M. Siregar:
Terima kasih atas balasan anda yang sangat menarik ini. Alasan anda memang
beralasan bahwa separatisme sendiri bukan hal baru, namun saya kurang setuju
mengenai perbandingan antara kondisi US dan Indonesia.
Kondisi US sejak merdeka sampai sekarang terus terang relatif lebih stabil
daripada
Indonesia baik dalam situasi maupun kondisinya. Alasan Perang Saudara dimulai
di US tahun 1860-an lebih banyak ke arah state's right VS federal system yang
ikut terpacu oleh kontroversi slavery. Tapi waktu itu pun, pemerintah
federal cukup
kuat, stabil, dan daerah utara US memiliki kekayaan industri jauh lebih
besar daripada
selatan, sehingga untuk perang jangka panjang, Utara pasti menang. Sedangkan
Selatan banyak tergantung oleh kecakapan jendral (Robert Lee) dan industri
pertaniannya, yang hanya memiliki pasar di Eropa. Selain itu, rakyat Utara
benar-
benar mendukung pemerintah US waktu itu. Karena itu, resiko perang saudara
pun diambil Utara ketika mereka mengumumkan perubahan-perubahan drastis
dibawah Presiden Lincoln. Namun, kalau anda pelajari sejarah US dari merdeka
sampai 1860-an, sebetulnya US sendiri tetap menjalankan sistem kompromi.
Baru setelah Perang Saudara selesai, dimana oposisi benar-benar dilumpuhkan,
US mengadakan amendemen yang kontroversial kepada UUDnya. Namun sejak
itu, tak ada lagi amendemen yang kontroversial. Gun control bill sendiri sampai
sekarang masih 'dipendam' di kongress karena masih terlalu kontroversial.
Bagaimana kondisi Indonesia sekarang? Pemerintahnya masih kurang stabil.
Ingat, pemerintahan sekarang merupakan kompromi dari PDI-P, PKB, PAN,
dan PPP. Selain itu, let's face it: kredibilitas pemerintah dan militer sudah
sangat rendah. Tahun 1950-an di tengah separatisme, pemerintah Indonesia
masih bisa berbicara lantang karena ada Bung Karno (let's face it: charisma
counts!) dan militer Indonesia belum separah sekarang reputasinya. Lagipula
kita baru merdeka. Orang-orang masih ingat keburukan masa Belanda-Jepang
dan mereka masih mau memberi time kepada republik muda kita. Tapi sekarang
ini 'waktu' bukan sesuatu yang banyak kita miliki.
Sulit untuk melakukan 'decisive' action seperti pemerintah federal US tahun
1860
berhubung alasan saya diatas dan juga negara kita masih diambang kebangkrutan.
Sekarang saja resources kita sudah 'streched out' sampai maximum. Kemarin
M. Arya berbaik hati mengirimkan editorial Republika yang banyak sekali
kelemahannya, tapi ada satu yang saya setuju: kita masih bergantung kepada
IMF, karena memang kondisi ekonomi kita baru keluar dari ICU. Jika kita mau
ditambahi kerusuhan baru yang sekarang, kita bisa kembali lagi ke ICU.
Belum lagi tekanan internasional. Waktu 1860-an, US bisa dengan seenaknya
menyerbu selatan karena norma internasional waktu itu memperbolehkannya.
Tapi kalau sekarang? Entar Australia, 'teman sejati kita,' akan masuk lagi.
Jadi menurut saya, memang kita harus bersyukur bahwa negara kita yang
sudah dihantam kiri kanan atas belakang dalam luar, masih bisa selamat
dan hanya perlu diamputasi satu propinsi. Tapi seperti kata orang-orang sini:
'don't push your luck.' Jika waktu Suharto jatuh, jatuhnya dengan 'BANG' dan
terjadi revolusi total, mungkin saya akan berpendapat lain; yakni langsung
saja rombak semuanya karena memang sudah 'kepalang basah.' Namun
kita masih beruntung karena Orde Baru jatuh dengan 'whimper' sehingga
kita masih bisa memperbaiki situasi secara pelan tanpa menghancurkan
negara. US had all the time its need during her crisis, but unfortunately we
have none.
Terus terang, saya sangat setuju dengan anda bahwa kelihatannya
reformasi sudah mulai 'pudar' dan perlu di 'jump-start,' tapi tetap ada
limitasinya sampai mana kita bisa men-jump-start mesin kita.
Senang berdiskusi dengan anda. Saya tunggu balasan selanjutnya.
Salam,
Yohanes Sulaiman
P.S: Jika anda memperhatikan sekolah-sekolah di Indonesia, kebanyakan guru-
guru PMP dan pendidikan tata krama memaksa murid-murid untuk MENGHAPAL
Pancasila, P4, dan UUD'45 bukan mengimplementasikannya..... :-)
At 10:09 PM 3/16/00 -0500, you wrote:
>Bung Yohanes,
>
>Terima kasih juga atas balasan e-mail anda. Saya menghargai kekhawatiran
>anda yang
>memang beralasan, namun kurang sepakat logika berpikir yang melandasinya.
>
>Kondisi politik di AS dapat stabil justru karena mereka berjuang untuk itu.
>Perjuangan itu dilakukan dengan segala macam pengorbanan, termasuk perang
>saudara
>(the mother of all secessionist movement). Dengan segala macam trial and error
>action itulah mereka dapat memperoleh stabilitas, demokrasi dan kesejahteraan,
>bukan sebaliknya mereka memperoleh ketiga hal itu dulu baru melakukan
>berbagai hal
>saat ini seperti membahas gun control bill.
>
>Persoalan separatisme di Indonesia bukan persoalan baru. Silakan anda buka
>buku
>sejarah nasional Indonesia sejak 1945. Segala macam bentuk separatisme dari
>kelompok yg paling kanan sampai paling kiri, kedaerahan, kesukuan, you
>name it.
>Namun semua itu tidak berhasil memecah Indonesia, at least up to now (kecuali
>Timtim yg memang punya latar belakang lain...anyway, this is for another
>story).
>Oleh karena itu, instead of merasa bhw situasi sekarang di Indonesia mendekati
>doomsday scenario, saya justru beranggapan bhw bukti Indonesia masih utuh
>sampai
>sekarang adalah suatu miracle dan berkah yang harus kita manfaatkan secara
>optimal.
>
>Tidak ada sebuah negara lainpun yg akan tetap dapat berdiri utuh apabila
>menghadapi
>kesulitan politik, ekonomi, sosial, keamanan, separatisme, kerusuhan SARA dsb
>seperti yg dihadapi Indonesia dua tahun terakhir ini. Uni Soviet hancur,
>Yugoslavia
>hancur, bahkan Amerika-pun pasti akan hancur kalau menghadapi semua
>kesulitan itu
>sekaligus. Namun keutuhan Indonesia sampai saat ini tentu saja tidak dapat
>kita
>terima dengan take for granted, kita harus mempertahankannya dengan
>sekuat-kuatnya.
>Berbagai perbaikan dan langkah reformasi lainnya (yg menurut berbagai kalangan
>sudah pudar bahkan punah) harus ditingkatkan. Untuk itulah kita perbaiki
>bagian
>yang sudah tidak relevan dalam UUD 1945. This is my logic of thinking.
>
>Salam
>Mahendra
>
>P.S.: UUD 1945 dan semua perundang-undangan lainnya adalah untuk
>diimplementasikan
>bukan dihapal.