Dipaste dari Jawa Pos Online Ketika Intelektual Ramai-Ramai Masuk Istana (2-Habis) Sempat Ditawari untuk Dibelikan Sepatu Selain Mohamad Sobary, masih ada intelektual asal UI yang masuk istana. Dia adalah Faisal Basri MA. Ahli ekonomi yang juga salah satu ketua PAN ini dirangkul Gus Dur karena track record-nya cukup baik. Faisal bisa diterima di lingkungan istana meski dia tak berasal dari lingkaran Gus Dur.------------- Laporan Bahari, Jakarta SEDERHANA, itulah ciri khas Faisal H. Basri. Memakai sepatu sandal dan memanggul tas ransel hitam di pundak adalah gaya keseharian bapak dua putra itu. Mau tahu, apa saja isi ransel Faisal? Mulai bahan seminar, buku harian, rokok, sikat gigi, hingga gunting kuku. Bahkan, senter pun kadang diselipkan di tas kebanggaannya itu. Satu lagi, asap rokok nyaris tak pernah berhenti mengepul dari celah-celah bibirnya. Kesahajaan pria kelahiran Bandung, 6 November 1959, ini tetap saja dipertahankan meski dalam acara resmi sekalipun. Misalnya, saat bertemu dengan pengurus Bank Dunia, Faisal tetap memakai seragam kebesarannya, sepatu sandal dan ransel. Sebagai staf pengajar FE UI, gaya dan penampilan Faisal yang sederhana itu amat digandrungi mahasiswanya. Apalagi, wajahnya yang khas dengan rambut tipis itu kerap nongol di televisi. Aneka gagasan dan kritik tajam terus meluncur dari bibirnya, terutama saat B.J. Habibie memegang kekuasaan. Sampai-sampai Faisal harus berurusan dengan Polda Metro Jaya karena tuduhan menghina presiden. Tapi, Faisal hanya dimintai keterangan, tidak sampai ditahan karena bukti melakukan penghinaan tidak kuat. Konon, pemeriksaan Faisal Basri oleh polda atas permintaan A.A. Baramuli yang saat itu menjabat ketua DPA. Kesederhanaan penampilan Faisal sedikit banyak merupakan pengaruh dari tokoh idolanya sekaligus seniornya, yakni Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang sekarang dipercaya menjadi Dubes Indonesia untuk Amerika. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos tanpa tedheng aling-aling, kritis, dan berisi dalam menyikapi berbagai masalah ekonomi menarik respek mahasiswa. Tak hanya itu. Pola tingkah Faisal pun banyak ditiru mahasiswa. Seperti, penampilan khasnya; memakai sepatu sandal dan memanggul tas ransel hitam di pundak. Faisalmania di kalangan mahasiswa sempat membuat keki pemimpin UI. Faisal pun dipanggil pemimpin fakultas dan ditawari untuk dibelikan sepatu. Tapi, Faisal menolak secara halus dan tetap tak berubah hingga kini. Kiprah politik Faisal Basri dimulai saat bergabung di Majelis Amanat Rakyat Indonesia (MARI) bersama Goenawan Mohamad, Amien Rais, dan Sandra Hamid menjelang kejatuhan Soeharto. Tujuannya, menyiapkan beberapa konsep politik untuk menekan pemerintahan Soeharto. Tapi, setelah Soeharto jatuh, MARI justru pecah menjadi dua. Ada yang menginginkan hanya sebatas moral, tapi ada yang menghendaki menjadi partai politik. Kemudian, mereka yang setuju menjadikan MARI sebagai partai politik pun menyiapkan langkah secara serius. Mulai menata visi, program partai, misi, dan arah perjuangan. Tapi, dalam proses pembentukan partai itu, Faisal tidak bisa aktif karena harus bertugas ke Jerman. Keputusan Faisal menerjuni politik dilatarbelakangi kelelahannya dalam mengkritik pemerintah. Berbagai kritik, saran, dan pertimbangan masalah ekonomi sudah disuarakan kepada pemerintah secara gamblang. Tapi, tidak satu pun yang ditanggapi. Faisal pun lelah dan memilih masuk parpol untuk menyalurkan ide, kritik, dan gagasan kepada pemerintah. Faisal melihat parpol cukup efektif