At 10:43 AM 2/7/2000, Ramadhan Pohan wrote:

|Saya tidak berpihak kepada Jeffrey dan menentang Moko. Kedua manusia ini sama
|derajatnya di mata saya. Tetapi saya paling menentang ketika orang diberangus
|karena idenya. Apa bedanya Anda dengan Soeharto dan Orba-- larang ini-itu.
|Sudah masanya kita camkan: Dilarang Melarang.

I believe you're barking the wrong tree. Pohan! Siapa yang melarang
ini-itu? Ada baiknya tulisan saya dibaca kembali (mungkin profesi
wartawan itu terlalu banyak menulis, jadi agak kurang membaca :-).
Saya justru mengajurkan pengurus untuk tidak melarang atau membatasi
ekspresi. Perhatikan cuplikan dari tulisan saya, ketika saya
menjabarkan fungsi pengurus list:

 >... pengurus list juga punya andil besar,
 >dalam artian sebagai fasilitator, yang menyediakan dan menjamin
 >keamanan supaya orang dapat berdiskusi dan melakukan exchange
 >informasi secara civil. Tugas pengurus ini termasuk misalnya,
 >mengurus adminstrasi keanggotaan, memelihara server (if applicable),
 >memberitahu aggota yang melenceng dari aturan dan tujuan list --
 >kalau perlu mendepak pantat mereka yang sengaja mengacau atau tidak
 >tahu aturan. Pengurus bisa saja ikut dalam diskusi, atau mengarahkan
 >jalannya diskusi, tetapi tidak melarang atau membatasi ekspresi
 >seseorang atau suatu topik.************************************

Yang saya tentang adalah 'unruly behavior' (a willful disregard for
the rights of others) seperti yang ditunjukkan secara konsisten oleh
"Jeffery Anjasmara." Permias list adalah 'forum diskusi'--meskipun
tidak secara explisit telah mengumumkan aturannya-- dimana tatacara
diskusi yang umum masih berlaku, kesantunan diskusi harus tetap
dipakai. Dalam forum diskusi yang santun, ungkapan seperti "Habisi
Nahar rasis keparat...!" dan baris-baris yang saya kutip kemarin
tidak punya tempat. Kebebasan individu untuk berpendapat yang
dilindungi itu itu tidak termasuk perilaku yang "disregard for the
rights of others", hak orang lain untuk melakukan diskusi yang santun
di forum ini.

|Dubes bilang milis ini sampah, itu jelas omongan tidak terhormat. Dia telah
|menghinakan dirinya sendiri, dengan menggunakan kalimat-kalimat dan gaya
|kekuasaan yang seperti itu. Kenapa dia tidak ikut kirim posting, sebaliknya
|menyampaikan lewat jalur "jubir".  Persis Orba!  Apa yang  dimauinya? Posting
|Permias ini kan bersifat independen.

That's Dubes' opinion! He's entitled to his own opinion, just like
everyone else. Kenapa yang ini tidak boleh. Kenapa Pohan "melarang"
ekspresi Dubes? Anda boleh punya opini lain, bahkan yang diametrikal
sekalipun dari pendapat Dubes. Opini Dubes ini --walau mungkin susah
"ditelan" oleh beberapa individu -- dinyatakan dengan cara yang
santun, bukan caci-maki, ejekan, ancaman. Shouldn't you be more
concerned with those of Jeffrey's?

|Yang saya bela adalah mereka yang tertindas. Saya prihatin, terutama terhadap
|kampanye penindasan Ide. Walau belum seperti di Uni Soviet pasca Revolusi
|Bolshevik 1917 pimpinan Lenin, mereka memulainya dengan tembakan. Dor!!!

Nah menurut Pohan, siapakah yang "tertindas" itu? Sebelum membuat
paralel dengan yang lebih besar, ada baiknya disimak dan dipahami
dulu "masalah lokal" nya. Dengan begitu problem yang sesungguhnya
tidak terkaburkan.


Moko/

Kirim email ke