradicted
by the voice of shame. It is biased by hate and extinguished by
anger. Most of all it is silenced by ignorance." -- Menninger.
Have a nice weekened,
Moko/
PS: Karena ada relevansi, tulisan ini saya cc ke IDS list, yang boleh
dibilang masih "saudara tua" Permias list ini.