dalam menekan pemerintah. Karena itulah, Faisal bergabung dengan PAN dan dipercaya menjadi Sekjen. Namun, perhatian Faisal terhadap politik sudah terlihat saat dia menjabat ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, UI. Meski kesehariannya lebih banyak berkutat dalam masalah ekonomi, Faisal tidak menafikan masalah politik. Itu bisa dilihat dari kegigihannya membuka mata kuliah Ekonomi Politik bersama seniornya, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Tujuannya, agar mahasiswa ekonomi tidak kerdil dan paham soal politik. Sebab, faktanya, masalah ekonomi tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik yang ada. Tapi, dalam perjalanannya, duet Faisal Basri-Amien Rais kurang bisa berjalan beriringan. Akhirnya, peran Faisal sebagai Sekjen di PAN kurang maksimal. Pria yang mengambil master di Vanderbilt University, Amerika Serikat, itu lebih banyak jalan sendiri. Kabarnya, keretakan hubungan Faisal-Amien dipicu pihak tertentu dalam kelompok PAN yang ingin menjauhkan mereka. Tapi, banyak pula yang menilai bahwa kerenggangan Faisal-Amien dipicu oleh sikap Faisal sendiri. Faisal menganggap dirinya bukan bawahan Amien sehingga gagasan dan ide Amien tidak harus didukung kalau memang tidak cocok dengan dirinya. Saat warga PAN menjagokan Amien Rais sebagai presiden, justru Faisal Basri pesimistis karena perolehan suara PAN dalam pemilu hanya sekitar 7 persen. Faisal justru cenderung mendukung calon PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai presiden saat itu. Begitu juga saat PAN dan kelompok partai Islam menggulirkan gagasan kaukus poros tengah untuk mengegolkan KH Abdurrahman Wahid sebagai capres, Faisal Basri justru adhem ayem. Bahkan, Faisal sering berkumpul dengan para Sekjen parpol lain, seperti, Muhaimin Iskandar (PKB), Sutradara Ginting (PKP), dan Harjanto Taslam (wakil Sekjen PDI-P) di kedai Tempo, Utan Kayu, sibuk membahas dukungan kepada Megawati. Meski demikian, (saat itu) warga PAN masih bisa menerima keberadaan Faisal Basri sebagai Sekjen PAN. Tapi, dalam Kongres PAN di Yogyakarta, warga PAN sudah gerah untuk ''menghabisi'' Faisal Basri dari Sekjen karena dinilai sudah tidak cocok dengan Amien Rais. Perseteruan terbuka pun tak terelakkan antara Faisal Basri dan A.M. Fatwa. Fatwa menginginkan ada penambahan iman takwa (imtak) dalam asas partai. Tapi, kelompok Faisal menentang habis-habisan, bahkan mengancam hengkang dari PAN jika imtak dipaksakan masuk asas partai. Dalam situasi seperti itulah, pengurus DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menaruh simpati pada Faisal. Bahkan, PKB secara terbuka siap menerima Faisal jika keluar dari PAN. Alasannya, tenaga dan pemikiran Faisal diperlukan PKB. Inilah kelebihan warga PAN. Mereka dapat menyelesaikan perbedaan pendapat di intern warganya dengan happy ending. Faisal memang digeser menjadi ketua, sedangkan imtak tidak masuk dalam asas partai. Ini berarti, PAN tetap menjadi partai terbuka atau inklusif. Keputusan ini dinilai tepat dalam mengakomodasikan semua pihak hingga PAN terhindar dari perpecahan serius. Faisal sendiri juga menerima posisinya yang baru sebagai ketua dengan jiwa besar. Pihak yang menginginkan Faisal digeser pun terpenuhi. Faisal sendiri -meski dipinang PKB- tetap memilih bertahan di PAN. Itu sebagai bukti bahwa Faisal bukan kader kutu loncat. Kabarnya, PAN tidak keberatan Faisal ditarik ke istana menjadi deputi bidang pemerintahan, satu tingkat di bawah sekretaris negara yang merangkap sekretaris pengendalian pemerintahan. (bahari/habis).
